
Malam itu berlalu. Keesokan harinya pukul sepuluh pagi, hari tampak cerah. Merpati terbang silih berganti. Menyambut mentari genit yang menari-nari di atas langit. Cahayanya terang benderang. Merambat sampai ke jendela kaca ruang tamu. Meski masih ada sisa-sisa embun di sana. Hujan kembali turun semalam. Awet sampai tadi pagi. Sepertinya acara pembukaan festival musim semi tak berjalan baik semalam.
Nada tertidur di sofa. Ia pulas semalaman di sana. Nada tak jadi pergi ke festival itu. Tidak, bukan karena Bunyi yang datang semalam. Melainkan hujan yang turun sangat deras. Tapi selain itu juga karena Bara.
Semalam, sesaat setelah Bunyi pergi Nada langsung memutuskan ingin segera melihat acara pembukaan festival musim semi itu. Tapi akhirnya ia batal pergi. Bara datang ke rumah sewa. Dia berpamitan pada Nada dan bilang harus pulang malam itu juga ke Jakarta. Bara bilang dokter yang menangani Bu Ann menelpon. Katanya Bu Ann mengalami Respons vasovagal. Depresi yang dialami Bu Ann kambuh. Padahal sebelumnya kondisi Bu Ann baik-baik saja. Entahlah. Entah apa yang terjadi di sana. Dokter itu cuma bilang kondisi Bu Ann seperti itu setelah kembali dari taman. Setelah melihat Bunga. Tentu Nada cemas mendengar itu. Ia juga sempat ingin ikut pulang semalam. Tapi ditolak oleh Bara. Selain karena Bara bilang Nada harus tenang karena semuanya akan baik-baik saja, juga karena Nada memang belum bisa pulang. Ia baru akan bisa pulang dua hari lagi saat pihak sekolah mengirimkannya surel dan memberikan ijazah kelulusannya.
Nada menghela napas. Ia benar-benar cemas semalam. Padahal ia sudah berharap banyak untuk kesembuhan Mamanya. Nada pikir Bu Ann pasti akan segera sembuh. Tapi kabar penyakit Mamanya tiba-tiba kambuh benar-benar membuatnya terpukul. Hal itu juga membuatnya sangat khawatir. Segala kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Namun meskipun begitu, ia terus berusaha yakin kalau Mamanya baik-baik saja. Meskipun terdengar sulit, Nada tetap yakin untuk hal itu.
"Nad, jadi ikut gak?" Naira mencoba membangunkan Nada dari sofa.
Di ruang tamu, tiga peri centil tampak sudah rapi. Mereka siap berangkat. Hari ini mereka akan pergi ke tempat-tempat yang sudah masuk dalam daftar buku Jeje. Pantai, Museum atau ke tempat-tempat lain. Semalam setelah pulang dari acara pembukaan festival musim semi, Jeje dan Una memutuskan untuk mengubah jadwal hari ini. Yang awalnya cuma ada Pantai dan Museum saja, mereka akhirnya menambahkan beberapa tempat lain. Hal itu dilakukan karena hanya tersisa hari ini saja waktu untuk mereka menikmati Paris. Besok mereka sudah harus balik ke Jakarta. Sesuai rencana. Padahal sebelumnya Jeje dan Una bilang ingin menambah satu atau dua hari lagi. Tapi Nada dan Naira menolaknya. Nada bilang ia harus segera pulang. Nada bercerita sedikit tentang kondisi Mamanya semalam. Jeje dan Una mengangguk setuju.
"Kalian aja deh, Nay. Gue dirumah aja. Mau beres-beres." Nada bangkit dari sofa. Naira mengangguk mengerti.
Sebenarnya Nada ingin menghabiskan waktu dengan sahabat-sahabatnya hari ini. Hari terakhirnya di Paris. Kapan lagi mereka bisa berkeliling Paris bersama. Hal itu juga sudah masuk dalam rencana semalam. Tapi Nada harus membereskan beberapa barang. Besok ia sudah harus pergi dari rumah sewa. Lagipula Nada tak bersemangat pergi ke mana-mana hari ini. Ia masih kepikiran kondisi Mamanya. Bara belum ada mengabari apapun. Mungkin Bara belum sampai di Jakarta. Mungkin dia masih di dalam pesawat. Mengingat jarak yang sangat jauh, sebelas ribu kilometer lebih. Butuh waktu enam belas sampai tujuh belas jam waktu penerbangan dari Paris ke Jakarta atau sebaliknya.
Nada dan tiga peri centil melangkah ke arah pintu.
"Padahal kita pengin jalan-jalan sama lo, Nad."
"Iya mumpung waktunya sekarang. Kapan lagi coba kita di Paris sama-sama."
Jeje dan Una masih kelihatan sedikit kecewa karena Nada memutuskan tak ikut pergi bersama mereka. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Nada tetap memutuskan tak akan pergi meski tadi Jeje sempat membujuknya berulang-ulang kali.
"Girls, kalau Nada ikut nanti kita gak bisa wisata kuliner dong." Naira mencoba mencairkan suasana.
Nada tertawa pelan.
"Tapi yakin tetap gak mau ikut, Nad?"
Jeje mencoba membujuk sekali lagi. Tapi percuma. Nada mengangguk yakin. Jeje mengedikkan bahu. Satu menit setelah itu tiga peri centil pergi. Nada melambaikan tangan dari pintu. Menutup pintu setelahnya, lalu melangkah kembali ke ruang tamu.
Nada duduk di sofa. Bersandar. Melihat jendela sebentar sebelum akhirnya membuka laptop di atas meja. Notifikasi surel dari sekolah tertera di sana. Nada membuka surel itu. Sekolah menyetujui kelulusannya. Tertulis dengan bahasa Perancis sangat panjang. Penjelasan ijazahnya juga ada. Serta tanda tangan Cikal yang menjadi guru pembimbingnya. Dengan begini, tak ada lagi yang menghalangi kepulangannya besok. Nada bisa kembali ke Jakarta besok. Tapi jika dipikir-pikir surel itu diluar dari ekspektasinya. Karena yang Nada tau, butuh waktu dua puluh empat jam proses sekolah untuk membalas surel yang ia kirim kemarin sore. Mungkin semua itu karena Cikal. Mengingat, Cikal sudah berjanji akan mempercepat proses kelulusannya.
