
Arena bermain yang menggembirakan. Banyak macamnya. Suara teriakan bahagia memekakkan telinga. Lampu sorot semakin tinggi menyentuh langit. Kerlap-kerlip warna-warninya pun magis. Menarik perhatian. Jika tadi diluar Nada sama sekali tidak terlalu bersemangat, setelah masuk ke dalam dan melihat seluruh isi dari pasar malam, Nada berubah. Wajahnya berbinar. Bersemangat.
Bunyi tertawa. Meraih tangan Nada,"Hati-hati, Lea." Nada hampir saja terajtuh saat mencoba naik wahana roller coaster--Naga terbang atau apalah namanya. Bajunya tersangkut di salah satu pengait pegangan kereta langit itu. Beberapa saat ia tersipu malu. Tapi itu tak menyurutkan semangat yang menggebu-gebu. Sesekali juga mereka saling tatap. Melihat ekspresi satu sama lain. Bercanda. Pasar malam memang selalu menjadi tempat yang menggembirakan. Seluruh kebahagiaan tertumpah di sini.
__ADS_1
Membeli satu porsi pisang goreng coklat, menikmatinya dengan satu gelas americano panas bagi dua, Nada dan Bunyi menatap lamat-lamat seluruh bagian pasar malam. Melihat banyak orangtua bercanda dengan anaknya. Melihat banyak pasangan bermesraan seakan dunia milik berdua. Bunyi tertawa. Tak jauh dari mereka ternyata ada satu pasangan yang sedang gaduh. Entahlah. Tapi sepertinya si perempuan tidak mau diajak naik salah satu wahana. Karena sejak tadi, si laki-laki mencoba membujuk untuk ikut tapi si perempuan tak acuh. Malah memilih pergi meninggalkan pasangannya. Nada ikut tertawa. Ya, setidaknya Jeje dan una tidak di sini.
Karena kalau Jeje dan Una ada di sini, mungkin pasangan tadi menjadi topik pembicaraan dua peri centil itu. "Gara-gara Skincare mungkin, Na. Atau uang belanjanya kurang." Setidaknya begitulah contoh tanggapan dua peri centil--sahabatnya Nada yang sudah pasti ditujukan untuk pasangan tadi.
__ADS_1
Pisang goreng habis. Mereka melanjutkan mencoba wahana-wahana yang lain. Seperti memanah kaleng susu untuk mendapatkan satu boneka beruang cantik. Bunyi gagal berulang-ulang kali. Tapi Nada, mungkin diantara semua wahana yang ada di pasar malam, memanah satu kaleng susu tak terlalu sulit baginya. Dua kali mencoba, kaleng susu itu jatuh. Boneka beruang cantik berhasil didapatkan. Nada melirik Bunyi sembari memamerkan boneka beruang yang sekarang sudah berada dipelukannya. Meledek Bunyi dengan ekspresi wajah. Bunyi diam, mengusap rambut. Tak habis pikir.
Terakhir, perjalanan pasar malam sampai di pertunjukan sirkus. Di tempat ini, tak ada yang malu karena hampir terjatuh. Tak ada yang marah karena wajahnya diledek mirip berang-berang. Dan tak ada yang tampak bangga karena telah mendapatkan satu boneka beruang cantik. Setelah masuk, duduk untuk menyaksikan pertunjukan sirkus, Nada malah tertidur. Pulas. Memeluk boneka beruangnya. Dan bersandar pada Bunyi. Mungkin ia lelah. Bunyi melirik Nada. Tersenyum. Membiarkan tuan putri itu tidur. Lalu menyaksikan pertunjukan sirkus sendiri.
__ADS_1
Beberapa jam berlalu. Pukul sembilan malam. Bunyi perlahan membangunkan Nada. Sudah saatnya untuk pulang. Sudah saatnya menyudahi kebahagiaan malam ini. Mereka meninggalkan tempat pertunjukan sirkus, melangkah keluar pasar malam yang sekarang tampak mulai sepi. Banyak pengunjung yang beranjak pulang juga. Sekali lagi Bunyi tersenyum. Nada naik, duduk di atas vespa lalu tertidur lagi di pundak Bunyi. Boneka beruang berada di sela-sela mereka. Vespa menyala. Lalu perlahan pergi meninggalkan pasar malam. Pergi menyudahi kebahagiaan di Jakarta Land. Dengan satu boneka beruang cantik yang di bawa pulang. Dan tuan putri yang tertidur pulas. Jakarta, terima kasih telah menjadi kota kasih sayang. Terima kasih untuk malam ini.