
[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Billie Holiday - Easy Living]
Saat sudah berada di dalam kamar inap Alya, langkah kaki Nada dan Bunyi terhenti.
"Sssttt.." ucap Alya pelan. Melihat kehadiran Nada dan Bunyi yang baru saja masuk.
Bunyi menutup pintu perlahan.
Mengedipkan kedua bola mata sambil menunjuk boneka beruang cokelat miliknya, Alya sepertinya sedang memberikan gestur tubuh, mengisyaratkan Nada dan Bunyi untuk diam.
Sontak, Nada dan Bunyi saling tatap.
"Tuan Bear mau tidur." bisik Alya. Lalu menaruh boneka beruang itu di sampingnya.
Bunyi mengangguk pelan. Lalu melangkah perlahan ke arah Alya. Nada pun mengikuti.
"Kak Bunyi!" teriak Alya setelah Bunyi sampai di sampingnya. Bahkan Alya langsung berdiri di atas tempat tidur, melompat memeluk Bunyi.
Yang dipeluk tersenyum. Ikut memeluk dan memejamkan matanya sebentar.
Sementara Nada, tersenyum juga. Dan sedikit kaget karena teriakan Alya barusan.
Tapi dari teriakan itu, Nada bisa mengerti kalau Alya sangat bahagia dengan kehadiran Bunyi. Mungkin bagi Alya, Bunyi adalah orang yang sangat penting. Karena, anak kecil tak pernah berbohong soal perasaannya. Dan pelukan itu, benar-benar menjadi jawaban.
"Kakak kenapa baru datang sekarang? Alya kangen tau..." ucap Alya dalam pelukan hangat itu.
"Kakak juga kangen banget sama kamu." jawab Bunyi lirih. Masih tersenyum.
__ADS_1
Alya melepas pelukan mereka.
"Tuan Bear juga kangen sama Kakak... Kakak kemana aja sih?"
"Kakak baru balik dari Jakarta. Makanya baru bisa datang sekarang. Maafin Kakak, ya."
Alya memalingkan wajahnya. Sepertinya dia sedang merajuk pada Bunyi.
"Enggak..." ucap Alya sedikit ketus. Melipat kedua tangan, lalu memejamkan mata sebentar.
Bunyi tertawa kecil. "Tapi kakak bawa hadiah untuk kamu loh..."
Alya menghentikan cemberutnya, lantas melihat Bunyi lagi. Tersenyum lebar. "Iya deh aku maafin, hihi."
Nada ikut tertawa tipis. Masih memperhatikan dan masih memegang box kecil yang berisikan Lobivia oganmaru.
Begitu pun dengan Alya yang sekarang memantapkan pandangannya pada Nada.
Yang ditatap kemudian mendekat ke tempat tidur, sembari membawa box kecil di tangannya.
"Alya, ini Kak Nada. Cantik kan? Sama kayak kamu." Bunyi tersenyum. "Bawelnya juga." Tambahnya.
Alya tersenyum riang. Lalu menyodorkan tangannya pada Nada. "Salam kenal Kak Nada."
Nada menyambut baik sodoran tangan itu, "Iya Alya, salam kenal juga." Nada tersenyum pasti.
"Kak Bunyi emang jago ya milih pacar." ucap Alya tiba-tiba.
__ADS_1
Bunyi terkejut. Ya, apalagi Nada. Mereka saling tatap sebentar.
"Kamu masih kecil udah tau pacar-pacaran." Bunyi tertawa. "Kak Nada bukan pacar Kakak, Alya... tapi calon istri," tambahnya.
Nada melirik Bunyi.
Aww
Teriak Bunyi setelah Nada menginjak kakinya.
Alya tertawa lepas. Begitupun dengan Nada.
Sungguh. Kamar inap nomor sepuluh ini dipenuhi kebahagiaan walau salah satu dari nyawa yang ada di dalamnya sedang berjuang mati-matian.
Dari Alya, seenggaknya kita belajar untuk tak acuh sama sakit yang paling sakit sekalipun. Karena kalau hati sudah terlalu kuat, perih mana yang bisa menggoresnya? Gak ada. Dan untuk bahagia, dengan hati yang sudah menjadi kuat, tanpa diminta, bahagia akan datang dengan sendirinya.
Nada memberikan box kecil yang sejak tadi ia pegang pada Alya. Lalu, Alya membuka box itu perlahan. Mengeluarkan Lobivia oganmaru. Memegangnya.
Alya tersenyum riang, "Makasih ya, Kak!" ucapnya semangat.
"Akhirnya Tuan Bear punya teman baru. Pasti Tuan Bear suka." tambahnya.
Nada dan Bunyi juga ikut tersenyum bahagia melihat Alya menyukai kaktus mini itu.
Kemudian, Bunyi perlahan duduk di atas tempat tidur, tepat di samping Alya.
"Tuan Bear senang bukan karena hadiah kaktus ini, Alya." Bunyi mengelus-elus rambut hitam cantik Alya. "Dia senang, karena punya sahabat peri cantik kayak kamu. Jadi, kamu harus janji untuk tetap ada di dunia, ya?"
__ADS_1
Alya mengangguk pasti, tersenyum lebar dan mengangkat jari kelingkingnya. "Iya, Kak. Pinky Promise!" ucapnya. Bersemangat.