Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#43 [Bab. matahari itu tenggelam, nan]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Erik Satie, Joseph Shabason, Drew Jurecka - Gymnopédie No. 1]


...• • •...


"Nad."


Suara Naira menyambut Nada yang melangkah masuk ke dalam rumah. Sejak tadi dia memang sedang menunggu Nada pulang. Jeje dan Una juga ada. Ketiga sahabatnya Nada langsung berdiri dari sofa dan melangkah ke arah Nada.


Tadi sewaktu berada di rumah sakit, Bu Mira tiba-tiba datang. Bergabung di kamar rawat inap nomor sepuluh. Menjenguk Alya. Lalu, Bu Mira menyuruh Nada dan Bunyi pulang karena saat Bu Mira baru sampai, Alya harus melakukan beberapa terapi untuk penyakitnya.


Pada akhirnya Nada dan Bunyi pun pulang. Karena Nada juga ingat kalau ia punya janji untuk bertemu dengan asisten Cikal hari ini. Yang akan memberikan Nada beberapa penjelasan tentang keberangkatannya ke Banda Neira.


Kalau dihitung dari hari ini, berarti dua hari lagi Nada dijadwalkan akan terbang ke Banda Neira. Membantu Cikal mengurus festival Summer Jazz di sana. Dan tadi, Nada juga belum sempat bilang ke Bunyi soal ini.


Nada menghentikan langkah kakinya. Melihat ketiga sahabatnya yang sekarang berada di hadapannya. Bergantian.


"Kenapa mukanya gitu?" tanya Nada bingung.


Jeje, Naira, dan Una diam. Tak menjawab apa-apa.


"Ohiya, tadi ada yang datang gak? Soalnya gue lupa, ternyata hari ini gue ada janji ketemu sama orang."

__ADS_1


"Ada, Nad." sahut Naira.


"Dia bilang dia asistennya guru lo yang kemaren itu. Terus dia ngasih beberapa lembar kertas sama tiket pesawat. Udah gue taruh di kamar lo." jelas Naira.


Beberapa kertas yang dimaksud oleh Naira mungkin adalah hal-hal yang harus dipelajari Nada tentang festival Summer Jazz. Yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum akhirnya nanti ia mengurus festival itu.


"Terus tadi dia juga nyoba untuk nelpon lo, tapi handphone lo ketinggalan."


"Astaga, pantas aja gue cari dimana-mana gak ada. Gue kira hilang. Ternyata ketinggalan." Nada mengambil handphone itu dari Naira lalu memasukkannya ke dalam tootbag.


"Nad..." ucap Naira ragu.


"Iya Nay kenapa?"


Nada kembali memperhatikan ketiga sahabatnya bergantian. Raut wajah mereka berbeda. Jeje dan Una yang biasanya selalu ceria saja sekarang malah tak berkata apa-apa. Sebenarnya, ada apa? Apa yang sudah terjadi? Nada menatap Naira.


"Apa, Nay?"


"Tadi Mas Bara nelpon juga. Dan... dia bilang,"


Naira memalingkan wajahnya sebentar. Melihat Jeje dan Una bergantian lalu kembali melihat Nada.

__ADS_1


"Pak Tio uda gak ada, Nad..."


Naira menunduk.


Nada diam. Memalingkan wajahnya. Sorot matanya kosong. Hatinya seperti dihantam batu yang keras. Ruang tamu menjadi lengang.


Apa maksud dari semua ini? Semesta, tolong jawab.


Jeje, Naira, dan Una kemudian memeluk Nada. Mereka ikut merasakan itu. Duka. Ada kabar yang tak sanggup untuk diucapkan tapi harus senantiasa dikatakan. Meskipun menyayat hati. Itulah berduka.


Bagi Nada, mungkin Pak Tio adalah orang yang sedikit-banyak telah ikut campur dengan rasa sakit yang ia rasakan dulu. Tapi, Nada juga gak bisa menyalahkan sepihak seperti itu.


Apalagi, sejak kehadiran Pak Tio, Bu Ann bisa sembuh dari sakit hatinya atas kepergian Pak Karso. Mungkin tidak benar-benar sembuh total tapi bisa meredakan sejenak. Dan terlebih lagi, Pak Tio berhasil menjadi tembok kokoh pembatas antara Bu Ann dan kenangan-kenangan pahit itu.


Nada berteriak di dalam hatinya. Ia tau pasti tentang satu hal.


Kepergian Pak Tio ini, dengan kata lain menandakan kembalinya Bu Ann dalam masa-masa kehilangan lagi. Bu Ann pasti sedang kacau sekali sekarang. Meratapi kepergian untuk yang kedua kalinya. Menangis dengan keras untuk yang ke-sekian kalinya.


Nada bingung. Hatinya menjerit. Ingin sekali rasanya memeluk tubuh seorang perempuan yang hatinya sedang hancur sekarang. Bu Ann. Nada ingin sekali berada di samping Ibunya itu. Tapi Nada bimbang.


Untuk pemilik hak dari semua dunia, tolong jawab pertanyaan ini. Kenapa?

__ADS_1


Nada melangkah perlahan memasuki kamar. Meninggalkan ketiga sahabatnya di ruang tamu. Masih dalam bayang-bayang kepergian Pak Tio. Dan dalam bayang-bayang kata pulang atau tidak.


__ADS_2