
Saat mereka sudah sampai di festival, mereka disambut oleh Putis yang tiba-tiba lari ke arah Nada. Mila dan Bedul juga datang setelah itu. Mengagetkan. Mereka pun mengobrol seiring suara tepuk tangan terdengar berulang-ulang. Di atas panggung, seorang penyanyi jazz perempuan berdiri tegak paling depan dengan flute ditangannya. Iringan piano dan beberapa instrumen dimainkan setelah perempuan itu meniup beberapa not flute yang menusuk. Memejamkan matanya, penyanyi itu mulai bersenandung lagu mengikhlaskan.
Penonton bertepuk tangan lagi. Tak terhitung berapa kali suara tepuk tangan terdengar. Seluruh penampilan musisi-musisi jazz hebat yang mengisi festival memang sangat mengagumkan. Tiga hari yang luar biasa. Mungkin juga gak pernah mengecewakan. Summer jazz festival ini memang patut diacungi jempol. Berjalan dengan sangat baik. Selain itu juga, jika ada satu orang yang pantas diberi penghargaan untuk keseluruhan dari festival, tentu orangnya adalah Cikal. Walaupun festival ini melibatkan banyak orang yang pantas diberi penghargaan juga, tapi untuk satu penghargaan kecil yang lebih, Cikal pantas mendapatkannya. Oh iya, tadi sebelum perempuan di atas panggung itu tampil, pembawa acara bilang setelah ini acara penutupan akan berakhir dengan penampilan terakhir dari seorang maestro, pemain organ terbaik, atau apalah sebutannya tadi. Nada tertawa kecil mendengar itu. Sudah pasti orang yang dimaksud pembawa acara itu adalah Cikal.
"Tapi nanti di Jakarta, Mila bisa ketemu sama kakak lagi, kan?" Mila bertanya pelan. Menggoyang-goyangkan tangan Nada. Raut wajahnya penuh harap.
Di sela-sela riuhnya suara tepuk tangan penonton, diantara cuaca murung dan kesenduan instrumen jazz petang ini, Mila berulang-ulang kali membahas tentang apa yang akan terjadi setelah festival, apakah mereka akan bertemu lagi, sebagainya, dan sebagainya. Bagi Mila, walaupun pertemuan dengan Kak Nada-nya sangat singkat, tak banyak menghabiskan waktu bersama, tapi itu sangat berharga. Entah kenapa anak sekecil Mila bisa sangat menghargai sebuah pertemuan.
Nada mengangguk pasti. Berjanji pada Mila kalau sudah di Jakarta nanti mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu. Mila tersenyum riang. Menampilkan gigi-gigi putih cantiknya.
__ADS_1
Lalu setelah itu, Mila dan Bedul pamit. Mamanya Mila datang menjemput mereka. Kata Mamanya Mila malam ini mereka harus kembali ke Jakarta. Urusan mendadak. Lagipula, Mamanya Mila juga bilang sudah cukup bagi mereka menghabiskan waktu tiga hari di Banda Neira walau festival belum benar-benar selesai. Semua penonton bertepuk tangan. Sorot lampu panggung bergerak ke segala arah. Warna-warni. Mila, Mamanya, dan Bedul pergi. Nada melirik Bunyi.
Entah apa yang sudah dipersiapkan si ahli pembuat kejutan itu. Sejenak Nada memikirkan tentang kejutan selanjutnya. Ia belum bisa menebaknya. Tapi apapun kejutannya, bentuknya, itu tak jadi masalah. Karena untuk Nada, seperti apa yang Bunyi sampaikan tadi pagi lewat video call, semua yang terjadi, yang mereka lewati sama-sama sudah cukup menjadikan hari ini sangat spesial untuk Nada. Nada tersenyum centil. Sekarang Bunyi menggenggam tangannya.
