Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#50 [Bab. matahari itu tenggelam, nan]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Stephan Moccio - Sea Change]


...Dan bagaimana kabarnya sesuatu yang hilang?...


Mobil melaju normal. Ketiga sahabatnya Nada sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing. Jeje yang duduk di depan mendampingi Pak Tono, tampak sedang memperhatikan sepotong Azalea yang diberikan Bu Mira padanya sewaktu di Blanche. Sementara itu di bangku belakang, Naira dan Una sedang melihat beberapa foto yang sempat mereka ambil di banyak tempat sewaktu berada di Amsterdam.


Tapi, sahabat mereka yang hatinya mungkin sedang tidak baik-baik saja, sedang menatap lamat-lamat setiap bagian dari Jakarta yang terlewati. Memikirkan sesuatu. Tapi kali ini bukan tentang pertemuannya dengan Bu Ann. Melainkan tentang Pak Karso.


Apakah Pak Karso akan datang? Apakah Nada akan bertemu lagi dengannya di rumah? Mungkin pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang sedang bergelut di dalam pikirannya. Tapi, jika rindu bisa dihitung dengan segala jenis perbandingan-perbandingan yang ada, sepertinya itu mustahil. Pak Karso tentu tidak akan datang. Dan sekali lagi Nada kembali memikirkan tentang keberadaan Ayahnya itu. Yang benar-benar hilang bak ditelan bumi.


Handphone Nada bergetar. Ia menghentikan tatapan lamunannya dari balik kaca mobil. Dan langsung melihat handphone. Itu, pesan masuk.


***


Hai, putri hujan. Kamu lagi apa? Coba aku tebak. Lagi nyariin aku, ya?


***


Bunyi. Itu pesan darinya. Nada memperhatikan sekitar sebentar, lalu melihat pesan itu lagi. Ia tidak salah lihat. Itu memang pesan masuk dari Bunyi.

__ADS_1


Nada memang sedang kesal pada Bunyi. Ya, perempuan mana yang tidak kesal dengan laki-laki yang datang dan pergi sesuka hatinya. Bunyi memang menyebalkan. Tapi entah kenapa, ekspresi Nada berbeda saat mengetahui pesan itu dari Bunyi. Tidak kesal lagi, sepertinya malah bahagia.


***


Nan, kamu dimana?


Kenapa? Kamu kangen sama aku? Masa baru aja ketemu uda langsung kangen sih, Lea?


Bisa gak satu hari aja tanpa gombalan, Nan?


Ya, kamu. Bisa gak satu hari aja jujur sama perasaan kamu sendiri, Lea?


Yaudah bentar, aku ke atas pohon dulu.


Kok ke atas pohon?


Soalnya aku mau minjam sayap burung biar terbang ke angkasa, Lea.


***

__ADS_1


Nada tertawa pelan. Bunyi memang selalu punya cara untuk membuatnya seperti ini. Ya, walaupun bisa dibilang konyol, tapi bukankah bahagia juga bisa didapatkan dengan cara-cara sederhana? Setidaknya, Bunyi selalu punya caranya sendiri.


"Ada yang senyum-senyum sendiri nih, Nay." ujar Una tiba-tiba. Melirik Nada.


"Iya. Chat sama siapa sih, Nad? Sampai senyum-senyum sendiri gitu?" tanya Naira.


Yang ditanya malah memantapkan senyumannya.


"Sama pangeran kodok." jawab Nada.


"What?!" teriak Jeje dari bangku depan.


Naira dan Una saling tatap.


Saat kabar duka itu ada, sejak pergi meninggalkan Amsterdam, Jeje, Naira, dan Una sama sekali tidak pernah melihat wajah sahabat mereka sebahagia itu. Karena kabar duka dan pulang ke Jakarta memang menjadi pilihan yang sangat berat untuk Nada. Kesedihan-kesedihan pun menjadi jawaban walau Nada selalu menyembunyikan itu dari raut wajahnya.


Tapi, lihatlah sekarang. Kesedihan itu beberapa saat hilang. Tersapu oleh sesuatu. Seperti gerimis yang perlahan reda karena senja mulai tiba. Seperti dingin malam yang usai karena ternyata sinar bulan datang lebih terang. Perasaan memang tidak pernah berbohong dan akan selalu menjadi yang paling jujur.


Bunyi memiliki peran yang sangat penting untuk bahagia Nada sekarang. Meskipun menyebalkan. Walau menjadi laki-laki yang tak kenal kata sapa saat datang dan kata pamit saat pergi. Tapi terkadang, perasaan memang tak selalu tentang bagaimana seseorang datang dan pergi dengan baik atau sebaliknya. Karena perasaan, memang bukan tentang itu dan jauh lebih dari itu.

__ADS_1


__ADS_2