Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#68 [Bab. jakarta land dan si putis]


__ADS_3

Walau di banyak kesempatan ia mencoba untuk menutupi perasaan itu, tetap saja tak ada bunga mekar yang berpaling dari cahaya matahari. Meski banyak sekali pertimbangan, seperti waktu yang terlalu cepat untuk perasaan yang semakin lama semakin besar. Atau bahkan ia juga tak tau apakah orang yang ia cintai juga memiliki perasaan yang sama. Karena Nada tak pandai membaca hati. Bahkan membaca gerak tubuh. Ya, yang ia tau cuma gestur menyebalkan dari laki-laki itu. Dan beberapa kalimat sederhana. Rangkaian kata-kata yang sangat menenangkan. Bunyi sangat ahli di bidang itu. Ya, dia memang ahlinya.


Tapi tetap saja menyebalkan. Nada tertawa tipis.


Jika kembali sebentar ke belakang, tepatnya setahun lalu, sebenarnya ada orang yang mungkin lebih menyebalkan dari Bunyi. Atau lebih tepatnya ketus. Orang yang super cuek. Tapi di beberapa kesempatan, boleh jadi menjadi yang paling perhatian. Ya, orang itu adalah Cikal.


Dulu saat pertama kali melihat dan bertemu dengan Cikal, pipi Nada juga memerah. Salah tingkah. Bahkan jantungnya berdetak tak biasa. Nada juga berpikir kalau itu cinta. Barangkali Cikal berhasil membuatnya jatuh cinta. Apalagi dengan perhatian-perhatian tak terduga yang dilakukan Cikal. Seperti saat Nada sakit dan terpaksa absen latihan organ tiga hari.


Saat itu, Nada pergi latihan dengan kondisi badan meriang. Ia terkena flu sampai-sampai suhu badannya naik. Tapi meskipun begitu, Nada tetap memaksa pergi latihan karena sehari tanpa Jazz, baginya akan lebih buruk dari penyakit apapun. Ya, keras kepala.

__ADS_1


Lalu, saat sampai dan mulai latihan seperti biasa, Cikal datang mengahampiri Nada, membawa satu mangkuk sup asparagus, yang setelah itu diberikannya pada Nada. Hal itu tentu membuat Nada bingung. Bukankah salah satu persyaratan agar diterima menjadi muridnya, tidak boleh memakan sup itu? Cikal kan sanhat membenci sup itu. Ya, begitulah pertanyaan di kepala Nada. Tapi sebelum pertanyaan itu terucap, Cikal memegang bahu Nada, lalu berkata, "Istirahat dulu. Jangan dipaksa. Badanmu gak sanggup kalau harus nurutin semangat yang ada di dalam hatimu." Nada terdiam mendengar itu. Semuanya campur aduk. Itulah satu perhatian dari Cikal yang tak pernah ditebak oleh Nada. Satu hal yang membuat ia berpikir kalau perasaan yang ia rasakan pada Cikal adalah cinta.


Tapi, sepertinya itu salah. Karena apa yang ia rasakan pada Cikal sangat berbeda jauh dengan apa yang ia rasakan pada Bunyi. Mungkin beberapa diantaranya sama. Namun, ibarat arti dari kata suka dan sayang, jelas memiliki arti yang berbeda. Pada Bunyi, ya, semua terangkum menjadi satu kesatuan yang padu. Suka, sayang, lalu cinta.


Nada bangkit dari tempat tidur. Tersenyum. Menghentikan lamunan sebentar tentang cinta yang ada di dalam hati. Ia melangkah ke arah meja yang di atasnya terdapat satu kotak kecil. Mungkin, titipan yang dimaksud Bu Ann adalah kotak itu. Nada tersenyum tipis. Kira-kira, apa isi di dalam kotaknya? Kejutan apa yang dipersiapkan oleh Bunyi? Mengingat, Bunyi adalah laki-laki sukar ditebak dan selalu mengejutkan.


Nada mengeluarkan isi di dalam kotaknya. Sebuah foto dan Walkman yang sangat ia kenal.


Alya. Potret itu adalah foto pertama dan terakhir Nada bersama Alya. Diambil sebelum ia dan Bunyi pulang dari rumah sakit saat mengunjungi gadis kecil itu. Malaikat kecil yang tampak tersenyum walau mungkin saat itu adalah jam-jam terakhirnya di bumi. Ia dan Bunyi merangkul Alya dari arah yang berbeda. Tersenyum ceria. Walaupun, saat sebelum foto itu diambil, peri cantik itu sempat merengut beberapa saat. Merajuk pada Bunyi. Alya meminta Bunyi dan Nada bersamanya mengelilingi halaman rumah sakit. Tapi permintaan itu tidak dikabulkan Bunyi karena gerimis yang tiba-tiba turun. Alya sebal. Tapi tak terlalu lama. Nada ingat ia membawa sesuatu di dalam tas. Gantungan kunci. Nada memberikan Alya gantungan kunci cantik berbentuk kelinci. Tak disangka Alya senang sekali. Tak memperpanjang merengutnya. Ternyata, selain beruang, Alya juga sangat suka pada kelinci. Hewan favoritnya.

__ADS_1


Nada tersenyum lirih. Membuka mata. Mencoba menahan air mata agar tidak tumpah. Ia meletakkan potret itu di dalam kotak. Lalu mengambil barang satunya.


Walkman. Walkman milik Alya. Nada ingat Bunyi pernah bilang kalau itu adalah barang yang paling Alya sayang setelah bonekanya. Walkman yang terakhir juga menjadi saksi perpisahan mereka di rumah sakit. Saksi dari hari indah itu. Malaikat kecil yang tersenyum sepanjang hari.


Nada memejamkan matanya lagi. Basah. Ia tak tahan menahan air mata itu. Alya sangat pantas untuk dikenang.


Peri cantik yang sangat kuat. Memang masih terkenang jelas. Walau cuma sebentar, tapi kehadiran Alya setidaknya membuat Nada belajar banyak hal. Tapi apa maksud Bunyi memberi kedua barang itu?


Nada membuka mata lalu menekan tombol play di Walkman. Menatap jendela, wajah Alya seperti menari di sela-sela gerimis dan lantunan lagu Jazz yang terputar. Tenanglah di sana. Tenanglah di sisinya.

__ADS_1


__ADS_2