Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#10 Lily


__ADS_3

Semuanya berlanjut. Mereka sama-sama keluar dari toko bunga dan berjalan berdampingan di trotoar kota. Berbincang lagi. Kali ini tentang banyak hal. Bu Ni berulang kali bertanya tentang Nada. Kenapa Nada bisa suka Lily, atau kenapa Paris yang menjadi tujuannya. Nada menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan cepat. Karena Lily cantik dan Paris sangat indah. Bu Ni tertawa. Ia sempat bergurau tentang jawaban Nada yang seperti jawaban anak usia lima tahun jika ditanya tentang darimana hujan turun. Yang pasti akan menjawab kalau hujan turun dari tuhan. Tapi meskipun begitu Bu Ni tetap menerima jawaban Nada. Ia bilang, semua hal memang tidak selalu harus dijawab. Atau semua orang pasti memiliki alasannya masing-masing. Mereka tertawa bersama. Obrolan berlanjut. Nada gantian bertanya pada Bu Ni. Tentang kenapa Bu Ni bisa ada di Paris dan tentu tentang Lily. Kenapa Lily, kenapa tidak mawar atau bunga-bunga indah yang lain. Bu Ni spontan tertawa pelan mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Ia mengambil sebatang cerutu dan korek api dari saku bajunya, lalu menghidupkan cerutu dan menghisapnya.

__ADS_1


Malam itu Paris sedikit lebih dingin. Meskipun sudah masuk musim semi, tapi langit tampak mendung malam itu. Sepertinya hujan atau rintik-rintik gerimis akan segera turun menyapa bumi. Bu Ni melihat Nada lalu tersenyum sembari meniup asap cerutu keluar dari mulutnya. Sepertinya ia sudah siap menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Bu Ni memulainya dari pertanyaan pertama. "Paris sangat indah. Beautiful." Ia menjawabnya dengan sangat singkat. Menirukan jawaban Nada tadi. Mereka tertawa bersama lagi. Sebelum akhirnya sampai di pertanyaan yang kedua. Tapi entah kenapa tiba-tiba wajah Bu Ni jadi berubah. Ia berulang-ulang kali menghisap cerutunya. Bu Ni bilang, untuk pertanyaan kedua itu ada sedikit cerita kenapa akhirnya ia suka bahkan sampai jatuh cinta dengan Lily. Nada memalingkan wajahnya sebentar lalu kembali memandang wajah Bu Ni serius. Sepertinya kali ini jawabannya tak sama.

__ADS_1


Rintik gerimis mulai jatuh satu-satu menyentuh dahi. Bunga-bunga gugur yang tadi melayang-layang menolak untuk gugur lagi. Angin juga berhenti bertiup. Malam yang membigungkan. Sejauh mata memandang, kerlap-kerlip eiffel masih menjadi yang paling terang. Suara klakson mobil terdengar sedikit riuh dari seberang jalan. Toko-toko mulai tutup seiring jarum jam genap di angka sepuluh. Bu Ni tersenyum pada Nada. Ia menghisap cerutu dan meniup asap dari mulutnya untuk yang kesekian kalinya. Bu Ni bilang, alasan kenapa dia bisa suka sama Lily karena Lily adalah penyelamat hidupnya. Seketika Nada langsung mengernyitkan dahinya. Wajahnya tampak semakin serius.

__ADS_1


Tapi saat mencoba memutar ulang penjelasan Bu Ni tadi, Nada diam sejenak. Cerita singkat Bu Ni tadi membuat Nada mengingat Ibunya, Bu Ann. Yang juga menderita gangguan mental atau depresi sampai sekarang. Nada terdiam sambil membayangkan Ibunya saat itu. Namun tak bertahan lama setelah Bu Ni bilang kalau mereka harus berpisah di simpang jalan. Arah tujuan mereka berbeda. Nada mengangguk pelan. Bu Ni bilang, Nada harus datang ke cafe miliknya besok. Ya, apalagi kalau bukan Blanche. Yang membuat mereka jadi semakin dekat setelah itu. Bu Ni tersenyum lalu melangkah pergi. Pun dengan Nada yang lanjut melangkah walau pada setiap langkahnya, ia kembali memikirkan Ibunya.

__ADS_1


__ADS_2