Nada menutup laptop. Bersandar di sofa lagi. Ia memikirkan Cikal. Nada ingat pagi ini Cikal akan pergi ke Banda Neira. Nada juga ingat belum membalas pesan itu. Tentang festival yang Cikal sampaikan kemarin. Meskipun sekarang yang menjadi prioritasnya adalah pulang ke Jakarta---bertemu dengan Mamanya, sebenarnya kalau boleh jujur Nada ingin pergi ke sana. Ke festival Banda Neira itu. Karena menurutnya festival itu pasti sangat hebat. Apalagi Cikal bilang akan banyak musisi-musisi Jazz dunia yang hadir. Nada memang sudah kepikiran untuk ikut meski ia tidak mau menjadi pengurus seperti yang sudah Cikal janjikan, Nada hanya ingin melihat dan menikmati festival itu saja. Lagipula ia penasaran dengan tempat itu. Banda Neira.
Cikal bilang selain menjadi festival musik yang menghadirkan musisi-musisi terkenal dari mancanegara ataupun dalam negeri, festival Banda Neira itu juga bertujuan sebagai media untuk lebih memperkenalkan Indonesia pada dunia. Tempat destinasi wisatanya, atau yang lainnya. Cikal bilang ini adalah kesempatan bagus. Makanya kemarin dia tampak bersemangat sekali. Laki-laki itu memang hebat. Nada tertawa pelan. Meskipun terlihat tua dan bukan masuk ke dalam tipe laki-laki Nada, tapi Nada cukup mengaguminya. Setidaknya Cikal bukan kriteria laki-laki menyebalkan. Tidak seperti dia.
Ting
Nada menoleh. Melihat ke arah pintu rumah. Suara bel berbunyi. Sepertinya ada tamu. Atau jangan-jangan itu tiga peri centil. Mungkin ada sesuatu yang tertinggal. Nada beranjak dari sofa. Melangkah ke arah pintu.
"Ada yang ketinggalan?"
Nada membuka pintu rumah. Namun ia langsung terdiam setelahnya. Ternyata Nada salah. Ternyata bukan tiga peri centil yang ada di depan pintu. Melainkan Bunyi.
"Sampai tepat waktu. Jika berkenan tolong berikan bintang lima." Bunyi tersenyum pasti. Nada memalingkan wajah.
#########
Nada memalingkan wajahnya sebentar lalu menatap Bunyi. Ia kelihatan bingung dan sedikit penasaran. Untuk yang kedua kalinya Bunyi tiba-tiba ada di depan pintu rumahnya. Apa yang sedang dilakukan laki-laki itu. Apa yang dia inginkan. Atau jangan-jangan ada titipan lagi untuk Nada seperti semalam. Tapi kalau dilihat-lihat, wajahnya mencurigakan.
"Tempat yang bagus untuk melihat langit." Bunyi mengangguk-angguk. Memandang langit sebentar.
"Aku sudah tinggal selama tiga tahun di sini. Tapi untuk pertama kalinya aku menerima tamu pagi hari. Ada yang bisa kubantu?" Nada melipat tangan. Bunyi menatapnya.
"Aku terbiasa mendengarkan siaran radio pagi sebelum melakukan aktifitas. Termasuk tadi. Penyiar bilang hari ini langit Paris cerah. Aku pikir itu sangat bagus. Kita butuh sinar matahari pagi untuk pelepasan hormon serotonin agar kita bisa tenang dan fokus." Bunyi mengangguk pelan. Memandang langit lagi samar-samar.
"Jangan bilang kalau kau melewatkan matahari pagi ini, Lea. Ya beberapa orang mungkin tak peduli hal itu."
Nada melipat dahinya.
"Maksudku, lihatlah. Kerutan-kerutan itu, menyambut tamu tanpa tersenyum, dan menjadi tuan rumah yang buruk dengan membiarkan tamu berdiri lama di depan pintu. Aku pikir mungkin kau belum terkena sinar matahari pagi yang indah ini. Terlebih lagi---"
"Aku baru saja bangun lima menit yang lalu. Dan rasanya masih cukup mengantuk untuk mengerti semua yang kau bicarakan barusan." Nada memotong. Bunyi mengangguk-angguk.
"Kenapa?" Nada bertanya penasaran. Bunyi menaruh satu jari di depan mulutnya, seperti sedang berpikir.
"Tidak. Hanya saja kerutan-kerutan itu bertambah banyak. Jelas terlihat kau sedang tidak sehat atau mungkin kesal. Proses penuaan yang cepat. Sangat disayangkan. Aku pikir mulai besok kau harus mendengarkan siaran radio pagi agar bisa lebih tenang dan fokus, Lea."
Nada menatap Bunyi tajam.
"Cuma sebuah saran." Bunyi tertawa pelan.
Nada melangkah ke arahnya.
"Terima kasih untuk sarannya Tuan Nan. Aku sangat terkesan padamu. Menjadi peneliti cuaca pagi meski lewat radio, mungkin aku akan mempertimbangkan itu. Tapi sekarang aku tidak punya waktu untukmu. Aku sangat sibuk. Kau bisa tinggalkan pesan untukku jika sedang ada perlu dan tak usah repot-repot datang kemari. Karena sekarang aku benar-benar tidak bisa untuk membahas cuaca denganmu. Jadi, bonne journée." Nada tersenyum kecut. Berbalik badan. Melangkah kembali ke pintu.
