Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#11 Lili


__ADS_3

Itulah malam singkat Nada mengenal Bu Ni. Perempuan yang baru ia kenal malam itu, namun memiliki arti yang sangat besar untuknya. Setelah malam itu, Nada banyak menghabiskan waktu bersama Bu Ni setiap hari. Seperti membeli bunga, bercerita sedikit tentang musik, atau mengobrol singkat topik-topik sederhana tentang revolusi perancis, dan sebagainya. Nada sudah menganggap Bu Ni laiknya Ibu kandung sendiri. Pun sebaliknya. Bisa dibilang kedekatan mereka memang menggambarkan seperti itu. Ya, meskipun terkadang Nada menyembunyikan perasaan yang lain. Entah kenapa saat semakin dekat dengan Bu Ni, Nada malah semakin rindu dengan Mamanya. Bu Ann.


"Jadi Ibuk juga pernah ikut konservasi penyu?" Jeje bertanya antusias. Bu Ni mengangguk pasti.


Dari tadi tiga peri centil sudah mengobrol banyak dengan Bu Ni. Mereka tidak terlihat seperti baru kenal. Akrab dan tak canggung sama sekali. Mungkin karena Bu Ni ramah yang membuat tiga peri centil tak sungkan bertanya banyak hal. Ditambah lagi, pengetahuan Bu Ni yang terbilang luas membuat sahabat-sahabat Nada itu jadi sangat antusias. Setidaknya ada empat sampai lima pembahasan menarik yang sejak tadi mereka perbincangkan.


Nada tertawa kecil. Jeje berulang-ulang kali bertanya tentang penyu pada Bu Ni. Peri centil itu memang terlalu fanatik penyu. Mengingat, ia memang senang dengan pelajaran herpetologi dan etologi hewan. Terlebih untuk penyu. Walau sekarang Jeje sibuk di dunia bisnis. Tapi baginya penyu tetap akan jadi sesuatu yang menarik untuk dipelajari. Maka dari itu sejak tadi ia terus bertanya penyu pada Bu Ni, yang punya pengalaman banyak tentang hewan itu. Bu Ni bercerita banyak pada Jeje. Contohnya, bagaimana perilaku penyu, atau cara terbaik untuk konservasi dan menjaga habitatnya. Dua puluh tahun lalu, Bu Ni merupakan salah satu relawan yang bertugas membebaskan seribu ekor penyu di perairan Lombok dan Bali.


Tapi bukan cuma Jeje yang berhasil mengumpulkan banyak informasi dan pengetahuan dari Bu Ni. Dua peri centil yang lain juga. Una dan Naira ikut bertanya banyak hal pada Bu Ni. Walau untuk Naira sendiri, sebenarnya sebelum mereka mengobrol banyak hal dengan Bu Ni, ia sudah tau tentang Bu Ni hanya dengan melihat Blanche dan isinya. Karena selain sekarang sedang sibuk di dunia fotografi, Naira juga sedang senang-senangnya mempelajari tentang colsulting detective. Walau ia juga sempat mengambil jurusan Psikopatologi saat kuliah tahun kemarin.


Tidak seperti dua sahabatnya, peri centil yang satu ini hanya bertanya beberapa hal yang berkaitan dengan bunga dan Paris saja. Namun kedua hal itu juga cukup membuat Naira terkesima. Bu Ni sangat mengerti bunga bahkan sampai mempelajari jenis-jenis bunga yang bisa menyelamatkan hidup manusia. Contohnya draceana. Kata Bu Ni, empat tahun lalu ia sengaja menaruh enam pot draceana di sudut-sudut blanche karena pada hari sebelumnya ada seorang pengunjung yang tiba-tiba mengalami sesak napas di cafe. "Kalau ada pasangan yang datang ke cafe dan berantem pun, mereka jadi baikan lagi pasti karena melihat draceana." tambah Bu Ni sambil tertawa pelan. Naira menggeleng tak percaya. Bukan tak percaya atas penjelesan Bu Ni tadi, melainkan karena Bu Ni yang punya pengetahuan sangat luas.


