Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#36 [Bab. sepasang kerang jingga]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Kiara Leonard - Deepest Woods]


...• • •...


"Udah rapi aja, Nad. Mau pergi kemana?"


"Ke rumah sakit sama Nanda, Nay."


"Nanda?"


"Maksud gue Bunyi."


Nada dan Naira berada di ruang tamu. Sekarang masih pukul tujuh pagi.


Naira tampak menyirami beberapa pot bunga yang ada di sudut ruangan, sebelum akhirnya di taruh di luar. Sementara Nada, baru saja menyiapkan diri. Karena hari ini, ia akan pergi dengan Bunyi ke rumah sakit.


Tadi, sewaktu Nada bangun, Bunyi mengirimkan pesan singkat. Tidak menelepon. Cuma bilang akan segera datang pukul tujuh pagi. Entahla. Nada juga tidak tau kenapa mereka akan pergi sepagi ini.


"Ke rumah sakit atau nge-date chapter dua nih?" rayu Naira.


Yang dirayu malah tersenyum dan tertawa tipis.


Nada melirik sekitar, "Jeje sama Una mana?"


"Ya, masih tidurlah, Nad. Lo kayak gak tau mereka aja." jawab Naira.


Nada tersenyum tipis.


Sejak dulu, di antara mereka berempat, Naira memang yang paling cekatan kalau soal bangun pagi. Dan untuk Nada, bahkan ia tidak pernah bangun sepagi ini sebelumnya. Ini semua karena janji itu. Ia sudah terlanjur janji dengan Bunyi.

__ADS_1


Nada duduk di sofa. Merapikan tootbag putih motif bunga matahari. Sementara itu, Naira masih sibuk menyirami beberapa pot bunga.


Tak lama berselang, suara vespa terdengar. Masuk ke halaman rumah. Itu si biru langit. Bunyi sudah sampai.


"Tuh, yang ditunggu udah datang..." ujar Naira.


Nada yang mendengar suara vespa Bunyi, lantas beranjak dari sofa, lalu melangkah perlahan ke arah pintu. Naira pun begitu. Ikut melangkah juga dan membawa satu pot bunga Phalaenopsis Amabilis ditangannya.


Di depan, Bunyi sudah beranjak turun dari vespa. Melepaskan helm, lalu melangkah ke arah Nada dan Naira yang sekarang berada di depan pintu.


"Tuhan memang baik banget, ya..." ucap Bunyi tiba-tiba.


Nada dan Naira saling tatap.


"Baik?" tanya Nada bingung.


"Padahal masih pagi, tapi uda ngasih sesuatu yang luar biasa. Cantik. Gak pernah mengecewakan." tambahnya.


Nada tersenyum tipis. Sepertinya Bunyi sedang memuji Nada. Atau bahkan merayunya. Karena Bunyi menatap Nada sambil mengatakan kalimat barusan. Ya, setidaknya raut wajah Nada mulai sedikit merah merona. Tersipu malu.


Bunyi mendekat ke arah Naira. Dia memegang satu pot bunga yang tadi Naira bawa dari dalam. Memejamkan mata sebentar, Bunyi menghirup aroma daun bunganya.


"Kalau ini dirawat, dijaga dengan baik, pasti bakal tumbuh dan jadi makin cantik." jelasnya.


Sial. Ternyata dari tadi, Bunyi tidak sedang memuji kecantikan Nada. Tapi memuji bunga anggrek bulan itu. Sontak, wajah Nada yang tadinya sempat sedikit merah merona, sekarang malah berubah menjadi sedikit kesal.


Ya, setiap orang memang punya penilaiannya masing-masing. Tapi, jika pujian itu tertuju pada bunga, lantas kenapa tadi Bunyi menatap Nada sambil mengatakan kata cantik itu? Bunyi tertawa tipis. Dia melihat eskpresi itu di wajah Nada. Dia sepertinya tau kalau Nada sedang kesal.


"Tapi kalau untuk yang ini... kayaknya tuhan benar-benar gak adil deh," ucap Bunyi. Menatap Nada.

__ADS_1


Nada yang tadi sempat memalingkan wajah karena sedikit kesal pada Bunyi, sekarang malah menatap Bunyi kembali. Namun tak seperti tadi yang langsung menjawab, kini Nada hanya diam.


Naira melirik Nada, kemudian melihat Bunyi. "Gak adil kenapa Bang Bunyi?" ucapnya bingung.


"Gak adil karena uda menciptakan perempuan yang cantiknya berlebihan kayak gini..." jelas Bunyi.


Naira tersenyum tipis. Dia tau kalau pujian itu untuk sahabatnya. Yang sekarang seperti terlihat grogi.


Sebenarnya Nada memang sedang grogi. Detak jantungnya berdetak cepat. Tapi, ia tidak ingin menampilkan itu di wajahnya. Ia tidak ingin Bunyi tau. Mengingat, bisa saja pujian itu seperti sebelumnya. Tidak untuknya, dan malah untuk sesuatu yang lain. Karena Bunyi kan memang begitu. Tidak bisa ditebak. Yang paling menyebalkan.


Nada memantapkan tatapannya pada Bunyi. Tersenyum cantik.


Tapi jangan salah. Senyum itu, bukan sepenuhnya menjadi senyum yang benar-benar cantik. Karena tak berselang lama, Nada menarik telinga kiri Bunyi. Lalu membawanya melangkah ke arah halaman. Ke arah si biru langit.


Naira terkejut. Tidak menyangka Nada akan melakukan itu. Apalagi Bunyi. Bahkan dia terlihat kesakitan.


"Aduh, Lea..." teriak Bunyi.


Nada mendengar teriakan itu jelas. Namun ia sama sekali tak acuh.


"Kenapa kuping aku ditarik, Lea?" Bunyi masih kesakitan.


Nada melepaskan pegangan tangannya pada kuping Bunyi, "Biar kamu kerjaannya gak gombal terus."


"Gombal?"


Nada mengangguk, "Iya kayak tadi."


Bunyi tertawa. Melepaskan usapan tangannya pada telinga kiri, lalu bersandar pada setang vespa.

__ADS_1


__ADS_2