Jika tadi Bunyi sempat bilang kalau Nada kelihatan sedang kesal, maka mungkin Bunyi benar. Nada memang kesal. Dan itu karenanya. Ayolah. Kerutan, serotonin, penuaan cepat, tentu itu bukan basa-basi yang disukai kebanyakan perempuan. Bahkan sekarang Nada mulai berpikir kalau Bunyi memang menyebalkan dan konyol. Setidaknya ia menerjemahkan persepsi perempuan tentang seorang laki-laki yang dua kali berada di depan pintu rumahnya. Membahas hal-hal aneh. Tanpa memberi tau maksud kedatangannya.
Tapi kalau dipiki-pikir, datang pagi ini menemui Nada lalu membuatnya kesal, untuk laki-laki yang punya niat merapikan bentuk wajah pada salah satu lukisan terkenal di museum Paris, tentu itu bukan tujuannya.
"Sepertinya kau melupakan sesuatu, Lea."
__ADS_1
Nada menghentikan langkahnya.
"Surat itu. Jangan bilang kau tidak membacanya?" Bunyi melangkah mendekati Nada.
Nada berbalik badan. Surat apa.
"Lagi-lagi tebakanku benar. Pasti semua ini sudah berlangsung lama. Tingkat fokus dan tenang yang rendah. Bagaimana bisa kau menerima sesuatu tanpa memeriksa semua bagiannya?" Bunyi menggeleng heran.
Nada terdiam bingung. Memandang Bunyi penasaran. Menelisik maksud sebenarnya. Namun hal itu tak berlangsung lama setelah Nada mulai memikirkan sesuatu. Tentang monstera semalam. Yang dititipkan Bu Ni pada Bunyi untuknya kemarin malam. Tak ada yang aneh dari itu. Nada ingat yang ia terima cuma lima daun monstera. Tak lebih. Tak ada apapun lagi didalamnya. Jadi kenapa Bunyi sekarang membahas surat. Apa maksudnya. Atau mungkin Nada melewatkan sesuatu. Tidak. Cuma lima monstera cantik dengan alas kertas putih di dalam plastik. Atau jangan-jangan, astaga.
Nada memalingkan wajahnya. Lantas masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Bunyi di depan pintu.
Matanya mengerjap-ngerjap.
Nada segera menuju ke ruang tamu. Tepatnya ke arah meja. Tidak. Bukan ke arah monstera yang terletak di atasnya. Melainkan ke arah plastik hitam di sebelahnya. Kemarin malam ia memang menerima bunga itu. Lima tangkai monstera cantik yang dikirim Bu Ni lewat Bunyi. Tapi ternyata Nada melewatkan sesuatu. Nada ingat ada kertas putih yang menjadi alas lima tangkai monstera itu. Mungkin itu adalah hal sama yang coba disampaikan Bunyi padanya. Mungkin kertas itu yang dimaksud Bunyi sebagai sebuah surat tadi.
Nada sampai. Ia langsung meraih plastik hitam itu di sebelah lima tangkai monstera di atas meja. Membukanya perlahan. Mengambil kertas putih di dalamnya. Nada bingung. Ternyata apa yang sempat ia pikirkan tadi benar. Kertas itu bukan semata-mata ditaruh menjadi alas lima tangkai monstera saja. Melainkan sebuah surat. Dan sudah pasti ini adalah surat yang dimaksud oleh Bunyi tadi. Nada membaca isinya perlahan. Tapi sepertinya itu bukan surat biasa. Tidak terlihat seperti surat cinta, ajakan kencan, atau surat-surat sarkas yang dibalut sentuhan-sentuhan politik. Nada memalingkan wajahnya sebentar. Surat itu adalah undangan.
"Kau tau, Lea... Siapa yang peduli sama undangan. Pagi ini seharusnya aku sudah duduk di bangku pesawat menuju Birmingham, menikmati musik klasik dari walkman sampai tertidur pulas dan menunggu pramugari membangunkanku jika perjalanan sudah selesai. Meskipun tak ada kopi untuk kelas ekonomi. Tapi lihat sekarang. Aku membatalkan penerbangan itu. Ada di sini hanya karena Mamaku sendiri memintaku untuk pergi ke sebuah pembukaan panti jompo dengan seseorang yang baru saja kukenal. Terdengar masuk akal untukmu?" Protes Bunyi yang tiba-tiba masuk dan bergabung di ruang tamu. Mengeluh tentang kenapa ia ada di sini. Terlebih tentang isi di dalam surat undangan itu.
Nada memalingkan wajahnya setelah menatap Bunyi sebentar. Laki-laki itu duduk di sofa sekarang. Nada kembali memperhatikan surat undangan yang ia pegang. Menutup matanya sejenak. Mengingat sesuatu. Bunyi benar. Sepersekian detik Nada ingat hari ini adalah pembukaan panti jompo itu. Astaga kenapa aku bisa melupakan banyak hal, pikirnya.
Sekitar enam bulan lalu, Bu Ni mengajak Nada pergi ke sebuah kota di timur laut Perancis. Kota bernama Colmar. Yang berjarak sekitar enam sampai delapan jam dari Paris. Awalnya Bu Ni bilang ingin membeli beberapa bunga bagus di sana. Mengingat Bu Ni memang sering sekali mengajak Nada berkeliling Perancis untuk membeli bunga atau sekadar berkunjung menikmati indahnya Perancis. Tapi setelah tiba di Colmar, ternyata Bu Ni punya maksud lain. Bunga bukan menjadi tujuan utamanya. Di sana, ternyata ia bermaksud bertemu dengan adik kandungnya. Bibi Aeris. Yang merupakan orang terkenal dengan usaha minuman dan beberapa usaha perhotelan di Colmar.
