Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#70 [Bab. jakarta land dan si putis]


__ADS_3

Pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang berulang-berulang kali diucapkan Nada. Bunyi menghilang hari itu. Seharian penuh tanpa kabar. Tanpa sepatah kata pun. Dia benar-benar menghilang.


Pukul dua siang.


"Nad, ada yang nelfon." ucap Naira dari ruang tamu.


Hari ini adalah hari keberangkatan itu. Keberangkatan Nada ke Banda Neira. Setelah sebelumnya ditunda akan banyak hal, akhirnya hari ini tiba. Naira, Jeje, dan Una berkumpul di ruang tamu. Membereskan beberapa barang yang akan mereka bawa ke Banda Neira. Ketiga peri centil ini memang yang paling bersemangat kalau sudah berbicara tentang bepergian. Bahkan tadi pagi saat Nada belum menyiapkan apa-apa, mereka sudah datang membawa semua barang-barang mereka. Jeje yang paling banyak bawaannya. Naira juga sempat ngomel karena itu. "Ampun deh, Je. Udah kayak mau pindahan aja, lo." Paling kalau Naira sudah begitu, Jeje hanya diam lalu nyengir.


Keberangkatan mereka bisa dibilang sebagai liburan juga. Ya wajar aja kalau Jeje membawa banyak sekali Baju. Atau Una yang bahkan sampai memikirkan outfit pergi ke pantai, sama outfit pergi belanja. Tapi, kalau ketiga sahabatnya memikirkan tentang Banda Neira sebagai tempat liburan, Nada sama sekali tak berpikir tentang itu.


Saat berada di Amsterdam, Nada pikir Banda Neira akan menjadi tempatnya melupakan semua kenangan-kenangan masa lalu yang suram. Tentang kepergian Pak Karso. Kejadian malam kelabu, dan yang lain. Tapi kini, setelah ia berada di Jakarta, setelah ia berdamai dengan semua keadaan meski belum sepenuhnya, tak ada alasan lagi untuk menjadikan Banda Neira sebagai tempat pelampiasan untuk semua hal itu. Keberangkatannya ke Banda Neira, hanya tentang menghadiri festival Summer Jazz. Hanya tentang itu.


Melihat banyak seniman--musisi Jazz tampil memang menjadi salah satu impiannya. Sebenarnya, impian itu lahir semenjak Pak Karso memperkenalkan musik Jazz padanya. Sebenarnya itu impian Pak Karso juga. Hal ini sulit. Sebab karena itulah, saat setelah Cikal memberitahu tentang festival summer Jazz atau tentang tampil di New Hall pada Nada sewaktu di Amsterdam, hal yang pertama kali dipikirkan Nada adalah Ayahnya. Pak Karso.


Kepergiannya ke Amsterdam pun karena Pak Karso. Dulu, Nada ingat kalau Pak Karso pernah bilang impian terbesarnya adalah tampil di New Hall dan melihat banyak seniman Jazz dunia tampil. Impian yang berulang-ulang kali ditanggalkan. Impian yang akan selalu diingat oleh Nada. Walau yang punya mimpi entah berada dimana, hilang, mungkin selamanya.


Karena hal itulah yang membuat Nada memilih Amsterdam setelah kejadian malam kelabu. Berharap ia akan bertemu kembali dengan Pak Karso. Berharap malam kelabu menjadi jembatan untuk pertemuan mereka. Tapi, semua itu hanya harapan. Beberapa minggu mencoba mencari keberadaan Pak Karso di Amsterdam, Nada sama sekali tak menemukan apapun. Bahkan tentang secuil kabar saja pun tak ada. Harapan hanya tinggal harapan. Pak Karso, sepertinya memang tenggelam ditelan bumi.


"Halo," Nada mengangkat telfon.


"Halo, nak."

__ADS_1


Nomornya tidak dikenal, tapi Nada kenal suara yang menyapanya barusan. Itu, Bu Mira. Itu benar suara Bu Mira. Nada tersenyum setelah memastikan kalau itu memang Bu Mira.


"Ibuk..." ucapnya bersemangat.


"Apa kabarnya cantik?" Bu Mira juga tak kalah bersemangat.


Nada tertawa tipis. "Baik, Buk. Ibuk, apa kabar?"


"Baik juga, cantik." jawab Bu Mira.


"Siapa, Nad?" tanya Jeje ingin tau. Menghentikan laju tangannya memasukkan beberapa baju ke dalam tas.


Melirik Jeje, "Bu Mira." jawab Nada pelan.


Jeje mengangguk.


Melihat Naira dan Una. "Oh... calon Ibu mertua." Jeje tertawa tipis.


Naira dan Una pun ikut tertawa tipis juga.


Nada sama sekali tak menghiraukan ledekan ketiga peri cantil. Ya, walau wajahnya agak sedikit kikuk saat melanjutkan obrolannya dengan Bu Mira. Entahlah. Tapi yang jelas, wajah Nada memang agak sedikit berbeda. Gugup.

__ADS_1


"Karena kamu gak di sini, sekarang Ibu kemana-mana sendiri. Beli bunga, vinyl, semuanya sendirian." ujar Bu Mira.


Nada tersenyum lagi.


