
Meski baru mengenal Alya, melihat contoh manusia pantang menyerah darinya, manusia yang memahami bagian terpenting dari hidup, kepergiannya, setidaknya membuat Nada benar-benar kehilangan. Tak mudah memang melepaskan kepergian orang-orang baik. Tak mudah memang mendapati kenyataan seperti itu.
Dulu, seseorang pernah bertanya. Kenapa orang-orang baik sering dipanggil diluan? Bahkan terkadang mereka pergi tanpa sempat berpamitan. Atau kenapa dia yang mempunyai hak dari seluruh semesta tidak membiarkan mereka hidup lebih lama? Mungkin, jawabannya cuma satu. Takdir. Yang setelah itu memberikan kita pelajaran tentang bagaimana caranya ikhlas. Menerima. Mendoakan. Dan gapapa.
Bukan cuma Alya. Diluar sana, banyak orang-orang baik yang bernasib seperti itu. Yang mempunyai tugas sebagai contoh manusia pantang menyerah. Yang berjuang untuk hidupnya, dan memberikan pelajaran paling berkesan untuk banyak orang. Jika ada sesuatu yang pantas disematkan untuk mereka, untuk Alya dan orang-orang baik itu, mungkin kalimat yang tepat hanya, terima kasih.
Setengah jam berlalu. Setelah kabar duka itu tersampaikan. Nada sampai dirumah. Jeje mengantarnya pulang. Ia beralasan tidak enak badan. Padahal bukan raganya, melainkan hati. Tadi sebelum pulang, Nada sempat membicarakan beberapa hal pada Banda. Tentang penyerahan hak La vie en rose sepenuhnya pada Banda. Yang mana Nada mengangkat Banda sebagai pemilik tunggal dari La vie en rose. Banda sempat menolaknya. Tapi Nada bilang, itu sudah menjadi keputusannya. Banda mengedikkan bahunya walau bingung kenapa tiba-tiba Nada mempunyai keputusan seperti itu. Banda tidak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan itu. Nada juga berpesan, La vie en rose jangan dirubah. Biarkan seperti itu sampai kapanpun. Biarlah cafe Jazz menjadi identitas bagi La vie en rose. Karena Jazz dan La vie en rose sudah seperti lebah dan bunga. Sekali lagi, Banda mengedikkan bahunya. Mengangguk. Tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Suara kendaraan terdengar. Nada menghentikan langkah kakinya di halaman rumah. Menoleh. Itu Bunyi. Telat setengah jam. Ingkar janji.
Nada membalikkan badan seutuhnya. Melihat Bunyi yang berdiam diri di depan pagar rumah, vespa itu pun masih menyala. Nada tersenyum. Mengartikan senyumannya sebagai kalimat yang tak terucap. Telat waktu, Nan. Nada melangkah perlahan menghampiri Bunyi.
Tapi, ada yang berbeda. Bunyi tak berkata apa-apa. Wajahnya murung. Tersenyum pun cuma sebentar. Senyumannya kecut. Ini bukan Bunyi. Bahkan saat memberikan helm pada Nada, Bunyi enggan berbicara sepatah kata pun. Apalagi meminta maaf karena sudah telat waktu. Enggak. Ini memang bukan Bunyi.
Langit mendung walau sempat cerah beberapa saat. Sore beranjak lirih. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Jakarta mulai memasuki musim penghujan meski belum pas pada bulannya. Dan jika hujan ingin turun sekali lagi pada malam, maka biarlah turun. Biarlah menyapu kepedihan. Membersihkan sisa-sisa kesakitan dari mereka yang ditinggalkan.
__ADS_1
Vespa mengarah ke selatan.
Bunyi sama sekali belum mengatakan apapun. Nada bingung. Enggan memulai atau menanyakan tentang itu. Ia berpikir sejenak. Di antara hembusan angin yang mencoba membantu menjawab hal itu. Jika ada penjelasan yang paling masuk akal atas perubahan Bunyi, mungkin itu tentang kepergian Alya. Ya, Mungkin saja. Karena dari raut wajah Bunyi pun, sangat jelas kalau murung itu tentang kepergian seseorang.
Alya adalah salah satu anak panti asuhan milik Bu Mira yang sangat di sayang oleh Bunyi. Katanya, semua orang itu spesial. Tapi, Alya mempunyai spesialnya tersendiri. Bukan seperti martabak, bukan pula tentang fisik, melainkan jiwa dan hati yang besar. Bunyi juga bilang, di usia Alya yang terbilang masih anak-anak, tak banyak yang bisa seperti Alya. Menerima dan mengerti kondisi yang dialaminya. Penyakit mematikan. Keluarga yang entah berada di mana. Bahkan orang dewasa pun belum tentu bisa menerima dan mengerti jika harus berada di kondisi Alya. Bunyi benar. Alya memang spesial.
Nada tersenyum. Jika itu benar tentang kepergian Alya, maka Biarlah. Biarlah Bunyi mencoba merelakan kepergian itu di hatinya. Bagi setiap orang, merelakan kepergian adalah hal yang teramat sulit untuk dilakukan. Mungkin itu sedang dilakulan oleh Bunyi. Merelakan kepergian Alya untuk selama-lamanya. Biarkan. Biarkan Bunyi merasakan itu sendiri. Bukan berarti Nada tidak peduli. Ia tidak ingin ikut campur. Karena setiap orang juga berhak merasakan, merelakan sesuatu sendiri. Jangan diganggu. Cukup tau saja. Cukup mengerti saja.
__ADS_1
Nada tersenyum. Melihat langit yang mulai mengusir mendung darinya. Cahaya matahari mulai redup. Ini sudah senja. Menyapa. Lihatlah. Cantik sekali. Benar-benar jingga. Sebentar lagi malam akan datang. Bulan akan menjalankan tugasnya malam ini. Nada tersenyum kecil. Sekali lagi. Seketika memeluk Bunyi. Tak sadar. Refleks. "Matahari itu tenggelam, Nan." Ucapnya dalam hati. Bunyi tersenyum.