Ditambah lagi saat menjawab beberapa pertanyaan Una. Yang membuat Una juga sangat takjub pada Bu Ni. Una bertanya singkat tentang filsafat. Bu Ni mulai menjelaskan tentang epistemologi dan manfaatnya bagi kehidupan manusia. Una mengangguk senang. Ia memang tertarik dengan filsafat. Una masih terus belajar tentang ilmu-ilmu yang ada didalamnya. Meskipun sekarang ia sibuk dengan dunia perkebunan dan barang-barang antik, tapi baginya filsafat akan tetap menjadi nomor satu. "Dulu sempat kuliah tapi tidak lulus, jadi ya belajar dari buku-buku saja." Bu Ni menjawab pertanyaan Una tentang kenapa ia bisa paham dengan filsafat.


Nada tersenyum pasti. Ketiga sahabatnya memang sangat tertarik berbicara dengan Bu Ni. Jelas sekali terlihat dari wajah mereka dan dari rasa antusiasme yang mereka tunjukkan masing-masing. Nada sedikit bingung malah karena tak pernah melihat ketiga sahabatnya begitu bersemangat mengobrol dengan orang yang punya jarak usia jauh dari mereka. Kalau saja makanan dan minuman yang mereka pesan tak datang, boleh jadi obrolan itu akan terus berlanjut. Nada tersenyum lagi. Kali ini sambil menatap bahu Bu Ni yang perlahan pergi. Ada sesuatu yang harus diurusnya. Ia sudah pamit tadi. Nada memalingkan wajahnya. Bu Ni memang luar biasa.


Diluar cafe, bunga-bunga masih gugur berjatuhan. Nada bisa sangat jelas melihatnya dari jendela cafe. Musim semi tahun ini sama seperti musim semi dua tahun lalu. Tak ada yang berbeda. Atau mungkin ada sedikit perbedaan dalam arti lain. Tahun ini adalah musim semi terakhir Nada di Paris. Karena dalam hitungan hari dari sekarang, tak akan ada lagi musim semi yang bisa ia nikmati dari negeri sejuta romantis ini. Nada sudah memutuskan akan mempercepat proses pulangnya ke Jakarta. Ia sudah sangat rindu kota itu. Terlebih pada Mamanya, Bu Ann.


Nada menatap jendela cafe lamat-lamat. Sudah tiga tahun. Ratusan hari berpisah dengan jarak ribuan kilometer. Sudah tiga tahun Nada tidak bertemu dengannya. Sudah tiga tahun pula rindu itu tertumpuk dalam di hatinya. Yang setiap hari akan terus tumbuh, tak berujung. Seperti lautan yang merindukan buih-buih hilang. Seperti daging yang risau akan surga-surga langit. Setiap hari terasa berat untuk Nada. Apalagi saat ia memikirkan tentang kondisi Mamanya itu.


Saat awal sampai di Paris tiga tahun lalu, beberapa hari dilewati Nada dengan keadaan sulit. Ia terus khawatir. Terlebih saat Bara beberapa kali harus memberitahunya tentang kondisi Bu Ann yang setiap hari semakin buruk. Bu Ann terus keluar masuk rumah sakit. Karena di jam-jam tertentu ia mengalami kejang-kejang. Seperti ada yang merespon sistem sarafnya tapi ini dalam pengertian buruk. Nada ingat, dulu Bu Ann juga sering seperti itu. Tapi untuk yang sekarang, kata Bara ini lebih parah dan berbeda. Apalagi puncaknya saat Bara bilang Bu Ann mengalami Disatria secara tiba-tiba yang membuatnya tidak bisa bicara dan lumpuh total. Tentu hal itu membuat hati Nada hancur berantakan. Bahkan saat tau kabar itu dari Bara, Nada juga sempat berpikir untuk pulang saat itu juga. Tapi Bara menenangkan Nada dan bilang kalau Bu Ann akan baik-baik saja.