Ya. Karena Bu Mira sudah menganggap Nada seperti anak kandungnya sendiri, pun sebaliknya, selama berada di Amsterdam, mereka memang sangat dekat. Selalu pergi berdua. Ditambah lagi, mereka punya banyak kesukaan yang sama. Seperti beli bunga, berkeliling di akhir pekan melihat pakaian klederdracth di selatan Amsterdam, atau mencari biji kopi berkualitas walau pada akhirnya tetap saja di impor dari Indonesia. Tapi, walau mereka mempunyai banyak sekali kesamaan, tetap akan ada bedanya. Contohnya menghias diri. Bu Mira adalah orang yang paling suka pergi ke salon. Bahkan terkadang ia berbelanja beberapa alat kosmetik terbaru. Bu Mira selalu mengajak Nada, tapi yang diajak pasti akan selalu punya banyak cara untuk menolaknya. Susah sekali diajak. Ia takkan pernah mau. Ya, karena, hal lain yang paling tidak disukai Nada selain bau kentut Jeje adalah salon. Dan semua jenisnya. Termasuk semua alat kosmetik. Bahkan pakai lipstik saja kadang geli sendiri. Dan Bu Mira pun sebenarnya mengetahui soal itu. "Iya deh. Gak ke salon juga memang udah cantik, kok." Paling saat Bu Mira bilang gitu, Nada cuma diam. Tersenyum malu.


Mungkin dari semua itulah Nada dan Bu Mira menemukan titik kenyamanan mereka pada satu sama lain. Bisa terbilang singkat, karena waktu setahun terlalu singkat untuk kedekatan yang luar biasa itu. Dan terkadang, untuk seorang anak perempuan, tak mudah memang dekat dengan orang lain apalagi sampai menganggap orang itu seperti Ibu kandungnya sendiri.


Nada tersenyum tipis. Bu Mira mulai membahas hal lain. Seperti bagaimana keadaan Jakarta sekarang, Amsterdam yang mulai masuk musim semi, dan kepergian Alya. Tapi topik pembahasan yang terakhir dari ketiga itu tak terlalu panjang. Bu Mira bilang, semesta sudah rindu pada Alya. Bumi tak boleh egois menahan Alya terlalu lama. Biarlah peri kecil cantik itu bebas terbang di langit paling terang. Nada tersenyum lirih. Mungkin dengan kata lain, Bu Mira sudah merelakan kepergian salah satu anak panti asuhan kesayangannya itu. Tak mudah. Tapi memang harus diikhlaskan. Karena cara hormat paling tinggi untuk kepergian seseorang adalah mengikhlaskan kepergiannya.


Nada mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain. Ia bertanya tentang bunga. Bu Mira bilang, kemarin dia baru membeli bunga. Entah apa namanya, Bu Mira saja susah menyebutkannya. Sesekali juga mereka tertawa. Bu Mira ingat musim semi tahun lalu saat seorang pemuda melamar Nada pada malam perayaan sepuluh tahunnya Blanche. Waktu itu, Nada tak menjawab apa-apa. Ia malah diam dan terlihat bingung. Acara baru mulai lima menit, tapi tiba-tiba ada seorang pemuda naik ke atas panggung lalu melamarnya. Siapa juga yang tidak bingung?


Apalagi, pemuda yang tiba-tiba melamarnya itu ternyata memiliki gangguan mental. Karena setengah jam setelah pesta dimulai, beberapa petugas datang lalu membawa pemuda itu pergi.


Bu Mira tertawa geli di telfon. Dia mengingat betul ekspresi wajah lucu Nada pada saat itu. "Mungkin kalau dia sehat, ceritanya pasti akan beda." Rayu Bu Mira. Tertawa. Bu Mira tau kalau Nada adalah tipikal cewek pemalu. Jarang ngomong sama lawan jenis. Kaku. Apalagi untuk lamaran tiba-tiba. Bu Mira tau kalau Nada bukan tipe cewek seperti itu. Yang gampang menerima siapa saja di dalam hidupnya.


Nada ikut tertawa. Semua yang dibilang Bu Mira benar. Nada memang seperti itu. Kaku. Pemalu. Tapi, Bu Mira tidak tau kalau cewek kaku dan pemalu ini menyimpan rasa pada anaknya. Laki-laki menyebalkan yang biasa aja, tapi entah kenapa mampu membuat Nada jatuh cinta.


Sebenarnya, dari tadi Nada lagi nunggu momen yang pas untuk nanya Bunyi sama Bu Mira. Tapi, kayaknya gak ada momen yang pas untuk itu. Bu Mira juga gak ada membahas Bunyi dari tadi. Ya, sudah lah disimpan saja. Toh, baru sehari juga Bunyi gak ada kabar. Toh, nanti juga dia datang. Kayak biasa. Muncul sesuka hatinya. Karena itu memang ciri khas Bunyi. Lagian juga kan, bukan siapa-siapa. Untuk apa berharap lebih?


"Kalau nanti ke Amsterdam, jangan lupa kabarin Ibuk, Nad." Kalimat penutup dari Bu Mira. Nada mengiyakan. Tersenyum untuk ke-sekian kalinya. Telfon berakhir. Bu Mira menutup telfonnya.

__ADS_1


__ADS_2