Saat sampai di Colmar, Bibi Aeris menyambut mereka hangat di sebuah rumah. Nada tersenyum pasti. Perempuan ramah. Jika dilihat pun, wajahnya sangat mirip dengan Bu Ni. Dan tentu, tak butuh waktu lama untuk Nada berkenalan dengannya. "Nama yang cantik, Nada. Secantik wajahmu. Dia calon menantu idaman yang kau ceritakan padaku kemarin kan, Nia?" Puji Bibi Aeris. Mengedipkan mata. Nada tersipu malu. Bu Ni tertawa. Setelah berkenalan sebentar, Bibi Aeris lalu sedikit bercerita tentang Colmar pada Nada. Seperti Museum Unterlinden yang menyimpan karya-karya luar biasa dari Picasso dan seniman-seniman hebat lain, rumah dan apertemen bersejarah tanpa ada cerita mistis di dalamnya, sungai yang bersih dan indah, serta cerita negeri dongeng tentang Colmar yang punya desa di dalam kota. Nada menggeleng-geleng takjub. Ternyata masih banyak lagi tempat-tempat indah selain Paris di Perancis.
Setelah itu perbincangan dilanjutkan oleh Bu Ni yang bertanya tentang bisnis minuman dan usaha perhotelan yang merangkak naik nilai marketnya dikarenakan tingkat wisatawan melonjak beberapa bulan terakhir. Colmar memang sudah menjadi salah satu tujuan terdepan destinasi wisata di Perancis. Tapi perbincangan itu tak berlangsung lama sebelum akhirnya Bibi Aeris membuka topik baru tentang itu. Ya, benar. Tentang keinginan Bibi Aeris untuk membangun panti jompo di Paris. Dari sinilah awalnya. Nada spontan terdiam heran. Panti jompo? dua kata yang tak sesuai jika disandingkan dengan Bibi Aeris yang punya profil sebagai perempuan bisnis. Nada juga sempat bertanya tentang itu. Namun Bibi Aeris tak memberitahu alasannya. Ia hanya tertawa. Bibi Aeris bilang itu sudah menjadi salah satu keinginannya sejak kecil. Dan kenapa di Paris? alasannya sederhana. Beliau tak mungkin bisa mengurus panti jompo itu jika berada di Colmar. Apalagi tadi ia sempat menyinggung rencana bulan depan yang akan memperluas bisnis perhotelannya dan mini bar di dekat sungai. Nada mengangguk mengerti. Di sisi lain, Bu Ni langsung mengarah ke inti pembahasan. Obrolan mereka berlanjut ke arah tempat dan segala persiapan pembangunan panti jompo.
Untuk Bu Ni sendiri tentu ia sangat setuju. Dan ternyata rencana itu juga sudah lama mereka perbincangkan. Ternyata hari itu kedatangannya ke Colmar memang bertujuan untuk membahas panti jompo dengan Bibi Aeris. Bu Ni bilang ia yang akan mengurus semuanya. Mulai dari memilih tempat, sampai persiapan acara pembukaannya nanti. Mengangkat dua gelas minuman Kir dan bersulang, mereka pun akhirnya sepakat. Semuanya sesuai rencana setelah itu. Bahkan saat kembali ke Paris, Bu Ni langsung sibuk mencari-cari tempat yang sesuai. Nada ingat Bu Ni pernah memintanya ikut membantu mencari. Bu Ni juga bilang Nada harus membantunya sampai panti jompo itu benar-benar dibuka nanti. Nada tak bisa menolak. Ia berjanji akan membantu. Tapi entah kenapa beberapa bulan kemudian pembahasan itu tak lagi jadi sorotan mereka. Bu Ni tak memberitahu apapun lagi tentang panti jompo itu pada Nada. Sampai akhirnya surat undangan itu ada di tangan Nada sekarang.
Nada menoleh. Melihat Bunyi yang sedang duduk bersandar di sofa sambil menatap mainan bola salju di tangannya.
"Jika bola salju ini bom waktu, mungkin kita sudah mati sejak tadi karena kau terlalu lama berdiri dan diam disitu. Acaranya dimulai lima belas menit lagi. Membuang waktu sia-sia." Bunyi berkata ketus. Ia menaruh bola salju di atas meja lalu berdiri. Nada menatapnya. Bawel.
"Aku tunggu di depan. Lima menit." Bunyi melangkah pergi meninggalkan ruang tamu.
Nada menatap pundak Bunyi yang menghilang dari pintu. Laki-laki itu memang sangat menyebalkan. Nada melihat undangan itu sekali lagi. Membacanya lamat-lamat. Tapi tak lama setelah handphone miliknya berdering. Satu pesan masuk.
Morning Princess. Maaf Ibuk tak sempat menelepon. Ibuk sedang terburu-buru. Kamu masih ingat panti jompo yang kita bicarakan dulu? hari ini peresmiannya. Seharusnya Ibuk yang hadir tapi pagi ini Ibuk harus pergi ke gedung kedutaan Indonesia. Tapi jangan khawatir, kabar baiknya Ibuk sudah minta tolong pada Bunyi untuk menggantikan. Dia yang akan membuka panti jompo itu. Kemarin Ibuk juga sudah mengirimkan kamu undangannya. Itu undangan dari Aeris. Ibuk minta tolong kamu temanin Bunyi, ya. Peluk cium.
Nada memalingkan wajahnya dari layar handphone. Satu pesan masuk dari Bu Ni yang cukup menjelaskan semuanya. Menjelaskan maksud dari surat undangan itu. Nada berpikir sejenak. Memejamkan mata sembari memegang kepala. Berarti hari ini ia memang harus pergi ke acara pembukaan panti jompo itu. Nada tak mungkin mengelak dan menolaknya. Terlebih karena dulu ia sudah berjanji akan membantu sampai panti jompo itu dibuka. Tak ada pilihan lain. Nada menaruh surat undangan itu di atas meja. Menghela napas. Ia melangkah bergegas mengganti baju lalu mengambil tas.
Lima menit kemudian, Nada melangkah ke arah pintu. Melirik Bunyi yang berdiri di luar. Tepat waktu.
