
Nada sudah pasti sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Bunyi padanya. Menurutnya ini bukan cuma lelucon. Tapi soal harga diri. Meskipun perempuan memprioritaskan hati dalam melihat sesuatu, tapi bukan berarti hatinya bisa dipermainkan. Karena hati perempuan tidak sebercanda itu.
"Tanggung jawab, Lea. Sakit nih pipi gue," bisik Bunyi.
"Diem!" jawab Nada tak acuh.
Nada, Bunyi, serta Bu Mira sampai di ruang tengah Blanche. Bergabung bersama Jeje, Naira, Una, dan Bara yang tampak sedang duduk. Yang pandangannya sekarang tertuju pada kehadiran Nada dan Bunyi.
"Kayaknya ada yang baru siap dua-duaan nih," ledek Naira.
Kemudian Nada dan Bunyi ikut duduk. Kursi yang tersisa hanya tinggal dua. Itu pun bersampingan. Entah itu kebetulan atau memang semesta mencoba untuk mendekatkan mereka, tapi yang ada malah menambah kekesalan mereka berdua. Nada melirik Bunyi yang sekarang berada tepat di sampingnya. Awas aja kalau sampe dia ngomong lagi. Laki-laki aneh.
Namun yang dilirik malah terlihat mengisyaratkan sesuatu dengan memegang pipi kirinya, melirik Nada juga. Dan ternyata tanpa mereka sadari, mereka berdua menjadi pusat perhatian yang lain. Bahkan ketiga sahabatnya Nada, sangat memerhatikan itu.
"Ayo dimakan," ucap Bu Mira pada Nada dan Bunyi.
Setelah itu Bu Mira melangkah ke arah dapur. Sepertinya sedang mencari sesuatu.
Nada dan Bunyi mengambil masing-masing piring.
"Nad," Suara Bara terdengar memanggil.
Nada mendengar itu, lalu melihat ke arah Bara. "Iya, Mas..."
"Tadi, Mama nelfon." ucap Bara ragu.
"Mama nanyain kabar kamu. Nanya gimana kondisi kamu yang sekarang." tambahnya.
Nada terdiam. Mama nanya kabar? Untuk apa, Ma? Untuk apa bertanya kabar anak perempuan yang Mama bilang bego ini? Untuk apa mama menanyakan kabar anak perempuan yang sudah kehilangan keluarganya? Untuk apa Ma? Nada menunduk sesaat. Lalu kembali menampilkan wajahnya yang sekarang terlihat seperti sedang tidak baik-baik saja.
"Terus Mama bilang, kalau kamu memang udah mutusin gak akan pulang lagi, ya, seenggaknya kamu ngobrol sama Mama lewat telfon." Bara memalingkan wajahnya sebentar, menunduk, lalu kembali melihat Nada. "Udah setahun, Nad. Kamu gak kangen sama Mama?"
Nada terhenyak. Anak perempuan mana yang tidak rindu sama Ibunya setelah lama tidak bertemu, berbincang barang sejenak, setelah lama tidak saling bertukar kasih sayang? Tapi untuk saat ini percuma. Rasa kecewa Nada setahun lalu kembali lahir. Rasa rindu itu pun terpendam jauh. Tertutupi kekecewaan, kemarahan yang sangat besar.
"Untuk sekarang aku belum bisa, Mas." ucap Nada pasti.
"Mas tau sendiri kan, kenapa aku pergi ke Amsterdam?"
Sorot mata Nada tajam. Tidak. Bukan marah, melainkan hanya kecewa saja. Karena disaat ia ingin melupakan semua kenangan pahit itu, disaat itu pula kenangan itu terus mengikutinya.
__ADS_1
Dan Bara mengetahui itu. Dia tau sorotan mata adiknya itu. Bara sebenarnya juga tidak ingin membahas tentang kenangan yang sudah lama ingin dilupakan. Tapi, biar bagaimana pun, ini soal keluarga. Jalan keluar. Kembali ke tempat yang semestinya mungkin.
Jeje, Naira, dan Una yang mengetahui kalau sahabatnya sedang dalam kondisi tidak baik, langsung berdiri menghampiri Nada. Memeluk, mengelus-elus punggungnya, memberi semangat.
Tapi di sisi lain, Bunyi sama sekali tidak tau soal itu. Dia baru saja bertemu dengan Nada hari ini. Yang dia tau, Nada cuma perempuan cantik, aneh, keras kepala, tapi lihatlah sekarang. Perempuan yang dia anggap seperti itu, mungkin sedang menangis di dalam hatinya.
"Besok Mas harus balik ke indo. Mama bilang Papa masuk rumah sakit,"
Nada menatap Bunyi.
"Maksud Mas, Pak Tio." Bunyi segera memperbaiki ucapannya setelah menyadari kalau kosah kata Papa itu menganggu telinga Nada.
"Mama nyuruh Mas pulang besok. Mas sih pengennya lama di sini karena Mas masih kangen banget sama kamu." ucap Bunyi tersenyum lirih.