Nada percaya walau di ujung telepon ia masih menangis.


Sampai akhirnya sebulan setelah kejadian itu Bara memberitahu Nada kalau kondisi Bu Ann sudah jauh lebih baik. Semakin hari semakin berkembang. Ibarat kapal yang tiba-tiba memutar arah. Bahkan Nada sangat terkejut saat Bara bilang kalau Bu Ann sudah mulai bisa merespon dengan sedikit menggerakkan salah satu jemarinya saat proses terapi atau saat Bara mencoba berinteraksi dengannya. Nada lega mendengar itu. Setidaknya ada kabar baik yang membuat hatinya jadi lebih tenang. Seenggaknya tidak temaram lagi. Cahaya terang kesembuhan Mamanya sudah sedikit terlihat. Apalagi saat Bara bilang dokter menyarankan untuk terus mengajak Bu Ann berinteraksi agar sel saraf sensorik dan motoriknya bisa perlahan kembali bekerja normal. Maka dari itu, beberapa kali Nada mencoba berinteraksi dengan Mamanya lewat telepon atau video call. Walau entah kenapa, setiap Nada mencoba mengajak Bu Ann berinteraksi, tetap tidak ada jawaban. Bu Ann tidak merespon apa-apa.


"Nad, Mas Bara kemana? Kok dari tadi gak kelihatan?" Naira memecah lamunan Nada. Menggulung spaghetti dengan garpu lalu memakannya perlahan.


Nada menatap Naira sebentar lalu memperhatikan sekitar. Naira benar. Nada sama sekali tak melihat Bara ada diantara mereka. Atau jangan-jangan dari tadi Bara memang belum masuk ke dalam cafe. Setidaknya sudah setengah jam yang lalu sejak mereka sampai di Blanche. Nada memalingkan wajahnya, berpikir sejenak. Ia ingat kalau tadi Bara sempat bilang ingin menunggu seseorang dulu. Tapi, kenapa selama itu.


"Nad," Naira berkata pelan. Matanya melihat ke arah pintu masuk Blanche. Sepertinya ada sesuatu di sana.


Nada pun menoleh. Ia penasaran lalu ikut melihat ke arah pintu masuk cafe juga. Namun Nada malah bingung karena saat ia melihat ke arah itu, di sana sedang terjadi sebuah pentengkaran kecil. Mungkin antara pengunjung dengan pengunjung, atau pelayan cafe dengan pengunjung. Nada tak tau. Tapi bukan itu yang membuatnya bingung. Melainkan Bara yang ada di sana bersama seorang laki-laki yang sedang bersitegang dengan seorang perempuan paruh baya.


"Oh là là! As-tu vu que mes vêtements étaient mouillés à cause de toi? Et je me sens agacé." Perempuan paruh baya itu menunjuk-nunjuk bajunya yang setengah basah. Sepertinya sesuatu tertumpah di sana. Terlihat sekali dari wajahnya kalau ia sedang kesal.


"Saya minta maaf karena tidak sengaja menumpahkan kopi saya di baju Madame. Tapi sekali saya bilang kalau saya tidak mengerti apa yang Madame katakan barusan. Ya kan, Bar?" Laki-laki itu melihat Bara. Mengangguk pelan. Bara pun ikut mengangguk juga.


"But, you look very beautiful. Very, very beautiful." Laki-laki itu mencoba menenangkan perempuan tadi. Merayu serta memegang bahunya. Tapi sepertinya itu percuma.


"Je suis faché!" Teriak perempuan itu. Laki-laki tadi kaget lantas melepaskan pegangan tangannya dan bersembunyi di belakang tubuh Bara yang juga sama kagetnya.