Nada berdiam diri. Balas menatap Bunyi datar. Kesal. Tuhan, kalau ada pemilihan orang paling menyebalkan di dunia, maka pemenangnya mungkin adalah dia. Sabar Nada, acara pembukaan itu sebentar. Setelah itu kau akan pulang dan tidak akan melihatnya lagi. Nada menghela napas. Merapikan tas lalu menatap Bunyi lagi.
"Kupikir kau hanya laki-laki cuek, sok tau, dan menyebalkan. Ternyata aku sedikit salah. Kau cukup perhatian dengan seseorang, Nan. Tapi daripada kau sibuk memperhatikan wajahku, kenapa kita tidak langsung pergi saja sekarang." Nada berkata ketus. Wajahnya jelas kesal. Tak ingin berlama-lama lagi.
Bunyi mengangguk setuju. Tersenyum tipis.
Tak lama berselang, mereka melangkah dari depan pintu rumah ke arah satu taksi yang sedang terparkir di pinggir jalan. Satu taksi sudah menunggu. Mungkin Bunyi yang memesan taksi itu. Nada menoleh. Bunyi melangkah ke arahnya lalu membukakan pintu taksi untuknya. Nada masuk lalu duduk bersandar. Matanya melirik Bunyi yang kemudian ikut masuk dari pintu lain, duduk disampingnya. Satu menit setelah itu, taksi pergi.
Di jalan, mereka tak saling bicara. Tak ada topik apapun diantara keduanya. Bunyi sibuk membaca buku tanpa bersuara. Mungkin buku biografi seseorang, ilmu pengetahuan, atau yang lain. Sedangkan Nada, sejak tadi memperhatikan jalan dan handphone sambil mendengarkan beberapa instrumen favoritnya lewat earphone. Saat taksi mulai pergi tadi, Nada sempat memberitahu tentang kepergiannya ini pada ketiga sahabatnya lewat grup whatsapp. "Ya kan semuanya memang gitu, Nad. Awalnya nyebelin, lama-lama jadi ngangenin." balas Jeje di grup itu. Dibawahnya, Una mengirim stiker panda bermata hati. "Jadi lagi ada yang pendekatan nih, girls." saut Naira dengan emotikon hati berbunga-bunga. Tapi selain itu, sesekali ia juga memperhatikan Bunyi dan memikirkan tujuan mereka. Jika di dunia ini ada dua pilihan antara tenggelam di palung mariana atau jatuh hati padanya, maka aku akan memilih yang pertama.
Sepuluh menit berlalu. Taksi menepi di pinggir jalan. Mereka sampai. Nada merapikan tas lalu perlahan turun. Bunyi tersenyum kepada supir taksi sambil mengatakan satu-dua kalimat ucapan terima kasih sebelum akhirnya ikut turun juga. Setelah taksi itu pergi, Nada memperhatikan sekitar. Sepertinya ada yang aneh. Ia menatap bangunan di depannya. Matanya mengerjap-ngerjap. Beberapa bulan yang lalu bahkan sampai saat Nada menerima surat undangan yang ia baca tadi pagi, Bu Ni memang tak memberitahu letak jelas tempat panti jompo itu padanya. Tapi, Nada tau tak akan ada panti jompo yang memakai kalimat Playground for kids sebagai nama di depan gedungnya.
Nada melirik Bunyi tajam. Yang dilirik tampak sedang membeli sesuatu di gerai yang tak jauh dari situ lalu kembali melangkah ke arahnya.
"Satu gelas teh dan pagi yang indah memang menjadi perpaduan yang sangat bagus. Seperti dewi Hera dan langit." Bunyi meminum teh. Melirik Nada, "Kau juga mau, Lea?" Namun Nada tak menjawab. Tak mengindahkan tawaran itu. Ia hanya menatap Bunyi datar.
"Jangan bilang kau tidak suka sama teh, Lea? Holi moly, padahal ini sangat bagus mencegah segala jenis penyakit. Kanker, diabetes, atau mungkin sindrom kaki gelisah." Bunyi menggeleng heran.
Tapi Nada tetap pada posisinya. Tak menerima tawaran itu. Dan masih menatap Bunyi datar sambil melipat tangan. Memainkan kedua alisnya.
"Oke, what?"
"Nothing. Hanya sedang menunggu alasan masuk akal darimu kenapa kita bisa ada di sini dan melupakan tentang ini." Nada mengambil surat undangan itu dari dalam tas, lalu memperlihatkannya pada Bunyi.
"Kita?"
"Ya, kita. Tolong jelaskan kenapa panti jompo bisa punya nama seperti itu." Nada menunjuk papan nama gedung di depan mereka, "Playground for kids?"
"Ohh," Bunyi berpikir sejenak, "Mungkin aku harus menghabiskan minumanku terlebih dahulu." jawabnya polos. Meminum teh itu lagi. Sama sekali tidak menjelaskan apapun.
Nada menatap Bunyi kesal. Sepertinya sekarang kesabarannya sudah mulai habis. Ia mulai gelisah. Nada pikir ia harus pergi sekarang juga. Pagi ini semua waktunya seakan terbuang sia-sia. Tapi sebelum ia benar-benar meluapkan amarahnya pada Bunyi, sebelum Nada benar-benar ingin pergi, tiba-tiba langkah kaki seseorang ikut bergabung.
"Good morning, Sir. Kau datang tepat waktu." Seseorang dengan baju rapi menyambut mereka. Mungkin lebih tepatnya menyambut Bunyi. Tersenyum.
Nada memperhatikan.
Bunyi menatap Nada sebentar sebelum kemudian melihat orang itu.
"Bonjour, Antonio." Ia tersenyum.
__ADS_1
"Silahkan, Tuan."
"Thank you." Bunyi menatap Nada lagi sebelum akhirnya melangkah ke arah pintu masuk gedung bersama orang itu. Orang yang bernama Antonio tadi.