Sepuluh menit kemudian penonton bersorak sorai. Penyanyi jazz di atas panggung menyelesaikan bagian terakhir lagunya. Menyampaikan beberapa kalimat seperti ucapan terima kasih dan sampai jumpa lagi. Kemudian disusul dengan salam hormat dan langkah kaki turun dari atas panggung. Nada melirik Bunyi lalu memperhatikan sekitar. Matanya mengerjap-ngerjap. Sejak tadi, ia belum melihat Bu Mira di sini.
"Nan," Suara Nada terdengar memanggil. Bunyi menoleh.
"Kayaknya ada di belakang panggung, Lea."
__ADS_1
Nada bingung. Di belakang panggung?
Suara pembawa acara terdengar menyapa dari atas panggung. Memecah suasana. Menyampaikan beberapa kalimat pertanda kalau festival sudah sampai di penghujung acara. Mengucapkan banyak terima kasih dan berharap semoga akan bertemu lagi. Barulah di akhir kalimatnya, nama itu disebutkan. Nada menatap panggung. Formasi lampu sorot menyeruak ke atas langit. Televisi besar di atas panggung juga menyala, menampilkan satu per satu wajah personel band yang sudah ada di tempatnya masing-masing, memegang instrumen yang akan mereka mainkan. Semua penonton memberikan applause.
Televisi besar itu kembali menyorot ke arah lain. Kali ini wajah Cikal jelas terlihat sedang naik ke atas panggung. Melangkah elegan dan tak berkata apa-apa, Cikal langsung duduk di bench organnya. Suara biola, strings, perlahan terdengar setelah itu. Mengiringi. Hembusan angin kencang juga tiba-tiba datang saat Cikal mulai menyentuh tuts-tuts organnya. Setidaknya ada 35 tuts mengisi bergantian.
Nada fokus melihat Cikal. Terkagum-kagum. Indah sekali. Bahkan semua penonton juga sama kagumnya. Penampilan Cikal seperti membius mereka. Tapi bedanya, cuma Nada yang mengenal ritme-ritme itu. Lagu yang sama saat ia pertama kali melihat pertunjukan Cikal di New Hall setahun lalu. Cikal menciptakannya sendiri. Yang berjalan cepat di awal lagunya, lalu perlahan pelan pada puncaknya. Nada ingat Cikal pernah bilang padanya kalau lagu itu berarti sebagai sebuah harapan.
Lima menit berjalan sangat cepat. Cikal menyelesaikan penampilan pertamanya. Semua penonton masih dengan ekspresi yang sama. Bahkan beberapa menit kemudian saat lagu kedua dan ketiga dimainkan, suara tepuk tangan terdengar lebih kencang dari sebelum-sebelumnya. Cikal memang salah satu dari yang terbaik. Penampilan terakhir dari pemain organ terbaik, semua yang ada di festival terbilang sangat beruntung punya kesempatan menyaksikan itu.
__ADS_1
Nada tersenyum lebar. Selain beruntung karena bisa menyaksikan penampilan terakhir Cikal, Nada pikir ia juga beruntung karena telah menjadi murid dari pemain organ terbaik Amsterdam itu. Ya, walau cuma setahun. Walau setelah festival ini Cikal memutuskan untuk pensiun. Tapi yang jelas, dengan waktu yang singkat itu Nada sudah belajar banyak hal darinya. Seperti bagaimana caranya memainkan satu-dua ritme lagu jazz dengan tulus. Dan dari Cikal juga Nada belajar kalau musik bukan hanya tentang bagus atau suara tepuk tangan yang kencang, tapi juga tentang kedamaian.
Penonton kembali bertepuk tangan. Meriah sekali. Wajah-wajah mereka terlihat sangat senang. Sepertinya Cikal sudah menyelesaikan penampilannya, sepertinya festival sudah berakhir. Dari atas panggung, Cikal melirik lautan penonton sebelum akhirnya beranjak dari bench organnya, mengambil microphone, melangkah ke depan panggung.