Perempuan paruh baya itu terlihat sangat marah. Ia terus berseru-seru kesal. Suaranya cukup menarik perhatian semua yang ada di cafe. Nada dan Naira masih memperhatikan. Bahkan Una dan Jeje yang tadinya sedang sibuk dengan spaghetti mereka pun juga ikut memperhatikan sekarang. Walaupun mereka semua tetap tak tau apa alasan dari pertengkaran itu. Sampai akhirnya salah satu pelayan cafe datang, ikut bergabung lalu menanyakan apa yang sedang terjadi di sana.


"Lathi... untunglah lo datang, Lathi. Terima kasih telah menyelamatkan hidup gue. Ini, jelaskan sama dia kalau gue gak sengaja tadi." Ucap laki-laki itu. Menghela napas lega. Ia mendorong-dorong pelayan bernama Lathi tadi. Berlindung di balik badannya.


Lalu, Lathi pun mulai menjelaskan dan mengobrol dengan pengunjung yang marah tadi. Mengatakan satu-dua kalimat yang akhirnya berhasil meredam sedikit kekesalan pengunjung itu. Walaupun sebelum pergi keluar dari cafe, pengunjung itu tetap masih menggerutu kesal sambil sesekali menatap laki-laki tadi.


"Ternyata selain berperan penting pada insomnia, kopi juga sama pentingnya untuk jantung ya, Bar."


"Gue juga baru tau kalau nenek-nenek perancis galak banget, ya." Bara mengusap dahinya. Napasnya terengah-engah.

__ADS_1


Di sisi lain Nada dan tiga peri centil masih memperhatikan. Selain karena Nada bingung tentang siapa laki-laki yang sedang bersama Bara itu, juga karena dari tadi Una dan Jeje berseru-seru genit. Rebutan. "Cocoknya sama gue, Je. Soalnya dari tampangnya dia tuh, orangnya perfeksionis. Gak balance pasti sama lo." Una melirik piring spaghetti Jeje yang berantakan. Jeje memalingkan wajahnya. Nada dan Naira saling tatap sebentar lalu tertawa pelan.


#####revisi


Pantang melihat laki-laki berpenampilan menarik sedikit, dua peri centil itu pasti langsung salah tingkah. Memang begitu tabiatnya. Tak pandang bulu. Padahal belum kenal. Padahal tak tau itu siapa. Pantas memang predikat peri centil menjadi milik mereka.


Nada mengalihkan pandangannya. Melirik Laki-laki tadi.


Kalau dilihat-lihat lagi, penampilannya memang sedikit menarik. Topi Trillby warna hitam dan jaket hitam pula. Klasik. Entahlah. Mungkin Parka atau yang lain. Nada mengerjap-ngerjapkan mata. Tapi sepertinya Una salah. Tali sepatu sebelah kanan laki-laki itu terlepas. Tentu dia bukan perfeksionis.


"Tadi di telpon kamu bilang datangnya sore, Nan." Suara dan langkah kaki Bu Ni terdengar tiba-tiba, datang dari pintu yang ada di samping bar mini. Melangkah ke arahnya. Ke arah laki-laki itu. Yang kemudian ikut melangkah ke arah Bu Ni juga.


"Mama."


Nada dan tiga peri centil spontan kaget. Nada melipat dahinya. Mama.


Ia memalingkan wajah. Sepertinya Nada ingat sesuatu. Tidak salah lagi. Nada tau laki-laki itu siapa. Ia ingat Bu Ni pernah cerita bagian ini.


Dua tahun setelah mereka kenal, dekat dan sering mengobrol banyak hal, tentu Nada dan Bu Ni juga pernah sesekali bercerita tentang bagian-bagian penting di hidup mereka masing-masing. Walau masih akan ada jarak yang mengatur pengertian privasi, tapi mereka sedikit-banyak telah membagikan cerita hidupnya satu sama lain. Nada ingat sekali Bu Ni pernah bercerita tentang itu. Tentang dia yang punya hati seperti langit.