Mereka seketika meninggalkan Nada yang masih terdiam bingung dan masih menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah pagi ini ia seharusnya menemani Bunyi membuka peresmian panti jompo itu. Sesuai dengan surat undangan dan pesan dari Bu Ni. Tapi kenapa ia malah berada di sini. Di gedung bernama Playground for kids yang tidak lain adalah taman kanak-kanak. Terlebih orang tadi, siapa dia? Nada menarik napasnya. Ia tak punya pilihan lain selain ikut masuk juga ke dalam gedung itu. Setidaknya kalau ingin mengetahui jawabannya ia memang harus ikut masuk. Mungkin sesuatu di sana bisa menjelaskan semuanya.
Nada pun melangkah menuju pintu gedung itu lalu masuk ke dalamnya.
Setelah masuk ke dalam gedung, Nada memperhatikan sekitar. Matanya fokus menatap semua yang ada di sana bergantian. Namun ia sama sekali tak melihat Bunyi dan Antonio. Ia hanya melihat dua orang yang sekarang sedang menatapnya dari meja yang ada di samping kananya dan juga beberapa orang berlalu-lalang disekitarnya. Nada berdiam diri. Ia kembali memperhatikan seisi gedung. Menatap setiap detail bangunannya. Gedung ini tak terlihat seperti taman kanak-kanak.
"Pilihan bagus, Lea. Ku kira kau akan diam di sana atau mungkin pulang tadi." Nada spontan kaget. Bunyi datang mengagetkannya. Laki-laki yang bernama Antonio tadi juga ada disamping Bunyi.
"Kau bertanya kenapa kita ada di sini tapi kau malah mengikutiku masuk dan ada di sini bersamaku sekarang. Apakah setiap perempuan akan seperti itu, Antonio?" Bunyi melirik Antonio sambil tertawa. Antonio mengedikkan bahunya. Nada memalingkan wajah.
"Ada beberapa kemungkinan kenapa seseorang tiba-tiba memilih sesuatu yang membuatnya kesal. Tapi, salah satu kemungkinan yang paling masuk akal adalah sebuah jawaban." Bunyi menatap Nada, "Kau mau tau kenapa kita ada di sini, Lea? Maka biarkan aku memberitahumu." Bunyi berbalik melihat Antonio. Setelah itu Antonio melangkah pergi. Bunyi mengikutinya. Begitupun dengan Nada juga.
#####
Nada mulai melangkah lagi. Perlahan ia semakin masuk ke area dalam gedung. Nada masih belum melihat Bunyi dan Antonio. Entah dimana mereka berada. Sekarang malah tampak sunyi. Nada melihat-lihat sekitar dan masih tetap melangkah sebelum akhirnya langkah kakinya terhenti di satu lorong. Nada terdiam membisu. Sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat. Matanya fokus bergantian menatap kiri-kanan. Ternyata tempat ini memang bukan taman kanak-kanak seperti nama di depan gedungnya. Tak ada ayunan, jungkat-jungkit, atau tawa riang yang biasa kita dengar dari anak-anak pada umumnya. Nada menghela napas. Menelisik apa yang sedang ia lihat. Di samping kanan dan kirinya terdapat dua ruangan. Jika dilihat bentuknya, kedua ruangan itu sama. Mirip seperti kamar rawat inap di rumah sakit. Persis sekali. Atau jangan-jangan ini memang rumah sakit. Nada melangkah mendekat ke sisi kanan. Ia mengamati salah satu ruangan itu dari balik dinding kacanya.
Memegang tali tas miliknya, Nada fokus menatap ruangan di depannya. Di dalam sana seorang anak perempuan terbaring tak sadar diri di atas tempat tidur dengan peralatan lengkap medis. Kondisinya buruk. Wajahnya pucat pasih. Kaku. Alat bantu oksigen terpasang di wajahnya. Terlihat juga seseorang yang tepat berada di sebelahnya duduk menundukkan kepala sambil memegang tangan anak itu. Mungkin dia kerabat atau orangtua dari si anak. Nada memalingkan wajah. Sekejab langsung berbalik badan, melihat ke arah satu ruangan yang lain. Ia melangkah perlahan mendekat ke sana. Kembali melihat dari balik dinding kaca. Di sana penampakannya juga sama. Seorang anak perempuan terbaring lesu di atas tempat tidur. Berambut plontos. Namun yang ini sedikit berbeda karena si anak tampak sadar. Wajahnya tersenyum sambil memeluk erat perempuan yang ada bersamanya. Bahkan dia sempat melihat ke arah Nada. Tangannya melambai meski tampak lemas. Nada balas tersenyum. Meskipun di kepalanya sekarang terlintas banyak sekali pertanyaan mungkin. Seperti, tempat apa ini sebenarnya tuhan.
Nada menghela napas. Memalingkan wajahnya. Ia ingat harus segera melangkah lagi. Nada harus menyusul Bunyi yang entah berada dimana sekarang. Mungkin di ujung lorong, atau di bagian lain tempat ini. Nada berbalik badan. Menatap seisi lorong yang sunyi sebentar sebelum akhirnya kembali melangkah menyusurinya. Jejak-jejak kaki Nada ragu. Gusar. Atau mungkin iba. Ia kembali melihat dan melintasi empat, lima, enam, tujuh ruangan yang sama seperti dua ruangan yang ia lihat sebelumnya. Apalagi penampakan semua ruangan itu sama. Perempuan kecil terbaring lemah dengan pendamping berwajah murung seperti mengharapkan sebuah belas kasih atau mungkin keajaiban. Nada menatap lurus ke depan. Ia tak ingin melihat ruangan-ruangan itu lagi. Baginya itu menyedihkan. Nada memang belum tau tempat ini tempat apa. Tapi yang jelas, ini lebih menyedihkan dari apa yang ia pikirkan.
