Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#38 [Bab. sepasang kerang jingga]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Lihua Zhao - The Far West]


Melepas helm, melihat sekeliling sebentar, Nada pun akhirnya mengikuti langkah Bunyi.


Kalau di Jakarta, kebanyakan penjual pasti akan bersuara keras agar mendapatkan perhatian dari calon pembeli. Memberitahu dagangannya atau hanya sekadar mengucap kalimat-kalimat rayuan sederhana.


Tapi cara seperti itu sepertinya tidak berlaku di tempat ini. Para penjualnya hanya duduk menunggu. Dan hanya bersuara jika ada yang bertanya perihal apa yang mereka jual. Terkesan sedikit kaku, atau mungkin caranya memang begitu.


Nada sampai. Langkahnya terhenti tepat di depan meja yang di atasnya terdapat banyak sekali bunga. Ia melihat Bunyi sedang memilih-milih beberapa bunga. Tentu Nada kenal dengan bunga-bunga itu. Ia mengetahui berbagai macam nama dan jenisnya. Selain karena suka, Nada juga banyak belajar dari Bu Mira tentang berbagai jenis bunga yang ada. Tapi, saat kembali memperhatikan, ternyata ada salah satu bunga yang sama sekali tidak Nada kenal. Bunga itu, sekarang berada di tangan Bunyi.


Lobivia oganmaru. Jenis kaktus mini yang sangat unik. Tergolong sebagai tanaman hias. Sebagai kaktus mini paling aneh juga dari jenis kaktus mini yang lainnya. Karena, batangnya tidak bulat atau memanjang melainkan pipih. Dan uniknya lagi, di bagian ujung batang yang pipih itu ada bagian lainnya yang berwarna kuning bagaikan jambul.


Nada bingung. Selain karena sebelumnya ia tidak pernah melihat kaktus jenis itu, ia juga bingung kenapa Bunyi memilih bunga itu.


Tanaman hias itu lalu dimasukkan ke dalam satu box kecil oleh penjualnya. Bunyi membeli kaktus itu. Bunyi, kemudian memberi box yang berisikan satu pot kaktus mini itu pada Nada.


Nada menerimanya. Memegang satu box kecil itu, tapi masih saja bingung. Ia manatap box kecil yang ia pegang, lalu bergantian menatap Bunyi.

__ADS_1


"Nan, kenapa beli bunga? Kan, kita mau ke rumah sakit."


"Bunganya mau aku kasih ke perawat rumah sakitnya, Lea."


"Serius?"


"Kok, kamu malah panik gitu? Haha."


Iya. Kenapa Nada malah panik saat Bunyi mengatakan kalau bunga itu untuk perawat yang ada di rumah sakit? Nada memalingkan wajahnya sebentar, lalu kembali menatap Bunyi lagi.


"Ya, gakpapa. Tapi, kenapa yang ini, Nan?"


"Ih, aku nanya serius..."


"Jangan terlalu serius, Lea. Karena nanti kalau udah cinta banget, pas pisah susah move on-nya..."


"Nan...."

__ADS_1


Tetap saja. Pertanyaan seserius apapun, jika ditanyakan sama Bunyi, ya, pasti jawabannya akan seperti itu. Nada tampak sedikit kesal.


Bunyi tertawa. Lalu menatap Nada.


"Karena kaktusnya cantik, kayak kamu. Aku suka." ucapnya.


Bunyi tertawa tipis, sebelum akhirnya melangkah kembali ke arah si biru langit. Meninggalkan Nada yang masih terpaku sembari memegang satu box kecil berisi kaktus mini itu.


Nada masih bingung. Bahkan juga kesal. Tapi ia juga bahagia. Bukankah, perasaan seperti ini merepotkan? Ya, lagipula, kalau itu adalah rayuan atau pujian, siapa juga yang ingin disamakan dengan kaktus? Ada-ada saja.


Membawa Lobivia oganmaru yang ada di dalam box, Nada melangkah menyusul Bunyi.


Ada sekitar seratus dua puluh tiga jenis bunga dan dua belas jenis kaktus di La-diamor ini. Tapi mengapa Bunyi memilih Lobivia oganmaru? Entahla. Dia memang tidak bisa ditebak.


Si biru langit kembali menyala. Nada dan Bunyi kembali duduk di atasnya. Vespa itu akan menuju tempat yang seharusnya.


Rumah sakit. Itulah tujuan mereka. La-diamor hanya persinggahan sementara. Nada dan Bunyi, kemudian meninggalkan wilayah berbunga itu, hilang di bawah cahaya mentari pagi yang masih setia.

__ADS_1


Setidaknya ada sekitar tiga ratus enam puluh sembilan ribu spesies tanaman berbunga di seluruh dunia. Banyak sekali macamnya. Bahkan terkadang dijadikan sebagai lambang dan memiliki arti yang berbeda-beda.


Ada yang menjadi lambang kasmaran. Mencerahkan hati seseorang. Tapi ada juga yang menjadi lambang kehilangan. Hitam pekat yang menyelimuti hati seseorang. Bahkan yang paling tragis, sebagai lambang keikhlasan. Jawaban dari dua hati yang saling mencinta, tapi tidak ditakdirkan untuk bersama.


__ADS_2