
...• • •...
...Dan bagaimana kabarnya, Jakarta?...
__ADS_1
Dulu, bagi Nada kota ini adalah kota terbaik. Walau senjanya selalu kehilangan udara sejuk, angin yang berhembus pelan, dan sang surya yang jarang sekali tersenyum. Bertahun-tahun yang lalu, Jakarta juga selalu memberi hal-hal luar biasa untuk Nada. Mengisi setiap lembaran-lembaran penting di buku kehidupannya. Tapi sekarang, Jakarta sudah tertinggal jauh. Kota itu sudah menjadi kota kenangan. Nada sudah meninggalkan Jakarta setahun lalu. Sekarang Jakarta tak lebih dari sepotong kenangan dengan ratusan lembaran-lembaran usang yang akan terus diingat. Tak terasa sudah satu tahun. Dan sekali lagi, bagaimana kabarnya Jakarta sekarang?
Sudah setahun juga Nada memiliki tempat baru. Tempat dimana ia memulai semuanya lagi. Dari awal yang paling awal. Bahkan saat sampai di Paris sekali lagi Nada diperkenalkan dengan hidup. Bedanya dengan yang lain, yang memperkenalkan dan yang diperkenalkan adalah satu tokoh yang sama. Nada itu sendiri. Tapi semuanya tak begitu sulit. Nada berhasil melewati hari-harinya dengan sangat baik. Walau banyak hal yang ditinggalkan masih sering dipikirkan, termasuk satu tempat yang jadi salah satu bagian terbaik di dalam hidupnya. La vie en rose.
__ADS_1
Beberapa tahun yang lalu, Nada membuka satu cafe kecil bernama La vie en rose dengan teman masa kecilnya Banda. Yang awalnya dijadikan mereka sebagai tempat latihan musik, tapi berkat pemikiran jenius Banda yang ahli di bidang bisnis, La vie en rose pun akhirnya lahir. Banda bilang, selain dijadikan sebagai tempat latihan mereka, cafe, mungkin nantinya tempat itulah yang akan jadi salah satu tempat pulang untuk banyak orang. Karena diluar sana, banyak orang yang kehilangan tempat tinggalnya. Atau bahkan tempat yang mereka anggap sebagai rumah, tapi bukan rumah yang jadi tempat mereka untuk pulang. Nada setuju. Mereka sepakat akan banyak hal. Membagi tugas sampai ke hal-hal kecil seperti Nada yang nantinya akan mengurus menu pada makanan, sementara Banda pada minuman. Bahkan di La vie en rose juga lahir mimpi kecil di dalam hati Nada. Ia bermimpi ingin menjadikan La vie en rose sebagai tempat baginya memperkenalkan musik pada banyak orang.
Tak ada yang tampak kecewa setelah melihat keduanya tampil. Ritme-ritme menusuk yang diciptakan Nada, dan sentuhan klasik dari Banda selalu sukses setiap minggunya. Oh iya, selain menjadi teman masa kecil Nada, partner bisnis, Banda juga seorang pemain Flute, Bas Betot---alat musik terbesar dalam keluarga Chordophone, danTrombon. Banda sangat pandai memainkan tiga alat musik itu. Tapi yang paling disukai Nada dari Banda adalah trombon. Karena setiap kali Banda memainkan alat musik itu, setiap instrumennya bisa terdengar sangat magis. Bahkan setiap mereka tampil berdua dengan kedua alat musik masing-masing, selalu mendapatkan tepuk tangan paling meriah ketika Nada tampil dengan organnya dan Banda dengan trombonnya. Setidaknya malam akan berakhir dengan sangat indah karena itu.
__ADS_1
Berminggu-minggu sampai waktu tak terasa berlalu sangat cepat. Semua berjalan normal hingga akhirnya malam kelabu itu tiba. Malam yang membuat semuanya jadi berantakan. Nada pergi dan terpaksa harus mengorbankan La vie en rose karena ia tak ingin lagi berada di Jakarta. Banda juga sudah mencoba mencegah kepergian Nada saat tau tentang keputusan itu. Tapi seperti halnya ketiga sahabat Nada yang lain, Banda juga tak bisa apa-apa. La vie en rose harus ditinggalkan. Nada menyerahkan segala urusannya pada Banda.
Tidak mudah. Bahkan sangat berat rasanya bagi Nada meninggalkan La vie en rose. Tapi ia tetap ingin pergi sejauh mungkin dari Jakarta saat itu. Kejadian malam kelabu memang benar-benar telah mematahkan hatinya. Bahkan, setelah sampai di Paris pun Nada tidak mau mengingat Jakarta lagi dan semua yang ada di dalamnya. Sampai ke bagian terkecilnya sekalipun. Nada berusaha melupakan dan memulai semuanya lagi.
__ADS_1