
Jam lima sore. Mereka akhirnya sampai di bandara. Tepat waktu. Di sepanjang perjalanan tadi, Jakarta ramai lancar. Bahkan macet nyaris tak ada. Nada dan ketiga peri centil turun dari mobil. Bara ikut membantu menurunkan koper. Memeluk Nada sebentar, berpamitan, kemudian bergegas pergi meninggalkan Bandara. Tugas Bara cuma mengantar saja.
Saat mobil Bara sudah hilang dari jangkauan mata, Nada dan ketiga peri centil melangkah masuk ke dalam Bandara.
Soekarno Hatta. Dalam waktu seminggu, seenggaknya Nada sudah dua kali berada di tempat ini. Dan gak ada yang tampak beda. Semuanya tetap sama. Bandara ini, tetap menjadi bagian dari pulang dan perginya seseorang. Ya, mungkin selamanya akan menjadi seperti itu.
"Girls, kayaknya kita harus makan dulu, deh. Laper nih..." ucap Jeje. Merengut chubby.
"Cup cake! Oh, atau... brownies." usul Una. Bersemangat.
"Seblak juga boleh!" tambahnya.
Jeje melirik Una, "Mana ada seblak di Bandara, Na..." ucapnya.
__ADS_1
Nada dan Naira saling tatap. Kalau Jeje dan Una sudah menentukan sesuatu, Nada dan Naira tak bisa berbuat apa-apa. Cuma bisa mengikuti saja. Apalagi Naira. Dari mereka berempat, Naira yang paling sabar, dewasa, dan tak banyak bicara. Bahkan yang paling lempeng juga.
Lagipula, perjalanan ini gak terburu-buru, kok. Masih ada waktu beberapa jam untuk bersantai. Karena kalau sesuai jadwal, pesawat mereka baru akan terbang jam delapan malam. Masih ada tiga jam waktu mereka di Bandara.
Dan sebenarnya, sewaktu dirumah tadi, Nada pikir pergi ke Bandara secepat ini adalah hal yang lumayan tergesa-gesa. Nada sebenarnya ingin berangkat ke Bandara jam tujuh malam. Tapi, Jeje dengan cepat bilang enggak. "Nanti kalau ada masalah gimana, Nad? Kalau terlambat gimana? Terus kalau macetnya parah gimana? Bisa-bisa nanti kita ketinggalan pesawat." Katanya protes. Nada pun akhirnya menurut. Tapi semua pertimbangan Jeje ada benarnya, sih. Ya, selain penekanan kata gimana, gimana, dan gimana, kalau segala sesuatu dipersiapkan dan memikirkan tentang apa yang bisa terjadi nanti, mungkin kita bisa lebih siap, ya. Mungkin bisa lebih tenang juga. Dan untuk beberapa jam berada di Bandara, menunggu keberangkatan, mungkin itu bukan ide yang buruk.
Di Bandara, ada banyak gerai toko minuman, makanan, bahkan barang-barang cenderamata yang berdiri sejajar bersebelahan. Banyak orang-orang sedang duduk di sana. Mungkin mereka sedang menunggu keberangkatan juga dan mengisi waktu luang. Atau mungkin ada yang sedang menunggu jemputan. Sementara itu, Jeje dan Una memutuskan ingin membeli beberapa makanan di toko kue yang berada di sebelah kanan coffee shop. Nada dan Naira tak ikut. Mereka lebih memilih menunggu di coffee shop saja.
Saat sampai di coffee shop, duduk lalu memperhatikan sekitar, Nada pikir untuk sekelas tempat minum kopi di Bandara, coffee shop ini benar-benar nyaman. Ramai sih, tapi tak masalah. Ya, walau tetap ada saja yang membuat mata entah kenapa terasa perih saat melihatnya. Nada memalingkan wajahnya. Tadi, ia tak sengaja melihat sepasang kekasih lagi suap-suapan sepotong kue. Padahal Bandara, kan bukan tempat yang pas untuk romantis-romantisan kayak gitu. Kesal, sih. Tapi, mau bagaimana?
"Nad?" panggil Naira. Menghentikan lamunan Nada.
"Eh, iya Nay?"
__ADS_1
Naira tertawa. "Lo mau apa? Mocca latte? atau apa? Biar gue pesan, nih."
"Americano aja, Nay..." ucap Nada refleks.
Naira menaikkan salah satu alisnya. Menatap Nada.
"Sejak kapan lo suka americano, Nad?" tanya Naira ingin tau.
Nada diam. Bingung. Astaga.
Naira benar. Sejak kapan, ya? Duh. Kenapa bisa kelepasan, sih. Nada menyadari kalau pertanyaan itu merepotkan sekali untuk dijawab. Untuk dikatakan. Tapi ia ingat. Sejak malam itu. Sejak Bunyi memesan satu cup americano panas di Jakarta Land. Sebelumnya Nada tak suka dengan minuman itu. Tapi karena Bunyi, bagi Nada sekarang americano seperti minuman paling enak di dunia. Dasar Bucin.
"Dulu Banda sering buatan gue itu, Nay. Enak. Gue suka." Nada mencoba mencari alasan lain.
__ADS_1
Naira mengedikkkan bahunya. Mungkin dia tak ambil pusing dengan jawaban itu. Lagian gak penting juga.
Nada menarik napas diam-diam. Sementara itu, Naira memanggil salah satu pelayan coffee shop lalu memesan satu cup americano panas dan satu cup mocca latte panas juga.