
"Maa..." Bara sempat ingin menyela pertanyaan-pertanyaan itu, namun terhenti setelah Bu Ann melayangkan jari telunjuk ke arahnya.
"Jawab Mama, Nada... Jawab Mama." Bu Ann meminta jawaban, tapi Nada masih saja diam.
"Nada Jingga Salamah! Jawab pertanyaan Mama!" Suara Bu Ann terdengar semakin meninggi.
"Iya, Ma! Iya! Nada main musik lagi! Nada belajar musik Jazz lagi..." Nada akhirnya membalas semua pertanyaan itu. Membalas semua amarah yang ditujukan padanya sejak tadi dengan isakan tangis dan air mata yang semakin deras keluar.
Tangisan itu tidak bisa disembunyikan lagi. Semua bendungan itu roboh. Nada, hancur berantakan. Bu Ann memalingkan wajahnya sebentar kemudian menatap Nada lagi.
"Sampai sekarang aku belum tau alasan yang jelas kenapa aku gak boleh main musik, Ma." Nada menggeleng pelan, "Padahal Mama tau, kalau dulu---"
"Cukup!" Bu Ann menghentikan kalimat Nada.
"Ma..." Nada berkata lirih. Menatap wajah Bu Ann yang sekarang tampak kecewa.
"Pantas aja Papa nampar kamu. Kamu memang---"
"Memang apa, Ma? Memang apa?!" Nada membalas tatapan Mamanya. Jelas sekali air mata itu terlihat di kedua bola mata pilu Nada.
"Memang pantas ditampar hanya karena aku melakukan apa yang aku suka? Iya, Ma? Pantas diperlakukan kayak gini sama dia?!" Nada menunjuk Pak Tio. "Atau pantas gak dapetin kasih sayang Mama lagi yang lebih milih suami barunya ketimbang anak kandungnya sendiri?!"
__ADS_1
"Jaga mulut kamu itu! Dia Papa kamu!!" Sekarang amarah Bu Ann tampak sama seperti amarah Pak Tio tadi. Bedanya, sekarang Pak Tio hanya berdiam diri. Tak bicara sepatah kata pun.
"Papa? Orangtua aku? Dia bukan orangtua aku, Ma! Dia bukan Papa aku!!"
"Cukup, Nada!"
Plak
Bu Ann melayangkan tangan kanannya tepat di pipi kiri Nada. Membuat Nada mendapatkan tamparan kedua, hantaman badai kedua di malam kelabu penghujung minggu.
"Ma!" Bara berteriak. Namun, tetap tak bisa apa-apa.
"Laki-laki yang pergi dari rumah ini tanpa pernah Mama jelasin ke aku atau Mas Bara apa alasannya, Ma? Iya? Maksud Mama, Papa?"
"Dia bukan Papa kamu lagi!"
"Dia Papa aku, Ma... Dia orangtua kandung aku! Dia Papa aku, Ma..." Tangis Nada sampai pada puncaknya. Bola mata Nada dipenuhi butiran kristal kekelaman yang dalam.
"Dia udah ninggalin kita, Nada! Dan Papa kamu ini yang menyelamatkan hidup kita!" Bu Ann yang tadinya memancarkan amarah dari wajahnya, kini terlihat luluh lantah dengan air mata yang keluar tetes demi tetes.
"Gak ada kata selamat atas kepergian seseorang, Ma. Papa gak ninggalin aku atau Mas Bara. Tapi Papa ninggalin, Mama!" Nada semakin meninggikan suaranya.
__ADS_1
Plak
Tamparan ketiga mendarat mulus. Pecah sudah malam kelabu ini. Digambarkan seperti warna merah yang diselimuti abu-abu, kanvas kehidupan Nada hancur berkeping-keping. Berserakan, berjatuhan, tenggelam di lautan kepedihan paling suram.
"Udah, cukup! Cukup! Mama gak seharusnya kayak gitu sama Nada, Ma! Cukup!" Untuk yang kesekian kalinya, Bara berusaha melerai pertikaian. Menghentikan kegaduhan yang semakin dilerai, malah semakin menjorok masuk ke lubang kepahitan.
