
Matahari genit sempat membuai langit sampai akhirnya lari dan kini berdamai dengan awan. Bersembunyi di baliknya. Gerimis masih mengguyur. Rintiknya menari-nari dan jatuh menyentuh bumi.
Setelah meninggalkan pemakaman jauh di belakang, melewati rapatnya gerimis dan beberapa kendaraan yang tampak lalu-lalang di jalanan, si biru langit sampai di depan sebuah toko. Dari luar, dilihat dari kaca transparan, tampak beberapa orang mondar-mandir di dalamnya.
"Ayo, Lea..." ucap Bunyi. Melepaskan helm, memarkirkan vespa.
Kemudian mereka turun. Segera melangkah ke arah pintu masuk toko itu. Namun, ada sesuatu yang membingungkan dari tempat ini. Saat Nada hendak masuk, pandangannya tak sengaja tertuju pada kaca transparan yang terlihat menampilkan beberapa huruf. Langkah kaki Nada terhenti.
Mungkin itu adalah nama toko ini. Pikir Nada. Tapi, huruf-hurufnya sama sekali tidak dimengerti. M, N, G, S, E, P. Begitulah huruf-huruf yang menempel pada kaca. Entah apa artinya, atau bahasa apa yang digunakan, tapi itu memang rumit untuk ditelaah.
Nada menghentikan pandangannya pada huruf di kaca, lalu mencari Bunyi. Sial. Yang dicari malah sudah masuk diluan ke dalam toko. Meninggalkan Nada di luar.
Menghentikan rasa penasaran pada huruf yang menempel di kaca toko, Nada akhirnya melangkah masuk ke dalam.
"Gimana tempatnya, Lea? Bagus gak?" ujar Bunyi saat setelah Nada masuk ke dalam toko, dan berada tepat di sampingnya.
Nada mengangguk pelan, "Iya, bagus..."
__ADS_1
Nada memperhatikan semua yang ada di dalam toko. Yang tampak seperti sebuah restoran, karena banyak sekali tamu terlihat sedang menyantap sesuatu di atas meja mereka masing-masing.
Tempat ini hampir sama seperti Blanche mungkin. Tapi, kalau Blanche mengusung tema makanan internasional yang dikemas dengan bumbu-bumbu Nusantara, berbeda dengan tempat ini. Karena sejak Nada memperhatikan, yang ada pada setiap meja tamu-tamu di sini adalah satu menu yang sama. Bakso.
Sudah setahun Nada tidak memakan salah satu makanan kesukaannya itu. Karena semenjak ia pergi ke Amsterdam, ia sudah tak mengenal bakso lagi. Sangat susah mencari bakso di Amsterdam. Bahkan meskipun ia bertemu dengan Bu Mira, orang indonesia yang memiliki restoran---cafe nuansa nusantara, tetap saja di menu makanan Blanche tidak ada bakso.
Nada melirik Bunyi.
Kenapa dia bisa tau kalau gue suka bakso?
Nada menghentikan lirikan itu, kemudian memperhatikan bagian yang lain.
Tata letak ruang tempat ini hampir sama seperti Blanche. Tapi yang membedakannya, di sini tidak ada Azalea dan bunga-bunga lain yang nihil ditemukan. Juga tidak ada Bu Mira yang akan selalu memberi kehangatan. Tapi yang pasti, selalu ada Bunyi yang membuat Nada kesal di sepanjang waktu.
Setelah berhenti memperhatikan sekitar, dan masih berdiri di depan pintu, seketika Nada terdiam dan terlihat canggung. Seperti ada yang aneh.
Beberapa tamu yang mondar-mandir dari depan Nada dan Bunyi seperti sedang tertawa saat melihat ke arah mereka. Lebih tepatnya sedang menertawakan sesuatu.
__ADS_1
Nada bingung. Kira-kira apa yang sedang ditertawakan mereka? Melihat keanehan itu, Nada dan Bunyi kemudian melihat satu sama lain. Serentak. Sontak Bunyi langsung tersedak. Tertawa geli. Nada yang melihat Bunyi tiba-tiba tertawa, jadi semakin bingung.
"Kok lo malah ikut ketawa?"
"Tuh," Bunyi menunjuk sesuatu. "Helmnya lupa lo lepas. Emangnya di dalam sini masih hujan ya, Lea?" ledek Bunyi yang masih melanjutkan tawanya.
Nada terkejut.
Aduh, pantas aja dari tadi pada ketawa mulu. Bego banget sih, Nada.
Setelah mengetahui penyebab kenapa orang-oang tertawa saat melihatnya, di saat itu juga Nada langsung melepas helm dari atas kepalanya. Ia semakin merasa canggung.
Sebenarnya, kalau di Jakarta, hal seperti itu tidaklah menjadi masalah. Tapi kan, ini Amsterdam. Hal-hal seperti tadi bisa dianggap sebagai lelucon pagi menjelang siang untuk mereka.
Lagi pula, perempuan juga manusia kok, yang bisa gagal fokus kapan saja. Mungkin saat turun tergesa-gesa dari vespa agar terhindar dari gerimis, dan teralihkan pandangannya oleh huruf-huruf aneh di kaca depan toko, Nada jadi lupa melepas helm terlebih dahulu.
Nada melihat Bunyi. Sinis.
__ADS_1
Laki-laki itu sudah memberhentikan tawanya. Malah sekarang menggeleng pelan sambil melirik ke arah Nada. Dan yang dilirik, ya, sudah pasti kesal. Baru saja sampai di tempat yang sama sekali belum pernah ia datangi, masa, sambutannya seperti itu? Namun, hal itu memang sepenuhnya adalah kecerobohan Nada. Dan kali ini, Bunyi tidak pantas untuk disalahkan. Nada tertawa di dalam hati.
Tapi, di sela-sela semua itu, suara seseorang tiba-tiba terdengar menyapa dari jauh.