Nada sampai di ujung lorong. Matanya memandang sekitar. Ia dihadapkan dengan dua lorong yang lain. Dua lorong yang sama. Namun, Nada tak perlu pusing memilih salah satu diantaranya. Ia langsung melangkah ke lorong sebelah kanan karena di sana akhirnya Nada menemukan Bunyi. Nada melihat Bunyi berdiri bersama Antonio di depan sebuah ruangan. Ruangan yang mungkin sama seperti ruangan-ruangan sebelumnya. Nada menatap Bunyi dari kejauhan. Melangkah perlahan mendekatinya. Antonio melihat kedatangan Nada. Laki-laki itu tampak seperti mengatakan satu-dua kata pada Bunyi sebelum akhirnya pergi. Antonio melangkah pergi neninggalkan Bunyi yang masih berdiri menatap dinding kaca ruangan di depannya.
Langkah kaki Nada terhenti. Ia tepat berdiri di sebelah Bunyi sekarang. Menatap sekitar sebentar lalu terdiam.
"Sekarang kau sudah mendapatkan jawaban yang kau minta tadi, Lea." ucap Bunyi sesaat setelah Nada berdiri di sebelahnya.
Nada tak berkata apa-apa. Ia hanya melirik wajah Bunyi yang tersenyum getir sambil mengatakan kalimat tadi. Ada apa, ada apa dengan laki-laki itu. Kenapa wajahnya tampak datar sekali. Kemana perginya wajah menyebalkan yang Nada lihat sebelumnya. Kenapa sekarang Bunyi tampak berbeda? Nada memalingkan tatapannya dari Bunyi. Mungkin ruangan yang ada di depannya sekarang bisa menjelaskan itu semua. Nada menatap masuk ke dalam ruangan itu. Di dalam sana, seorang gadis kecil duduk di atas tempat tidur. Hampir sama seperti yang Nada lihat sebelum-sebelumnya. Namun peri cantik satu ini sedikit berbeda karena wajahnya tampak riang. Tak ada pucat pasih, atau raut wajah menyedihkan di sana. Dia tampak tersenyum bahagia sambil memainkan boneka miliknya. Walaupun jika dilihat, alat infus tetap terpasang di tangan kanannya.
Nada menghentikan tatapannya. Ia menundukkan kepala sambil berpikir sebentar. Sekarang Nada yakin kalau tempat ini memang rumah sakit atau semacamnya. Tapi Nada masih penasaran. Apa yang membuat Bunyi datang kemari. Wajah yang sedikit tampak murung itu, ada apa sebenarnya.
"Tadi pagi saat Mama bilang aku harus pergi denganmu untuk membuka peresmian panti jompo itu, aku terus menolaknya sampai Mama memaksaku berulang-ulang kali untuk pergi. Tentu hal semacam itu tak akan menganggu jadwal penerbanganku ke Birmingham, Lea. Kita harus belajar untuk memprioritaskan sesuatu yang benar-benar perlu, bukan?" Bunyi berkata pelan. Nada mengangkat kepala. Mendengarkan.
"Tapi, setengah jam kemudian Antonio meneleponku dan mengatakan kalau aku harus segera datang ke sini. Ada hal penting yang harus ku ketahui. Dan karena itulah aku akhirnya membatalkan penerbanganku dengan alasan menghadiri peresmian panti jompo bersamamu." Bunyi menatap Nada sebentar, lalu menatap ke dalam ruangan yang ada di depan mereka lagi. Pun dengan Nada. Ia menatap masuk ke arah gadis kecil itu.
"Namanya Alya. " Bunyi berkata pelan lagi. Nada menoleh sebentar.
"Dia adalah salah satu anak kesayangan Mama di panti asuhan. Dua tahun lalu dia dibawa ke tempat ini dengan kondisi yang sangat buruk. Alya menderita salah satu penyakit langka bernama Noma. Penyakit yang belum ada obatnya. Divonis hanya bertahan tiga bulan, tapi lihatlah. Dia bertahan selama dua tahun dan membuat semuanya terkejut." Bunyi menjelaskan. Suaranya terdengar jelas. Walau agak sedikit pelan. Kesedihan terselip di setiap kalimatnya.
Nada yang mendengar penjelasan itu pun hanya bisa terkejut dan tak berkata apa-apa. Matanya melihat Bunyi sebentar sebelum akhirnya kembali menatap Alya dari balik dinding kaca. Entahlah. Entah apa yang sedang dipikirkannya sekarang.
Setelah itu Bunyi balik menoleh. Menatap Nada sebentar lalu melangkah meninggalkan Nada yang masih berdiam di depan dinding kaca. Ia melangkah masuk ke dalam kamar rawat inap. Namun tak berselang lama, Nada mengikuti. Membuka pintu kamar rawat inap itu, mereka perlahan masuk ke dalam. Di sana suasananya benar-benar sendu. Mereka disambut oleh suara violin dan dentingan piano yang sangat merdu. Terdengar juga sayup-sayup nyanyian seseorang yang tidak lain tidak bukan berasal dari Alya. Gadis kecil itu tampak sedang bersenandung sambil masih memegang boneka di pangkuannya. Mengelus-ngelus bagian kepala boneka yang berbentuk kumbang itu. Tidurlah, temanku. Aku akan menyusulmu nanti. Tidurlah dengan nyenyak dan damai. Beberapa kalimat yang terus diulang-ulang. Seiring dengan laju instrumen indah merambat sampai ke seluruh ruangan.
Nada dan Bunyi melihat sebentar ke arah Alya dan mendengar senandung itu sebelum akhirnya mereka melangkah mendekatinya. Tapi seketika langkah kaki mereka terhenti. Alya menyadari kedatangan mereka. Karena meskipun tak melihat Nada dan Bunyi, gadis kecil itu menyodorkan tangannya ke arah mereka. Seperti sedang memberi isyarat, jangan berisik atau tunggu dulu. Nada dan Bunyi saling tatap sebentar. Suara violin dan piano yang terdengar sampai di penghujung jalan. Alya menyelesaikan senandungnya. Mengelus boneka kumbang itu sekali lagi, memeluknya, lalu menaruh boneka itu di samping kanannya.
