Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#33 [Bab. sepasang kerang jingga]


__ADS_3

Senyum itu tertinggal. Guratan bahagia terpampang jelas di wajah seorang perempuan yang tampak senyum-senyum sendiri sekarang. Mekar seperti mawar. Dan elok, cantik laiknya melati tertimpa gerimis.


Setelah membaca tulisan itu, Nada perlahan melangkah masuk ke dalam rumah. Ketiga sahabatnya juga ikut. Nada, membawa buku lima sekawan ditangannya. Terus ia pegang dengan erat.


Untuk seorang perempuan yang lama tidak merasakan detak jantung tak biasa itu, tarikan napas tak beraturan, mungkin, jika dijelaskan dengan alasan apapun, tetap saja tidak ada yang tau jawabannya. Dan hanya bisa menebak-nebak saja.


Tapi Nada merasakannya. Ia memang tidak memperjelas semua itu. Tidak memberitahu siapapun. Atau bahkan dirinya sendiri. Entahlah. Mungkin kalian pikir, masih terlalu awal bagi Nada untuk merasakan itu. Menerima sesuatu yang asing. Sesuatu yang bahkan sebelumnya tidak pernah terlintas di pikirannya barang sejenak. Bahkan Nada sendiri pun tidak menyangka bisa merasakan perasaan yang sekarang menjadi penghuni baru di hatinya. Namun, bukankah cinta memang hadir tanpa alasan? Datang dengan sejuta pertanyaan. Bahkan tekadang hadirnya, tidak harus dijelaskan dengan kalimat berbunga-bunga. Atau kalimat cinta yang paling cinta.


"Girls, sahabat kita kayaknya lagi bergejolak asrama gitu deh hatinya," rayu Jeje.


"Asmara, Je..." timpal Naira.


"Nah, itu maksud gue."


Mereka sampai di ruang tamu. Duduk di sofa. Berdekatan dengan Nada.


"Gimana, Nad? Di ajak kemana aja?"


"Iya. Kita penasaran tau..."

__ADS_1


"Cerita dong."


Desak ketiga peri centil itu bergantian.


Namun yang di desak malah tersenyum tipis. Menatap ketiga sahabatnya itu satu-satu.


"Ke kuburan," ucapnya.


"What? Demi apa?" Jeje kaget.


"Masa sih?" Una juga bingung.


"Iya. Terus makan bakso. Dia ngasih gue ini." Nada menunjukkan buku lima sekawan pada ketiga peri centil.


"Katanya, gue harus baca." tambahnya.


"Tapi gue bingung deh, Nad." ucap Naira.


"Kemarin lo kesel banget sama dia. Terus kenapa tadi kayak mesra banget gitu?" tambahnya.

__ADS_1


Yang disodorkan pertanyaan tentu saja kalut perasaannya. Sedikit kaget dan panik. Nada berusaha untuk menyembunyikan semua rasa itu dari wajah.


"Atau jangan-jangan---" Jeje berdiri, mengagetkan Nada.


"Udah ah. Gue mau ke kamar." Nada memotong kalimat Jeje. Kemudian berdiri. "Tiga peri centil ini pasti belum pada makan, kan? Buruan makan gih. Gue masuk ke kamar ya, bye..." Nada tersenyum. Lalu bergegas pergi meninggalkan ruang tamu.


"Nad..." panggil Jeje. "Yaelah malah pergi." Jeje melihat Naira.


Yang dilihat mengedikkan bahunya.


"Girls, kalau Nada sama Mas Bunyi, berarti gue tetap jomblo dong. Terus... gue sama siapa?" tanya Una tiba-tiba.


Jeje dan Naira saling tatap. Lalu melihat sahabat mereka itu. Bersamaan.


"Au ah...." ucap Jeje dan Naira serentak. Tertawa. Kemudian pergi meninggalkan Una di ruang tamu.


Beralih ke luar, langit mendung. Dan setelah beberapa saat, hujan kembali hadir dengan sangat tiba-tiba. Mengguyur bumi untuk yang ke sekian miliar kali. Tak terhitung berapa banyak air yang telah jatuh. Matahari terpaksa mengungsi di antara awan-awan sendu. Wilayah beethovenstraat kuyub.


Setidaknya, mungkin hujan yang datang akan membawa pergi kenangan-kenangan kelam seorang perempuan. Membersihkan setiap sudut kepiluannya. Membebaskan nyawa dari warna-warna gelap dan air mata. Karena dengan begitu, seseorang bisa leluasa untuk bahagia. Tapi, apakah selamanya kenangan-kenangan kelam itu tidak akan membuahkan kebahagiaan?

__ADS_1


Nada membuka pintu kamarnya. Masuk ke dalam ruang paling nyaman di dalam hidupnya. Menaruh tootbag di atas meja, di samping tumpukan kertas, dan satu buku berwarna abu-abu yang di depannya terdapat tulisan, 'nada kecil dan perjalanan hidupnya'.


__ADS_2