
[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Garreth Broke - A Heavy Heart]
Siang penghujung sore berakhir. Tertinggal. Sekarang malam mulai menjemput. Dan hujan yang mengguyur deras sebagai teman terbaik datang. Basah. Turun sampai ke bagian-bagian terkecil dari Amsterdam.
Pukul delapan malam waktu Amsterdam. Satu mobil berhenti. Tepat di depan pintu masuk Bandara Internasional Schiphol. Nada dan yang lain turun. Membawa koper mereka. Kemudian mobil yang membawa mereka pergi perlahan.
Setelah memutuskan untuk pulang, Nada tidak ingin menunda keberangkatannya. Ia memesan tiket terbang ke Jakarta malam ini. Butuh waktu setidaknya kurang lebih lima belas jam perjalanan dari Amsterdam ke Jakarta jika ditempuh dengan jalur udara. Maka, Nada dan yang lain akan sampai di Jakarta besok. Tepatnya pada siang hari.
Nada menghela napas. Perhatiannya tertuju pada sekitar. Ia melihat lamat-lamat ke seluruh penjuru bandar udara internasional itu.
Setahun lalu, tempat ini yang menjadi pintu awalnya. Sebagai gerbang masuk ke rumah yang baru. Tapi sekarang, ia berada di sini lagi. Bukan untuk pergi ke rumah yang baru lagi, melainkan kembali ke rumah yang sebenarnya rumah. Tempat yang ia tinggalkan dulu. Yang ia lupakan juga dan selalu diusahakan untuk tidak diingat barang sejenak. Ditinggalkan jauh dibelakang.
"Na, pegang dulu. Gue mau ke toilet. Kebelet." ucap Jeje tergesa-gesa. Memberi satu pot Azalea pada Una.
"Kebiasaan deh lo, Je..." Sahut Una jutek.
"Panggilan alam." Jeje berlari ke arah dalam bandara.
Nada dan Naira tertawa tipis.
__ADS_1
"Nad," Suara Naira memanggil. Melihat Nada.
Yang dipanggil langsung menoleh. Balik melihat Naira.
"Festival Jazz itu gimana?" tanya Naira.
"Tadi gue uda ngirim pesan ke Mas Cikal, Nay. Gue uda jelasin semuanya. Tapi belum dibalas." jawab Nada.
Naira mengangguk pelan. Menarik pegangan kopernya, "Terus Bunyi?"
Astaga. Nada terdiam.
"Belum, Nay."
"Iya. Takutnya entar dia nyariin loh, Nad." tambah Naira.
Mereka berdua benar. Nada langsung mengambil handphone dari saku celana. Lantas menelepon Bunyi. Beberapa kali tapi nihil jawaban.
Nada menggeleng.
__ADS_1
"Gak aktif." ucapnya.
Naira dan Una saling tatap sebentar.
Lagipula, kenapa Nada sampai lupa memberitahu Bunyi tentang kepergian ini? Ya, walau tidak tau batas waktu perginya lama atau sebentar, tapi ini sangat penting.
Gimana kalau apa yang dibilang Naira benar? Nada memalingkan wajahnya.
Laki-laki itu kenapa gak bisa dihubungi sih? Nan, kamu dimana? Ucapnya dalam hati.
Sejak mereka pulang dari rumah sakit, Bunyi juga sama sekali tidak ada menghubungi Nada walau hanya sekadar bertanya hal-hal konyol yang biasa Bunyi tanyakan. Atau mengganggu Nada seperti apa yang dilakukannya beberapa kali.
Nada berpikir sejenak.
Boleh jadi dia sibuk dengan urusannya. Mengurus panti asuhan punya Bu Mira, atau hal lain. Karena Nada juga belum pernah bertanya pada Bunyi seperti pasangan lain yang bertanya pada pasangannya tentang kerja apa atau kerja dimana.
Tapi, sejak kapan ia mulai berpikir kalau mereka adalah sepasang kekasih? Nada tersipu malu sendiri. Wajahnya merah. Ia melihat Naira dan Una bergantian.
Untung saja pikiran itu tak terucap. Karena, bisa jadi ia diledek oleh Naira dan Una kalau mereka sampai tau tentang itu.
__ADS_1
"Lah, kok masih di sini sih? Girls, lima belas menit lagi pesawat kita take of. Ayo..." jelas Jeje tiba-tiba. Setelah baru saja kembali dari toilet. Dan langsung meraih koper miliknya. Serta satu tangkai Azalea yang dititipkan pada Una tadi.
Nada, Naira, dan Una yang mendengar itu pun tak menunggu lagi. Dan lantas melangkah perlahan masuk ke dalam bandara. Membawa koper mereka masing-masing.