Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#04 azalea


__ADS_3

...• • •...


"Selamat tambah gede adek kesayangannya, Mas. Maafin semua kesalahan Mas selama ini yang gak pernah bisa ngertiin kamu ya..." Suara Bara terdengar lirih. Terlihat sedang menahan sesuatu agar tidak keluar.


Yang diberi ucapan selamat menyeka air matanya. Tersadar dari kenangan setahun lalu. Nada kembali meninggalkan malam kelabu itu jauh di belakang. Nada tak mau mengingatnya lagi. Semuanya sudah cukup. Kini air mata yang tadi memenuhi raga dan jiwa Nada berganti dengan senyum seutuhnya.


"Udah gede masih cengeng aja." Bara menyentuh ujung hidung Nada dan mengusap air mata yang ada di pipi Nada.


"Aku tuh gak nangis, Mas. Cuma kelilipan." Nada kembali menyeka air matanya. Berusaha menutupi tangis bahagia itu.


"Mas Bara so sweet banget sih jadi abang. Jadi pengen punya pacar deh gue." Jeje berseru-seru gemas.


"Yee, bisa aja lo bedak bayi..." celetuk Naira.


"Lembut dong?" Jeje melipat dahinya. Naira dan Una saling tatap lalu tertawa.

__ADS_1


"Kok pada ngetawain gue sih?" Jeje bingung melihat kedua sahabatnya tertawa. Di sisi lain, Nada dan Bara ikut tertawa juga.


"Eh guys, makan yuk. Semenjak di Paris, kayaknya timbangan gue turun empat kilo deh." Jeje memegang perutnya.


"Baru juga sehari, Je. Lebay banget badan lo!" ucap Naira ketus.


"Tau nih, lebay..." Una mengangguk-angguk. Jeje memalingkan wajahnya.


"Tapi iya sih, gue juga laper sebenernya. Nad, ajak kita makan dong. Mumpung di Paris, ya sekalian jalan-jalan. Kan lagi ulang tahun." Naira tertawa kecil.


Melihat Bara dan ketiga sahabatnya bergantian, tanpa berpikir panjang, "Yaudah. Karena sahabat-sahabat gue yang centil-centil ini uda datang jauh-jauh dari Jakarta ke sini, sebagai balasannya... Gue bakal ngajak makan di cafe favorit gue deh, gimana?"


"Jeje!" celetuk Naira.


"Becanda, Nay... serius amat."

__ADS_1


"Mumpung di Paris, gue bisa sekalian nyari cowok..." ucap Una polos. Berbisik sangat pelan tapi sepertinya masih tetap terdengar oleh semuanya dan seketika membuat Una jadi pusat perhatian mereka.


"Kenapa?" Una bertanya pada Jeje dan Naira setelah keduanya menatapnya sambil menahan tawa.


"Gini deh, Nada yang nunjukin tempat makannya, Mas yang traktir semuanya, gimana?" usul Bara. Suasana kembali meriah setelah Bara mengatakan itu. Jeje kembali berseru-seru senang. Yang paling heboh.


"Mas Bara memang yang paling the best deh." puji Jeje. "Yaudah, nunggu apa lagi?"


Nada menatap Bara. "Mas yakin?"


"Ya--yakin." jawab Bara ragu. Memainkan kedua bola matanya. Nada menaikkan salah satu alisnya.


"Di sini makanannya gak mahal-mahal, kan?" Bara berbisik pelan. Nada tertawa.


"Mas becanda kok. Ini kan hari spesialnya kamu." Bara menyentuh ujung hidung Nada. "Yaudah, ayo..." Bara melihat semuanya bergantian. Merangkul Nada, kemudian mereka pun melangkah perlahan ke arah pintu keluar gedung. Jeje, Naira, dan Una mengikuti.

__ADS_1


"Nada.."


Belum sampai di pintu keluar gedung, bahkan belum genap sepuluh langkah kaki, panggilan seseorang terdengar. Menghentikan langkah kaki mereka. Nada dan yang menoleh. Ternyata panggilan itu berasal dari Cikal yang sekarang melangkah mendekat ke arah mereka. Seluruh perhatian tertuju padanya. Namun, belum lama menatap pemain organ terbaik Paris itu, Nada meminta Bara dan yang lain untuk duluan. Menunggu di depan gedung. Memberitahu mereka, kalau ia akan segera menyusul. Bara dan yang lain pun mengangguk. Melangkah pergi meninggalkan Nada dan Cikal.


__ADS_2