"Apakah pengawal pribadiku yang bernama Antonio memberitahumu agar membawa sebungkus coklat pagi ini untukku, tuan?" Alya mulai berkata. Sedikit merapikan rambutnya lalu menatap Bunyi curiga. Bunyi yang mendengar itu langsung mengangkat kepalanya. Sementara itu, Nada melihat Bunyi dan Alya bergantian. Tampak bingung. Memperhatikan.
"Aku minta maaf, tapi pengawal pribadimu itu tidak ada memberitahuku sama sekali tentang sebungkus cokelat yang kau maksud itu, Madame. Mungkin kau bisa memecatnya dan mencari pengawal pribadi yang baru."Jawab Bunyi. Sedikit tersenyum.
"Oh, ****." Alya bergumam pelan.
Bunyi menoleh menatap Nada sebentar yang masih terlihat bingung sambil tersenyum tipis.
"Karena dia mengecewakanku, aku akan memecatnya. Maka mulai hari ini kau yang akan menggantikan posisinya untukku." Alya mengangguk-angguk.
Bunyi mengedikkan bahu. Setuju.
Alya tersenyum lebar. Membuka tangannya lebar-lebar. Bunyi yang melihat itu langsung melangkah ke arahnya. Menunduk, Bunyi memeluk Alya. Mereka pun berpelukan. Tampak seperti sedang melepas rindu yang tertumpuk ratusan jam lamanya. Di sisi lain, Nada melihat itu. Ikut tersenyum juga.
"Alya rindu Kakak." ucap Alya di pelukan itu. Bunyi mengatakan hal yang sama. Mengusap-usap punggung Alya. Tersenyum lebar. Pelukan itu tak berlangsung lama namun cukup menjelaskan makna rindu yang sebenarnya.
Mereka melepas pelukan itu. Alya tampak senang sekali. Jelas sekali di wajahnya. Senyum lebar itu tak berhenti ada di sana. Tergantung kokoh dan tak akan lepas. Sepertinya hari ini sudah ia tunggu-tunggu sejak lama. Begitupun dengan Bunyi. Ternyata laki-laki yang menurut Nada menyebalkan dari tingkah lakunya bisa tersenyum seperti itu juga. Sungguh Nada melihat orang yang berbeda dari Bunyi yang ia kenal sekarang. Ya, walaupun baru saja mengenal Bunyi tapi sekarang Nada yakin kalau Bunyi tidak semenyebalkan yang ia kira.
Alya berhenti menatap Bunyi. Sekarang tatapannya bergeser ke arah Nada. Gadis kecil itu menatap Nada sebentar lalu menatap Bunyi lagi. Bunyi menyadarinya. Ia bangkit lalu melirik Nada dan menyuruhnya mendekat. Nada yang melihat itu pun langsung mengerti dan melangkah perlahan ke arah mereka. Walaupun terlihat sedikit ragu-ragu.
"Oh Madame Alya, ijinkan aku memperkenalkan ini wanita ini. Dia Nada. Kau bisa memanggilnya Nada atau Lea. Kau pasti terkejut karena sekarang aku memiliki pengawal pribadiku sendiri. Tadi pagi aku melantiknya dan mulai hari ini dia sudah bisa mulai bekerja." Bunyi berkata tiba-tiba. Tersenyum jahil.
Nada yang mendengar itu sontak langsung menatap Bunyi tajam. Baru saja beberapa detik yang lalu dia tampak tidak menyebalkan. Sejak kapan dia melantikku menjadi pengawal pribadinya. Tapi raut wajah Nada yang sedikit kesal pada Bunyi sirna setelah Alya tersenyum padanya. Alya memeluk Nada erat. Nada tersenyum dan balik memeluk Alya erat. Pelukan sebentar. Tapi sangat bagus sebagai kesan pertama mereka. Gadis kecil itu tampak senang melihat kehadiran Nada. Ia lalu meraih boneka kumbang yang ada di sampingnya. Mendekatkan boneka itu ke telinganya, seolah-olah boneka itu ingin mengatakan sesuatu pada Alya yang tampak mengangguk-angguk beberapa kali sekarang.
"Rose berbisik kepadaku dan mengatakan, kalau dilihat-lihat yang tampak cocok jadi pengawal pribadi itu kau, Kak. Kaulah pengawal pribadinya." sahut Alya.
Seketika Nada tersedak. Ia seperti tak bisa menahan tawanya. Bunyi menoleh. Lantas kaget mendengar apa yang barusan dikatakan Alya. Terdiam dan tampak kesal juga karena saat melirik Nada, raut wajah perempuan itu tampak senang sekali. Ya, anak kecil tidak pernah berbohong memang.
Tapi setelah itu Alya kembali mendekatkan boneka kumbang bernama Rose itu ke telinganya. Sepertinya boneka itu ingin mengatakan kalimat lain. Alya mengangguk-angguk lagi. Tapi yang membuat kali ini berbeda dari sebelumnya adalah saat Alya tersenyum. Bukan. Bukan senyum yang terlihat dari tadi, melainkan senyum yang lain. Senyum yang memiliki arti berbeda.
"Rose bilang kalian lebih cocok jadi pasangan. Mungkin kalian cocok jika menikah." ujar Alya sangat tiba-tiba.
Spontan Nada dan Bunyi yang mendengar itu langsung terkejut, saling tatap, dan berkata serentak, tidak.
Alya melihat mereka berdua bergantian yang sekarang tampak memalingkan wajahnya masing-masing. Sepertinya kali ini Nada tidak setuju dengan apa yang dikatakan Alya barusan. Begitupun dengan Bunyi. Alya sambil mengedikkan bahunya sambil menatap Rose. Bukankah anak kecil memang tidak pernah berbohong.
__ADS_1