"Tapi Mas lega karena kamu baik-baik aja. Apalagi, sekarang kamu berhasil mewujudkan mimpi kamu," Bunyi melihat Jeje, Naira, dan Una. "Kalian masih tetap di sini kan?"
Nada ikut melihat ketiga sahabatnya juga. Bergantian.
"Iya! Kita bakal tetap di sini." ujar Una melihat Bara sebentar. Lalu kembali melihat Nada.
"Pokoknya sampe lo mutusin balik ke Jakarta, kita tetap bakal di sini sama lo, Nad." tambah Jeje.
Nada yang tadinya sedih, kecewa, sekarang malah tersenyum mendengar semua kalimat dari ketiga sahabatnya itu. Ya, walau masih ada di dalam bayang-bayang kenangan masa lalu, tapi setidaknya ada sesuatu yang membuat Nada tetap kuat.
Bunyi yang sejak tadi memperhatikan, memberhentikan laju makannya, menenggak air putih, lalu menatap Nada.
"Gue juga bisa kok jagain lo. Jadi lo gausah takut..." ujar Bunyi pelan.
Yang ditatap malah tak acuh. Laki-laki ini sok asik banget sih. Pikir Nada.
"Mau dong dijagain dua puluh empat jam..." sahut Jeje centil.
"Satpam kali ah dua puluh empat jam..." ledek Naira.
"Tau nih si Jeje. Mas Bunyi itu bukan mau jagain lo, tapi jagain Una. Ya, kan Mas?" Una menatap Bunyi. Gemas.
Semua saling tatap. Lagi-lagi kepolosan Una mengubah suasana. Bunyi yang tadi dengan pedenya mengatakan itu pun jadi canggung. Suasana kembali normal.
Ada banyak alasan mengapa seseorang berusaha untuk melupakan beberapa kenangan. Harus digarisbawahi. Kenangan pahit. Karena, bagi mereka yang belum mampu menerimanya, akan sangat susah jika harus terus berada di bawah bayang-bayang itu. Banyak doa-doa baik juga sudah dilangitkan. Tapi, manusia juga harus tetap percaya. Karena kalau belum menerima, dan tidak percaya, apa lagi yang mau diharapkan?
__ADS_1
Langit Amsterdam gelap. Bulan datang dengan anggun. Bintang tampak walau cuma beberapa. Setelah selesai di ruangan tengah Blanche, Nada, Bara, dan ketiga sahabatnya Nada beranjak dari dalam cafe menuju mobil untuk pulang. Bu Mira dan Bunyi mengantarkan mereka sampai depan.
Bara dan ketiga peri centil masuk ke dalam mobil setelah berpamitan dengan Bu Mira.
"Nad," Bu Mira menghentikan langkah kaki Nada yang hendak naik ke dalam mobil.
"Iya, Buk?"
"Besok kamu gak latihan musik kan?"
Nada menggeleng pelan. "Enggak, Buk. Emangnya kenapa?"
"Ibuk mau minta tolong, boleh?"
"Ya, bolehlah, Buk. Mau minta tolong apa?"
"Besok Ibuk harus ngambil bunga pesanan Ibuk di Bloem. Tapi Ibuk lupa kalau besok Ibuk mau ke Copenhagen beli beberapa alat dapur sama Cece. Jadi Ibuk mau minta tolong kamu ambilin bunga pesanan Ibuk itu. Boleh?"
"Boleh, Buk." jawab Nada tersenyum.
Mendengar jawaban Nada, Bu Mira tersenyum juga. "Yaudah besok kamu biar dijemput Nanda aja. Biar kamu gak terlalu repot."
Nada terkejut. Enggak, Buk. Tolong jangan sama dia. Gue gak mau pergi sama laki-laki aneh itu. Lagian kenapa harus sama dia sih.
"Enggak, Buk. Gausah. Aku kan bisa pergi sendiri." kata Nada yang sepertinya sedang memikirkan alasan apa yang pas agar ia tidak pergi bersama Bunyi besok.
"Harus nurut sama orangtua." Bunyi menatap Nada. Mengisyaratkan sesuatu. Entah apapun itu. Tapi berhasil membuat Nada kesal lagi.
"Besok gue jemput lo jam sembilan pagi. Jangan sampai gak bangun." tambahnya.
*Emangnya lo pikir gue kerbau? Semesta, kalau di Bumi ada sepuluh saja laki-laki seperti dia, sudah pasti Bumi menjadi tempat yang paling menyebalkan*.
"Yaudah, kalau gitu aku pulang, Buk." ucap Nada. Masih menyembunyikan kekesalannya pada Bunyi.
"Iya makasih ya, Nad. Hati-hati." jawab Bu Mira tersenyum.
Dengan perasaan kesal, Nada melangkah masuk ke dalam mobil. Ia berulang-ulang kali menolak di dalam hati. Kesal kenapa Bu Mira bilang ia harus pergi dengan Bunyi. Tapi, tidak mungkin ia menolak permintaan Bu Mira tadi. Biar bagaimanapun, permintaan Bu Mira harus Nada laksanakan walau ia masih sangat kesal pada Bunyi.
Setelah itu, mobil menyala. Perlahan pergi dari halaman depan Blanche.
__ADS_1