Selain punya pengetahuan luas, Bu Ni juga punya jiwa sosial yang sama luasnya. Dia pernah bilang punya dua panti asuhan di Jakarta pada Nada. Kelana dan Kelani. Dua tempat yang kata Bu Ni dijadikan rumah puluhan anak yang merindukan kata pulang, atau yang benar-benar tak paham arti dari kata itu. Tempat berkumpulnya harapan, mimpi, dan hal-hal baik sejalan menyertainya. Tapi kata Bu Ni, dua tempat itu sebenarnya lahir bukan semata-mata karena keinginannya. Melainkan berawal dari keinginan anak tunggalnya. Bunyi Nanda Pradikta.


Dan dari sinilah Nada mulai tau tentangnya. Bu Ni mulai cerita sedikit-banyak tentang Bunyi sejak saat itu. Laki-laki dua puluh lima tahun, tidak terlalu suka musik, sangat terobsesi pada ilmu pengetahuan, suka baca buku-buku detektif barat, dan pernah satu kali diperiksa pihak keamanan karena mencoba merusak salah satu lukisan terkenal dunia di museum Louvre, Paris lima belas tahun silam. "Dia bilang bentuk hidung tokoh pada lukisan itu tidak masuk akal. Jadi dia sengaja menggambar beberapa garis agar bentuknya lebih baik. Tapi untungnya gak ditangkap beneran. Cuma diberi tau dan dikasih penjelasan sama pihak keamanannya. Ya, dia memang begitu. Merepotkan. Selalu sesuka hatinya. Padahal usianya baru sepuluh tahun." Bu Ni tertawa. Cerita-cerita kecil tentang Bunyi mulai mengisi topik obrolan mereka. Tapi Nada masih belum tau banyak hal tentang Bunyi. Kecuali satu hal lain saat Bu Ni bilang kalau Bunyi akan datang ke Paris lagi setelah tinggal di Jakarta cukup lama. Dan ternyata itu adalah hari ini.


"Selalu memberi kesan di hari pertama untuk Paris?" Bu Ni menatap Bunyi. Menaikkan salah satu alisnya. Bunyi berhenti di depan Bu Ni. Memalingkan wajah sebentar.


"Meskipun bukan termasuk lima besar penyuka gula tapi dari berita-berita yang ada, sekarang Paris sudah mulai terkenal dengan kopi-kopinya. Kafein berlebihan, kortisol muncul--"


"Mama harus pecat Lathi kalau begitu." Timpal Bunyi. Bu Ni tertawa pelan. Mereka berpelukan.


"Oh iya, Ma. Ini Bara. Yang pernah aku ceritain ke Mama." Bunyi tersenyum.


"Bara, Tante." Bara menjabat tangan Bu Ni.


Bu Ni melirik Nada sebentar lalu menatap Bara.


"Tante udah tau kamu. Intelijen pribadi tante yang cerita banyak hal tentang kamu." Bu Ni tersenyum. Bara bingung.


Melirik Nada sebentar, "Tante kenal sama Nada?" Bara ingin tau. Bu Ni mengangguk pasti. Bunyi memperhatikan. Bingung.


"Tapi Nada gak bilang kalau kamu ada di Paris. Duduk dulu, ayo sini." Bu Ni melangkah ke arah Nada dan tiga peri centil yang sejak tadi memperhatikan dari jauh. Bara melihat Bunyi sebentar. Bunyi mengedikkan bahu. Sebelum akhirnya mereka ikut melangkah juga.


