Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#44 [Bab. matahari itu tenggelam, nan]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : A. Blomqvist - Agonize]


Tapi Nada harus pulang. Bahkan sekarang hati dan pikirannya hanya tertuju pada Bu Ann saja. Ia memikirkan keadaan Ibunya. Bu Ann pasti sangat hancur berantakan karena kepergian Pak Tio.


Nada ingat sesuatu.


Dulu, saat Ayahnya pergi, saat Pak Karso meninggalkan Nada dan yang lain, Bu Ann sangat hancur kondisinya. Digambarkan seperti satu tangkai bunga melati yang tercabut ****** beliung, api kebahagiaan Bu Ann benar-benar padam saat itu.


Sampai akhirnya Pak Tio datang dan menjadi matahari ufuk timur yang senantiasa membantu Bu Ann keluar dari kesedihannya. Tapi sekarang, matahari itu sudah berada di barat, tenggelam dan berteman dengan malam. Pak Tio pergi. Menghadap yang mempunyai hak atas seluruh semesta.


Sampai di dalam kamar, menaruh tootbag, Nada melangkah perlahan ke arah meja. Ia mengambil buku itu. Buku catatan hati dan perjalanan hidupnya. Yang menjadi saksi bisu juga untuk seluruh perasaan yang tercipta.


Nada membuka buku itu perlahan, lalu mengamati salah satu halaman yang di dalamnya terdapat satu foto. Itu foto Bu Ann dan Pak Tio. Nada menangis. Sesenggukan.


Ia lalu menutup buku itu dan melangkah ke tempat tidur. Terduduk lusuh. Murung. Ia menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Berteriak di dalam hati.


Mungkin Nada memang tidak sekuat Alya yang bisa menerima rasa sakit. Ia ingin pulang. Tapi di sudut hatinya juga masih terdapat kenangan itu. Nada belum berdamai seutuhnya.

__ADS_1


Semesta tolong aku. Nada merintih di dalam hati.


"Nad,"


Suara seseorang terdengar. Itu Naira. Dia melangkah masuk perlahan ke dalam kamar. Ada Jeje dan Una juga yang ikut masuk. Mereka, melangkah mendekati sahabatnya.


Nada melihat ketiga sahabatnya datang. Ia menyeka air mata.


Jeje, Naira, dan Una kini duduk di samping Nada. Memeluk sahabat mereka. Menenangkan.


"Iya, Nad. As always."


"Lo yang kuat ya, Nad."


Ucap ketiga sahabatnya Nada bergantian. Mencoba memberi ketenangan di dalam sebuah pelukan hangat. Dan yang dipeluk, mungkin sedang tidak baik hatinya. Tapi, setidaknya kehadiran ketiga sahabatnya membuat Nada bisa jauh lebih baik.


"Makasih banyak, ya." ujarnya pelan.

__ADS_1


Ketiga sahabatnya mengangguk.


Mereka tenggelam dalam pelukan hangat itu.


Dalam momen seperti ini, Nada masih beruntung karena memiliki tiga sahabat yang bisa mengerti isi hatinya. Tapi, ya, tetap saja tidak sepenuhnya. Karena yang tau betul seluruh bagiannya hanya Nada saja.


Setidaknya masih ada yang berusaha mengerti walau belum benar-benar mengerti. Seenggaknya masih ada yang mencoba memahami walau sangat sulit untuk dipahami.


Hari yang sangat sulit untuk Nada. Tapi ia harus memilih. Nada harus bisa seperti Alya yang melawan rasa sakitnya. Atau bahkan melebihi Alya. Berdamai. Menerima apa yang sedang terjadi. Tidak mudah. Sungguh. Namun begitulah adanya. Ya, karena, kalau tidak diterima, lantas mau bagaimana lagi?


Siapa yang ingin kembali ke masa lalunya? Apalagi masa lalu yang sangat sulit untuk diterima. Manusia mana yang ingin terjebak lagi? Tapi, ini bukan sekadar masa lalu dan bukan hanya tentang kenangan-kenangan itu. Karena ini sepenuhnya tentang Bu Ann.


Walaupun trauma itu masih ada, tapi Nada masih sangat menyayangi Ibunya. Dan mungkin, momen ini adalah jawaban dari rindu-rindu yang sudah lama padam. Juga harapan yang kemarin sudah lama hilang.


Nada sudah memutuskan. Menghentikan kenangan pahit yang mulai mencoba untuk lahir kembali. Ia akan pulang. Menerima resiko apapun. Sakit yang paling sakit sekalipun.


Ma, tunggu aku.

__ADS_1


__ADS_2