Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#49 [Bab. matahari itu tenggelam, nan]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Regan O'leary - Darfur]


Bahu seorang perempuan yang pergi dengan membawa sebatang coklat ditangannya, perlahan hilang dari pandangan Bunyi. Perempuan yang mungkin sedang merasa bahagia karena ternyata, Bunyi menyusulnya ke sini.


Tapi, meskipun kebahagiaan itu ada di dalam diri Nada, tetap saja di dalam hatinya masih tersimpan perasaan ragu, khawatir, dan perasaan buruk yang lain tentang kepulangannya. Serta tentang bagaimana akhirnya ia bertemu lagi dengan Ibu kandungnya. Bu Ann. Yang sejak setahun lalu ditinggalkan jauh di belakang olehnya.


Dan Jakarta, kota ini memang menyimpan banyak sekali memori. Sesuatu yang terkadang menjadikan manusia menjadi lemah. Tak berdaya. Yang terkadang juga memaksa manusia untuk berbohong. Rela berkata baik-baik saja, padahal sedang berantakan. Remuk. Tidak mudah memang.


Dan untuk kata pulang, siapapun pasti berharap kata itu akan menjadi sesuatu yang indah. Kembali untuk bahagia lagi. Atau sebagai alasan sebuah pertemuan untuk rindu agar terbalaskan. Semua manusia memang akan berharap seperti itu jika mereka dihadapkan dengan kata pulang. Tapi, tidak untuk Nada. Kepulangannya ini sama sekali tidak menjadi alasan untuk kebahagiaan apapun.

__ADS_1


Karena Jakarta, mungkin sudah terlanjur menciptakan memori kenangan buruk yang sampai kapanpun akan selalu dikenang olehnya. Yang sampai kapanpun akan selalu menjadi alasan kenapa air mata itu jatuh.


Baginya, mungkin Jakarta seperti labirin keputusasaan. Anggap saja Nada sudah berhasil menemukan jalan keluarnya setahun lalu. Diambang pintu. Tapi dipaksa berbalik, kembali melangkah ke dalam labirin lagi karena ada sesuatu yang belum selesai. Atau mungkin juga ada sesuatu yang masih tertinggal. Tapi yang jelas, apapun itu, memang harus segera diselesaikan.


"Maaf, Mbak. Saya terlambat." ujar seseorang yang turun dari dalam mobil.


"Pak Tono kan memang gak pernah tepat waktu." celetuk Jeje.


"Siap, Mbak." jawab Pak Tono.

__ADS_1


Langit mendung. Hujan mungkin akan segera turun. Di area parkir bandara, satu mobil yang menjemput Nada dan yang lain sudah datang. Una sudah duduk di dalam mobil. Sementara Jeje, Naira, dan Pak Tono tampak memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Tapi di sisi lain, Nada masih berdiri dan sedang mencari-cari sesuatu. Sorot matanya bergantian melihat ke arah kanan dan kiri. Memperhatikan sekitar. Ia juga beberapa kali melihat handphone yang ia pegang dan coklat yang berada di tangan satunya.


Iya, benar. Nada, mencari Bunyi. Laki-laki itu menghilang. Entahla. Tapi sejak terakhir bertemu di dalam bandara beberapa saat yang lalu, sekarang Nada sama sekali tidak melihat Bunyi lagi. Dimana laki-laki itu?


Nan, kamu memang aneh. Ucap Nada dalam hati.


"Nad, ayo." Naira menghampiri Nada setelah selesai memasukkan barang ke dalam mobil.


Nada menghentikan perhatiannya pada sekitar. Ia melihat Naira. Mengangguk pelan. Lalu melangkah masuk ke dalam mobil yang beberapa saat setelah itu pergi meninggalkan area parkir bandara. Mengantarkan salah satu nyawa untuk kembali pulang.

__ADS_1


Pulang ke tempat yang setahun lalu sudah ditinggalkan, dan dicoba untuk dilupakan. Ya, begitulah hidup. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Kita dipaksa mengerti dan menjalani tanpa pernah tau apa alasannya. Tapi yang jelas, segala sesuatu yang terjadi memang sepatutnya terjadi. Walau di beberapa kesempatan, sesuatu yang terjadi itu sama sekali tidak pernah kita harapkan sebelumnya.


Ya, karena, semesta punya caranya sendiri. Dan manusia, tidak ditugaskan untuk menebak-nebak alur kehidupannya. Laiknya perahu yang terombang-ambing di samudera luas, selain cuma menjalani, untuk hidup, terkadang manusia memang harus berpasrah diri. Percaya, kalau segala sesuatu yang terjadi memang punya alasan baiknya masing-masing.


__ADS_2