Dari kejauhan Nada masih memperhatikan. Ia yakin kalau itu memang Bunyi. Orang yang selama ini menjadi salah satu topik menarik di obrolannya dengan Bu Ni. Orang yang terkadang mereka tertawakan atas kelakuan lucunya saat kecil. Bu Ni pernah cerita sedikit tentang Bunyi kecil. Kebiasaan-kebiasaannya, atau sesuatu yang menurut Bu Ni berbeda dari anak yang lain. "Waktu usia lima tahun sampai enam tahun kalau Bunyi lagi ngambek atau nangis dia gak akan bisa dirayu sama permen, es krim, cokelat, mainan, atau sesuatu yang disukai anak-anak pada umumnya. Bunyi berbeda. Setiap dia nangis atau ngambek, hanya ada satu hal yang bisa membuat dia tenang. Buku. Dia selalu ingin dibelikan buku. Buku pertamanya adalah kisah para elf dalam serial elf dan dunia tersembunyi. Ada juga dialektika Hegel dan Buku tentang Aurora Eropa Timur." Nada spontan kaget juga kagum. Masih lima tahun tapi selera bacanya bagus. Ya, walau setiap anak pasti punya selera dan kesukaannya masing-masing, tapi Bu Ni benar. Bunyi memang berbeda.


Dan sekarang Nada tak menyangka bertemu dengannya hari ini. Walau tadi Nada sempat bingung dan sedikit penasaran karena dia datang bersama Bara, tapi itu bukan masalah. Mungkin mereka teman kerja, teman kuliah, atau teman-teman lainnya. Mengingat Bara memang punya banyak sekali teman. Contohnya saja teman kerjanya yang sampai puluhan bahkan ratusan. Bara adalah seorang penanggung jawab di salah satu perusahaan kolang-kaling Raja Ampat, penanggung jawab belasan coffee shop di Jakarta, pemilik rumah akupuntur, dan masih aktif menjadi Dokter Spesialis Endokrin di salah satu rumah sakit Jakarta. Jadi, Nada tak terlalu memikirkan itu. Nada tak ambil pusing kenapa Bara dan Bunyi bisa saling kenal.


"Gimana makanan dan minumannya?" Bu Ni datang. Bunyi dan Bara juga. Mereka duduk dan bergabung di meja.


"Enak banget Buk. Pantas sih cafe ini jadi cafe favorit Nada. Gak salah." Naira tersenyum pasti. Melihat Una dan Jeje, "Enakkan Na, Je?"


Alih-alih mendengar pertanyaan Naira, Una dan Jeje malah sibuk menatap Bunyi yang sekarang tepat berada di depan mereka.

__ADS_1


"Una, Jeje?" Naira menguatkan suaranya. Menginjak kaki Una dan Jeje bergantian.


"Iya Buk, iya Buk. Enak banget kok. Enakkan Na?" Jeje berseru panik. Kaget. Una juga spontan mengangguk-angguk setuju. Sama kagetnya.


"Baguslah kalau tidak mengecewakan. Ibuk gak harus ganti koki lagi berarti." Bu Ni tertawa pelan.


"Oh Ibuk sampai lupa. Nad, semuanya, ini Bunyi anak Ibuk. Mungkin ada yang pengin kenalan..." Bu Ni menatap Nada. Menatap tiga peri centil. Bunyi melirik Mamanya itu.


"Aku, Buk." Una dan Jeje berteriak serentak. Mengangkat tangan mereka. Mengejutkan semuanya. Bunyi dan Bara bingung. Naira menatap Una dan Jeje bergantian. Matanya melotot. Mereka berdua pun langsung menurunkan tangannya.


Di sisi lain Nada mencuri-curi tatap. Memperhatikan Bunyi.


Ia bisa maklum melihat kedua sahabatnya begitu agresif ingin berkenalan dengan Bunyi. Ya, karena tabiat mereka memang seperti itu. Tapi untuk Nada sendiri pun sebenarnya sama. Nada juga ingin berkenalan dengan Bunyi. Laki-laki yang kelihatannya menarik kalau berdasarkan cerita-cerita yang pernah disampaikan Bu Ni padanya. Lagipula Nada masih penasaran. Bagaimana bisa Bunyi hampir merusak salah satu lukisan terkenal dunia di museum Paris. Hari ini mungkin Nada akan mendapatkan jawaban jelasnya. Selain itu juga tentang buku-buku kesukaan Bunyi. Nada penasaran dengan seleranya. Namun tetap ada sedikit kendala untuk itu. Nada tak ingin melakukannya duluan. Kalau pun harus memulainya, ia bingung harus mulai dari mana. Hai salam kenal. Atau, boleh kenalan. Nada memalingkan wajahnya. Jelas itu bukan ide yang bagus.


