Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#67 [Bab. jakarta land dan si putis]


__ADS_3

"Ma," ucap Nada. Ia perlahan bangun, lalu duduk di samping Bu Ann.


Bu Ann menoleh. Memasukkan sisa-sisa kenangan yang dia lihat ke dalam kotak, "Eh, Tuan Putri uda bangun." ujarnya.


Nada bingung. Menepikan boneka beruang, Tuan putri?


"Sini." Bu Ann menepuk paha. Tersenyum.


Nada mengerti gestur itu. Ia paham betul maksudnya. Nada, bergeser lalu menaruh kepala. Tertidur di pangkuan Ibunya.


Dua puluh lima tahun tidak menjadi halangan untuk seorang anak tertidur di pangkuan Ibunya. Ya, karena, hubungan antara Ibu dan anak lebih dari itu. Setelah perpisahan Bu Ann dan Pak Karso, ditambah lagi kedatangan Pak Tio, serta kepergian Nada setahun lalu, momen seperti ini tak pernah terjadi. Sudah lama sekali. Terakhir, saat perayaan ulang tahun Nada kecil yang ke-3. Saat itu, ada dua pangkuan yang saling menopang kepala malaikat kecil. Masih utuh. Sempurna. Tapi semenjak saat itu, tak pernah terjadi lagi. Barulah sekarang Nada merasakan pangkuan itu lagi. Walau cuma satu, walau satunya pergi, tapi tak apa.


"Dulu... Papa kamu yang sering mangku kamu. Apalagi kalau kamu lagi marah sama Mama. Kamu lari ke Papa kamu, terus tidur di pangkuannya."


Nada melirik Bu Ann. Entah kenapa Ibunya berkata seperti itu. Apa Bu Ann tidak sadar kalau dia secara tidak sengaja mengingat sisa-sisa kenangan yang nantinya akan membuat hatinya terluka? Tapi, sepertinya tidak. Bu Ann memang sengaja mengulang sisa-sisa kenangan itu. Tanpa perlu memikirkan akibatnya, mungkin begitulah arti dari kata berdamai.

__ADS_1


"Iya, Mama ingat." ujar Bu Ann. Mengerutkan dahinya. Mencoba mengingat sesuatu. Bersemangat.


"Mama ingat betul satu hari setelah pesta ulang tahun kamu. Mmm... kedua? Atau ketiga, ya? Tapi Mama ingat setelah pesta itu kamu sakit. Demam. Terus kamu minta dibelikan es krim. Mama larang, terus kamu nangis. Lari dari kamar ke ruang tamu, langsung meluk Papa. Dan... tidur di pangkuannya." Bu Ann tertawa kecil.


"Terus besoknya, Papa kamu beli es krim yang kamu minta. Dia bilang ke Mama, Gapapa. Malah kalau gak diturutin, demamnya bisa makin tinggi."


Nada ikut tertawa setelah Bu Ann mencoba meniru gaya bicara Pak Karso.


"Ya, wajar kalau kamu lebih sayang ke Papa kamu ketimbang Mama." ledek Bu Ann.


"Ma..." Nada tersenyum lalu memeluk Ibunya.


"Anak Mama uda gede... banget." Bu Ann mengelus rambut Nada, menepuk-nepuk pundaknya. Tersenyum.


"Ohiya, ada titipan tuh untuk tuan putri dari pangeran kodok." ucap Bu Ann tiba-tiba.

__ADS_1


Nada kaget. Tuan Putri.


Sudah dua kali Bu Ann menyebutkan panggilan itu. Dan sekarang, ditambah dengan Pangeran Kodok? Benar. Itu pasti ulahnya. Nada tertawa tipis.


Itu pasti dari Bunyi. Ya, siapa lagi Pangeran Kodok yang dimaksud Bu Ann kalau bukan Bunyi? Lagipula, sejak kapan Bu Ann memanggil Nada dengan sebutan Tuan Putri? Laki-laki, nyebelin. Ucap Nada dalam hati. Tapi raut wajahnya riang. Di sisi pipi kiri dan kanan, ada merahnya juga.


"Ehem, ehem..." Bu Ann terbatuk.


Menatap Nada, "Kayaknya ada yang lagi kasmaran nih." tambahnya.


"Mama..." Wajah Nada semakin memerah. Jelas tersipu malu.


Bu Ann tertawa melihat ekspresi Nada. Dia tau betul kalau anaknya lagi berbunga-bunga. Lagipula, raut wajah malu-malu, pipi merah merona, tampak gugup, ya, apalagi kalau bukan sedang jatuh cinta? Siapapun orangnya, sudah pasti tau tentang itu.


"Mama mau masak dulu deh. Mau buat makanan spesial untuk Tuan Putri."

__ADS_1


"Mama...." ucap Nada salah tingkah.


Bu Ann tertawa lagi. Lalu pergi meninggalkan kamar. Meninggalkan hati yang sedang mekar-mekarnya. Meninggalkan bulan yang sedang dikelilingi rasi bintang paling cantik. Nan, awas saja kalau ketemu. Nada menggerutu di dalam hati. Namun tetap senyum-senyum sendiri.


__ADS_2