Melihat pecah suasana yang terjadi, Pak Tio hanya berdiam diri. Entah sedang menahan emosi atau memikirkan hal lain. Tapi pada kedua tokoh utama pagelaran malam kelabu, jelas sekali terlihat kalau Bu Ann sudah masuk ke dalam perasaan yang sama seperti perasaan yang sedang dirasakan oleh Nada. Isakan tangis berbalas satu sama lain. Terdengar sangat lirih. Bergantian.
"Kamu gak tau apa-apa soal itu! Kamu gak tau apa-apa, Nada... Belasan tahun Mama hidup tersiksa, apa kamu tau itu?! Apa kamu tau perjuangan Mama untuk kamu sama Bara? Kamu gak pernah tau Mama banting tulang untuk hidup kalian berdua, sendirian, karena laki-laki itu pergi ninggalin kita!!" Tenggelam sudah Bu Ann dalam kepedihannya. Tenggelam sudah semuanya dalam genangan air mata.
"Maa..." Bendungan air mata yang sejak tadi ditahan Bara agar tidak tumpah, akhirnya tumpah juga. Bara ikut masuk ke dalam kepedihan malam kelabu setelah melihat Bu Ann sampai pada puncak tangisnya.
Tidak ada yang bisa merubah suasana malam kelabu ini. Bahkan untuk memahaminya saja sulit mungkin. Tidak ada yang bisa menyelipkan kebahagiaan walau setitik. Bu Ann layu dalam pelukan Pak Tio. Sementara Nada, masih di pegang erat oleh Bara. Tampak layu juga. Semuanya yang terjadi berlalu sangat cepat.
Tak lama setelah itu, Nada mencoba menghentikan isak tangisnya, mengusap air mata dan menghela napas, serta menatap Bu Ann sebentar. Kemudian ia memalingkan wajahnya, melangkah pergi meninggalkan ruang tamu, dengan kesedihan-kesedihan yang ia rasakan tadi, dengan air mata yang masih tercucur deras di pipinya.
"Nada... Nada..." Bara mencoba menghentikan Nada yang melangkah pergi meninggalkan ruang tamu. Pergi menyudahi malam kelabu. Tapi, teriakan Bara sama sekali tidak menghentikan langkah kaki Nada.
Akhirnya malam kelabu itu usai. Semuanya benar-benar berlalu sangat cepat. Nada sudah pergi jauh meninggalkan kekelamannya. Meninggalkan Bu Ann yang kokoh di puncak tangisnya malam itu. Meninggalkan kenangan yang mungkin gak akan pernah dilupakan, dan beranjak dari satu titik kepiluan. Meskipun masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, walau banyak hal dalam hidup pun harus berlalu begitu saja tanpa adanya sebuah jawaban.
Di satu fase kehidupan, kita memang gak pernah tau apa yang akan terjadi. Kapan kita bahagia, atau menangis dengan keras. Ya, karena kita juga gak pernah tau bagaimana caranya semesta bekerja. Kita cuma bisa menerima saja. Walau semua itu berat, sangat berat. Hal itulah yang membuat Nada berpikir kalau semuanya sudah cukup. Setelah beberapa hari setelah kejadian malam itu, Nada pun memutuskan untuk pergi. Tidak ada yang mampu mengubah keputusan Nada. Ketiga sahabatnya, Naira, Jeje, dan Una yang tau tentang kejadian itu, dan keputusan Nada untuk pergi pun sudah berulang-ulang kali mengingatkan Nada untuk berpikir lagi. Namun Nada sama sekali tidak mendengarkan mereka untuk hal ini. Bahkan Nada sengaja tidak memberi tahu Bara tentang keputusan yang sudah ia buat. Lagi pula, Nada sudah terlanjur membangun jembatan untuk menyeberang. Biar bagaimanapun ia harus tetap melangkahkan kaki di atasnya. Dan di saat itu pula, Nada memilih Paris sebagai tempat---rumah barunya. Nada ingin melupakan semuanya. Ia ingin meninggalkan kekelaman malam kelabu itu di belakang. Berharap agar semuanya menjadi asing untuknya. Laiknya bunga-bunga tidur, namun yang ini berbeda. Ia menyebutnya, sebagai mimpi buruk.
__ADS_1