"Ya, halo?" Bunyi mengangkat telponnya yang tiba-tiba berdering. Panggilan masuk. Dia beranjak dari kursi lalu melangkah pergi.


Nada melihat pundak Bunyi yang perlahan menghilang. Mungkin lain kali saja.


Preeet


"Jeje!" Naira berteriak. Kesal sambil menutup hidungnya. Jeje kentut.


"Kan baru siap makan spaghetti, Je. Kenapa baunya terasi ini?" Una menggeleng heran. Menutup hidung juga. Jeje nyengir. Merasa tak bersalah.


Nada dan Bu Ni tertawa.


#########


Aroma kentut Jeje memang yang paling magis. Tak terlihat, menyengat, dan datang sangat tiba-tiba. Membuat mata perih. Dari dulu juga baunya pasti sama. Khas. Familiar sekali. Nada tertawa pelan. Ia tiba-tiba ingat pesta ulang tahun Una yang sedikit kacau karena Jeje kentut di kerumunan tamu saat Una melakukan acara potong kue. Membuat banyak tamu berhamburan keluar. "Kalau ditahan nanti jadi penyakit. Kalian mau gue sakit gara-gara nahan kentut?"Jeje membela diri. Sejak saat itulah kentut Jeje menyeramkan.


Setelah itu beberapa jam berlalu sangat cepat. Diluar hujan tiba-tiba turun. Deras sekali. Terlihat dari jendela kaca cafe yang mulai berembun. Lampu-lampu jalan, teras toko, dan yang lain menyala lebih awal. Hari sudah mulai redup. Bukan karena petang yang menjemput langit, melainkan mendung. Paris gelap gulita. Daun-daun yang jatuh berguguran juga berhenti gugur lagi.


"Dari semua orang yang pernah aku temui, Ibuk yang paling keren!" Jeje melihat sekitar. Bersemangat. Una dan Naira mengangguk setuju.


Saat selesai makan dan sedikit berbincang di depan tadi, Bu Ni mengajak Nada dan tiga peri centil melihat-lihat segala sesuatu yang ada di blanche. Termasuk satu ruangan tersembunyi yang sekarang mereka datangi. Untuk Nada sendiri, ia sudah pernah ke ruangan ini beberapa kali. Bahkan dua tahun lalu, Nada ikut membantu Bu Ni memindahkan beberapa barang kedalamnya. Ruangan bawah tanah atau apalah namanya. Bu Ni menyebutnya sebagai galeri pribadi. Ruangan yang tidak terlalu luas, tapi semua hal yang ada didalamnya seperti menggambarkan dunia dalam satu petak persegi.


Tempat yang menyimpan banyak sekali barang-barang mewah tak ternilai. Seperti miniatur patung tokoh-tokoh terkenal yang jarang diketahui, bangunan khas dari puluhan negara di dunia beserta filosofinya, salinan buku-buku sejarah ribuan tahun, dan masih banyak lagi. Bu Ni menjelaskan beberapa diantaranya. Seperti Ferdinand Magellan---orang pertama yang mengelilingi bumi, dan Ratu Kalinyamat---pemimpin pemberani dari Jepara. Tiga peri centil pun tampak takjub. Terheran-heran sama semua barang-barang di dalam ruangan. Bu Ni memang luar biasa. Tapi dari semua itu, ada satu benda yang kemudian menyita perhatian tiga peri centil. Jeje juga sempat bertanya tentang benda itu pada Bu Ni. Benda di sudut ruangan. Dipajang di samping lukisan kayu jati. Berupa bingkai yang lumayan besar, yang jika dibuka terdapat syal, baju yang bertuliskan I love Kpop. "Hidup itu kan harus seimbang." Bu Ni tertawa.


