Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#18 [Bab. biru langit dan lima sekawan]


__ADS_3

"Kok gue ditampar, Lea?" Bunyi terkejut. Tamparan itu mengacaukan gelak tawanya. Bunyi panik. Bahkan Yang tampak di depan matanya sekarang hanya raut wajah kesal Nada saja.


Ternyata semuanya hanya lelucon. Sikap Bunyi dan semua yang terjadi di Rooftop juga sama bercandanya. Walaupun tidak tau apa motivasi Bunyi melakukan itu, Nada tetap masih sangat kesal. Jelas sekali tergantung di sorotan matanya. Lagi pula, perempuan mana yang senang jika hatinya dipermainkan?


"Lea...." teriak Bunyi saat melihat tangan Nada melayang, mengarah ke pipi sebelah kirinya.


Namun, sebelum pesawat kekesalan itu mendarat mulus, suara langkah kaki seseorang terdengar menaiki anak tangga Rooftop.


"Di sini kalian rupanya..." Suara Bu Mira. Hadir dengan langkah kaki mengakhiri tiga anak tangga terakhir Rooftop.


Tetap dengan wajah tenang, suara yang meneduhkan, setidaknya Bu Mira menggagalkan niat Nada mendaratkan tamparan kedua pada Bunyi. Mendengar suara dan melihat kehadiran dari Bu Mira, Nada dengan cepat menghentikan laju tangannya.


"Yang lain uda pada mulai makan tuh. Ayo..." ucap bu Mira tersenyum. Melihat Nada dan Bunyi bergantian.


Namun, saat Bu Mira melihat Bunyi, tatapannya terhenti. Bu Mira bingung melihat Bunyi memegang pipi kirinya. Seperti sedang menahan sakit.


"Kamu lagi sakit gigi, Nan?"

__ADS_1


"Enggak, Ma..."


"Terus... Pipinya kok dipegang terus?" tanya Bu Mira bingung.


"Tadi abis digigit nyamuk, Ma."


"Nyamuk?"


Bunyi mengangguk.


Bu Mira berpikir. "Kok Pak Agus gak pernah bilang ke Mama, ya."


"Ah, masa sih?" Bu mira melangkah ke arah bunga Monstera lalu memerhatikan sekitar.


"Apa jangan-jangan mereka di sini, ya?" ujar Bu Mira bingung. Memeriksa daun Monstera.


Saat Bu Mira memeriksa daun Monstera, Nada dan Bunyi saling lirik. Sama-sama menyimpan kekesalan masing-masing, mereka seperti mengisyaratkan sesuatu pada lirikan mata mereka satu sama lain. Yang satu kesal karena sudah dipermainkan, yang satu lagi kesal karena sudah di tampar.

__ADS_1


"Nanti Mama bilang sama Cece deh bunganya di bawa ke dalam aja, biar gak jadi sarang nyamuk." Ucap Bu Mira. Yang kini kembali ke arah Nada dan Bunyi.


"Kamu digigit juga, Nad?" Sekarang Bu Mira tampak memerhatikan Nada.


Nada melirik Bunyi, lalu berganti melihat Bu Mira. "Iya, Buk. Nyamuknya gede kayak buaya. Terus tadi aku juga digombalin..."


Bu Mira terawa kecil. "Mana ada nyamuk segede buaya... Kamu ada-ada aja." Bu Mira menatap Nada dan Bunyi bergantian, "Yaudah ayo turun. Makan. Nanti keburu dingin gak enak."


Nada mengangguk pelan. Tersenyum.


Bu Mira duluan turun menyusuri anak tangga Rooftop. Disusul Nada yang sebelum melangkah, menyempatkan menatap Bunyi terlebih dahulu. Tatapan kesal juga puas. Malah yang sekarang tampak sepenuhnya kesal adalah Bunyi. Kesal karena tamparan tadi.


Mengusap pipi kirinya beberapa kali, Bunyi ikut melangkah turun dari Rooftop. Mengikuti langkah kaki Bu Mira dan Nada.


Dari Rooftop Blanche Amsterdam, langit mulai orange. Kicau burung menyambut Dewi hati turun membawa matahari ke ujung Bumi. Sebentar lagi malam datang. Bulan kesepian, ketenangan, dan kebahagiaan akan menjadi satu sebagai perwakilan setiap perasaan.


Sejak dulu, belum ada laki-laki yang berani menyatakan perasaanya pada Nada. Bahkan walau hanya sekadar bilang suka. Karena Nada terkenal sangat tertutup dan tidak ingin terlalu terburu-buru mengenal seseorang yang akan menjadi pasangannya. Tapi tadi, setelah sempat hampir luluh dengan sikap Bunyi, semua penjelasannya walau mereka baru pertama kali bertemu, walau terlihat sangat cepat dan tergesa-gesa, setidaknya membuktikan kalau perempuan seperti Nada juga punya hati.

__ADS_1


Ya, sebelum akhirnya Bunyi mengakhiri perubahan sikap Nada yang menjadi lebih terbuka itu dengan lelucon. Merusak semuanya.


__ADS_2