Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#57 [Bab. matahari itu tenggelam, nan]


__ADS_3

...Dan bagaimana kabarnya Amsterdam?...


Semua hal tentang Jazz, orang-orang baik, dan kota kesembuhan perasaan, tertinggal sudah. Mungkin memang akan dilupakan dan dirahasiakan keberadaannya di dalam hati. Mungkin tak akan menjadi rumah lagi. Karena dengan kembalinya Nada ke Jakarta, Amsterdam mungkin akan pelan-pelan terlupakan. Dan yang tersimpan tidak lain tidak bukan hanya kenangannya. Tidak ada kata yang lebih pantas untuknya selain ini. Amsterdam, terima kasih.


Tapi sebenarnya ini bukan tentang Jakarta atau Amsterdam. Karena sesungguhnya ini hanya tentang rumah. Sesuatu yang bisa menerima goresan hati seseorang. Tempat yang mampu menyembuhkan luka itu walau sebentar. Meneduhkan. Menenangkan barang sejenak.


Sejak memutuskan pergi ke Amsterdam setahun lalu, selain ingin mempelajari Jazz, lari dari masalah, mencoba mencari keberadaan Pak Karso, Amsterdam juga menjadi tujuan untuk kesembuhan hati Nada. Sebagai pelarian yang paling baik. Dan juga kota yang ramah untuk hati.


Tapi Amsterdam sudah selesai. Tugasnya usai. Nada sudah di Jakarta sekarang. Hati itu mulai kembali ke rumah yang selayaknya rumah. Meninggalkan tempat yang setahun lalu dianggap sebagai rumah juga. Amsterdam, sampai jumpa. Semoga bisa bertemu lagi. Semoga bisa menatap hamparan kota ketenangan itu lagi. Semoga saja. Dan sekali lagi, tidak ada kata yang lebih pantas untuknya selain ini. Amsterdam, terima kasih.


Matahari hampir sempurna di tahta langit, pukul 11.00 siang. Di atas meja dekat jendela, banyak kertas berantakan. Ada beberapa baju juga yang belum sempat dibereskan, berserakan di atas kasur. Semalam, Nada cukup merasa lelah dan langsung istirahat di kamar. Pertemuan dan semua hal tentang kemarin, memang benar-benar menguras tenaga. Tapi itu sudah terlewati. Tak terkecuali satu bagian pun. Sekarang hari baru akan dimulai.


Handphone berdering beberapa kali di atas kasur. Itu bukan alarm, tapi panggilan masuk. Nada perlahan membuka mata, lalu meraba dan meraih handphone yang berada di sampingnya. Itu Naira. Namanya jelas terlihat di layar handphone. Panggilan masuk itu darinya.


"Halo?"

__ADS_1


"Ya ampun, Nad. Lo baru bangun?"


"Hem, kenapa Nay?"


"Anak-anak pada heboh dengar kabar lo balik. Lo tau sendiri Jeje sama Una mulutnya gak bisa di rem, haha. Banda juga nanya mulu ke gue. Ya, kan lo itu tuan puterinya anak-anak, Nad. Nanti kita ke la vie en rose, ya? Memangnya lo gak kangen sama cafe yang lo bangun sendiri dari nol?"


"Iya..."


"Dih, jutek banget, haha."


"Gue kayaknya udah baca semua kisah dongeng deh. Dan gak pernah nemuin putri kerajaan kayak lo, Nad. Hati-hati loh. Entar jodohnya di patok ayam." ledek Naira. Tertawa tipis.


Nada ikut tertawa tipis. "Gak gitu juga konsepnya, Nay."


"Yaudah nanti ketemu di sana, ya."

__ADS_1


"Iya, Nay."


"Papay tuan putri."


Nada kembali tersenyum walau matanya belum terbuka sempurna. Panggilan itu berakhir. Nada kembali meletakkan handphone di sampingnya. Lalu menutup mata sempurna.


Naira benar. Kalau Nada adalah putri kerajaan, untuk ukuran seorang putri kerajaan mungkin Nada adalah putri kerajaan yang paling siang bangunnya. Tapi, memangnya ada putri kerajaan yang bangunnya kesiangan?


Handphone kembali berdering. Panggilan masuk kedua terdengar. Dengan mata tertutup, Nada kembali meraih handphone lalu menerima panggilan itu.


"Kenapa lagi, Nay? Nyawa gue belum ngumpul nih."


"Nay? Nay siapa, Lea? Ini aku."


Suara itu, astaga. Nada kenal suara itu. Menenangkan. Suara dari orang yang menyebalkan juga. Nada membuka matanya sempurna. Itu Bunyi. Panggilan masuk itu darinya.

__ADS_1


__ADS_2