Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#08 Lily


__ADS_3

...• • •...


Nada, Naira, dan Una kembali melangkah perlahan. Jeje juga kembali bergabung setelah sempat teralihkan bunga Azalea tadi. Mereka memperhatikan setiap bagian cafe. Sesekali Una atau Jeje memberi pujian atas desain dan semua hal yang menjadi bagian dari cafe. Hal-hal kecil seperti tata letak beberapa buku di atas meja kecil, harum semerbak bunga yang tercium di dalam cafe pun tak luput dari perhatian. "Aesthetic." Ucap Jeje takjub. Una mengangguk-angguk. Ditambah lagi alunan musik khas Paris. C'est si bon. Nada tau lagu itu. Salah satu lagu jazz favoritnya. Romantic jazz tepatnya. Tapi entah kenapa suasana cafe masih sepi. Hanya ada empat orang di dalam cafe selain mereka. Dua diantaranya pegawai cafe yang terlihat sedang beres-beres di bar mini sebelah kiri Nada, dan dua pengunjung cafe di sebelah kanan. Sepertinya cafe baru saja buka.


"Ada yang bisa dibantu?" suara seorang perempuan menyapa. Melangkah perlahan, menyambut kedatangan Nada dan yang lain.


Nada menoleh, "Bu Ni...." Ia tersenyum lebar. Melangkah mendekati perempuan itu, memeluknya.


Mungkin Naira, Jeje, dan Una sangat asing dengan perempuan yang tiba-tiba datang menyambut mereka barusan. Tapi, tentu saja Nada mengenali perempuan itu. Perempuan yang sekarang ia peluk erat. Dia Bu Nia, atau Bu Ni. Pemilik cafe Blanche ini. Orang Indonesia kedua yang Nada temui di Paris setelah Cikal.

__ADS_1


"Apa kabar, Nad?" ujar Bu Ni di pelukan hangat mereka. Wajahnya berbinar-binar. Seperti sedang melepas rindu yang lama tertumpuk dalam.


"Baik, buk... Ibuk apa kabar?" Nada bertanya balik seraya tersenyum setelah pelukan itu usai. Bu Ni mengangguk pelan. Kabar baik juga.


"Sangat baik apalagi sekarang kamu ada di sini. Ibuk pikir siapa tadi, ternyata kamu. Udah tiga hari kamu gak pernah ke cafe lagi. Ibuk kira kamu lupa sama Ibuk..." Bu Ni dan Nada tertawa kecil, sebelum akhirnya Bu Ni menoleh. Matanya bergantian menatap Naira, Jeje, dan Una yang sejak tadi memperhatikan.


Naira, Jeje, dan Una maju. Bersalaman dengan Bu Ni. Menyapa lewat senyuman, kemudian memperkenalkan nama mereka masing-masing. Bu Ni tersenyum lebar. Hangat.


"Oh jadi ini peri-peri centil yang sering kamu ceritakan ke Ibuk. Ternyata Ibuk memang gak pernah salah, ya. Tebakan Ibuk selalu benar. Cantik-cantik semuanya." puji Bu Ni. Naira, Jeje, dan Una menatap Nada bersamaan, kemudian tersenyum malu-malu setelah itu.

__ADS_1


"Ini udah sedikit berkurang sih sebenarnya, Buk..." ujar Jeje bercanda. Mereka semuanya tertawa.


"Ayo duduk-duduk. Cafe baru aja buka. Jadi maaf ya kalau masih berantakan..." ucap Bu Ni ramah. Ia lalu melangkah ke arah bar mini. Nada dan ketiga sahabatnya mengangguk. Mereka kemudian melangkah ke sisi kanan cafe. Mereka duduk di sana.


Satu pelayan cafe datang menghampiri mereka setelah itu. Membawa dua buku menu berwarna hitam, elegan. Itu adalah buku menu makanan dan minuman blanche. Pelayan menaruh dua buku menu itu di atas meja. Jeje dan Una langsung meraih keduanya. "Cheese RAI." Jawab pelayan setelah Una bertanya apa makanan terkenal dari cafe ini. Tapi Una malah bingung setelah diberitahu oleh pelayan. Bahkan ia sedikit berdebat dengan Jeje perihal nama makanan terkenal di blanche itu. Karena saat melihat buku menu, gambar cheese RAI mirip sekali dengan makanan khas Indonesia yang sudah sangat akrab kita ketahui. Rendang. Bedanya pada gambar di buku menu itu, tampak ada sedikit taburan keju diatasnya. "Ini tuh rendang, Je." Una masih bersikeras. "Hello... kita di Paris, Na. Bukan di rumah makan nasi padang." ledek Jeje. Nada dan Naira tertawa kecil. Namun perdebatan itu tak bertahan lama. Naira yang mewakilkan semuanya. Ia memesan empat spaghetti, dua moccacino, satu citron presse, serta satu air mineral. Pelayan mengangguk lalu mencatat semua pesanan itu, sebelum akhirnya melangkah pergi.


Sambil menunggu pesanan datang, Nada dan ketiga peri centil kembali melepas rindu. Berpelukan. Sudah tiga tahun memang rindu itu disimpan dalam. Tapi pelukan itu cuma sebentar. Jeje bertanya tentang kepulangan Nada tahun ini ke Jakarta dan sekolah musiknya. Nada mengangguk. Ia memang akan pulang tahun ini. Setelah tiga tahun di Paris, ini adalah tahun terakhirnya. Dan tahun ini, ia sudah menyelesaikan sekolah musiknya dan bisa langsung kembali ke Jakarta dalam waktu dekat. Naira tampak senang. Ia bilang, kedatangan mereka ke Paris juga karena ingin menjemput Nada kembali ke Jakarta. Jeje dan Una mengangguk-angguk setuju.


Tapi obrolan tak sampai disitu. Naira juga bertanya tentang cafe ini. Tentang sejak kapan Nada tau tempat sekeren ini, atau tentang bagaimana Nada bisa kenal dengan Bu Ni. Nada hanya tertawa pelan. Ia ingin bercerita tentang itu sebenarnya. Tapi saat Nada mau cerita, Bu Ni datang. Ikut bergabung. Bu Ni membawa satu piring kue cokelat. Brownies. Jeje dan Una bersorak senang. Rebutan. Tangan mereka langsung bergantian mengambil potongan-potongan brownies itu. Tapi tak hanya kue cokelat. Bu Ni juga membawa sesuatu yang lain. Ia meletakkannya di atas meja. Persis di depan Nada. Kotak kecil berwarna hitam. Dibungkus dengan lipatan pita diatasnya. Sebuah kado.

__ADS_1


__ADS_2