Sesudah dari ruangan itu, Bu Ni mengajak tiga peri centil ke area belakang blanche. Kawasan yang sering menjadi tempat favorit pengunjung cafe yang sedang ingin suasana tenang atau damai. Karena di bagian belakang ini adalah kebun bunga mini yang sengaja di buat sebagai tempat relaksasi untuk pengunjung. "Selain tingkat keromantisannya yang tinggi, Paris juga punya tingkat stres yang tinggi." Una dan Jeje mengangguk mengerti. Tapi tak hanya untuk itu. Karena selain menjadi tempat favorit pengunjung, area belakang cafe ini juga dijadikan Bu Ni sebagai tempat riset kecil-kecilannya pada bunga. "Yah padahal pengin tau." Una sedikit kecewa. Mereka tak bisa melihat bunga-bunga yang sedang di riset Bu Ni dari dekat. Hujan semakin deras.


Kemudian mereka kembali ke bagian dalam cafe. Kembali ke meja mereka lagi. Bu Ni tiba-tiba harus pergi meninggalkan cafe. Dia bilang ada sesuatu yang harus diurusnya. Tiga peri centil juga ingin kembali ke hotel sebelum nanti mereka ikut Nada ke rumah sewanya yang ada di komplek perumahan eiffel. Jeje harus bersiap-siap untuk zoom meeting dengan klien sore ini. Una dan Naira juga ada urusannya masing-masing. Lagipula hari ini sudah cukup menyenangkan. Makan di salah satu cafe terbaik Paris. Tiga peri centil sangat senang bisa kenal dengan Bu Ni dan Blanche. Bahkan Jeje dan Una berulang-ulang kali berseru akan main ke cafe dan mengobrol banyak hal dengan Bu Ni lagi.


Bu Ni tersenyum. Dia bilang pintu cafe akan terbuka kapanpun untuk mereka. Bu Ni juga tampak senang bisa mengenal tiga peri centil. Dia juga berharap bisa bertemu dan mengobrol lagi lain waktu. Tapi katanya sekarang dia harus segera berpamitan. Suara telponnya berdering terus dari tadi. Sepertinya ada hal yang benar-benar penting. Nada dan tiga peri centil juga pergi dari cafe setelah Bu Ni pergi. Naira memesan taksi online. Mengingat Bara sudah pergi dari cafe sejak beberapa jam yang lalu. Bunyi yang mengajaknya. Nada sendiri tak tau mereka kemana. Setelah menerima telpon di meja makan, Bunyi kembali lalu langsung mengajak Bara pergi menemaninya. Entahlah. Mungkin ada urusan bisnis atau urusan yang lain.


"Di sana ada makanan kan, Nad? Gue lapar lagi nih." Jeje nyengir. Memegang perutnya. Naira dan Una saling tatap.


Nada tertawa dari bangku depan taksi.


Sebelum akhirnya taksi jalan dan perlahan meninggalkan blanche dibelakang.


Nada bersandar pada bangku. Melihat lamat-lamat ke depan. Di luar hujan masih jatuh. Rintik-rintiknya menampar jalan. Tapi sudah lumayan reda dari sebelumnya. Langit juga mulai benderang. Mendung perlahan-lahan hilang. Satu-dua daun mulai gugur lagi. Terbawa angin. Melayang-layang di langit Paris. Nada melihat layar handphone miliknya. Pukul empat sore. Hari yang sedikit melelahkan. Ia memejamkan mata. Tapi tak lama. Karena tiba-tiba handphone miliknya bergetar. Seperti ada pesan masuk. Nada melihat layar handphone lagi. Ternyata benar. Satu pesan masuk ada di sana. Pesan itu dari Cikal.

__ADS_1


"Gimana, Nad? Sudah kepikiran untuk ikut ke Banda Neira atau belum? Kalau sudah, kabarin saya ya. Saya berangkat besok pagi."


__ADS_2