
[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Billie Holiday - Blue Moon]
Nada kembali tersenyum bahagia melihat Alya. Mencoba menelisik. Kalau saja semua manusia yang hidup seperti Alya, mungkin kehilangan, tangisan, dan segala macam hal buruk tidak perlu ada di dunia.
Tapi, keliru juga jika menghilangkan semua hal itu. Karena dalam banyak kesempatan yang hadir, beberapa diantaranya lah yang membuat manusia belajar banyak hal.
Atau mungkin begini saja. Biarkan semua hal menyakitkan itu ada di dunia, tapi jangan pernah hilangkan setitik kecil harapan dan ketulusan dari senyum seseorang. Seperti senyum peri kecil itu.
"Aku juga punya hadiah untuk Kak Bunyi sama Kak Nada. Bentar." Alya menaruh kaktus di atas lemari kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Lalu mengambil sesuatu dari dalam laci kecil lemari.
Nada dan Bunyi saling lihat.
Alya memegang sesuatu di tangannya.
"Sebelum Tuan Bear ada, dulu mereka berdua yang selalu nemenin aku, Kak." ucap Alya.
"Ini Jimbo dan Lala." tambahnya.
Alya memperlihatkan apa yang sedang ia pegang pada Nada dan Bunyi. Itu, sepasang kerang. Warnanya jingga. Cantik sekali.
"Jimbo untuk Kak Bunyi, dan Lala untuk Kak Nada. Nih..."
Alya memberikan sepasang kerang itu pada Nada dan Bunyi. Mereka pun menerimanya. Masing-masing dapat satu.
__ADS_1
"Dari dulu, Jimbo sama Lala gak pernah pisah. Selalu bersama. Dan semoga Kak Bunyi sama Kak Nada juga kayak gitu, ya..." ucap Alya polos. Tersenyum lebar.
Nada yang mendengar itu lantas kaget. Tapi yang satu lagi malah terlihat tersenyum.
Mungkin itu sebagai sebuah permintaan atau juga harapan. Dan, apa salahnya mengaminkan sebuah harapan? Apalagi, harapan itu datang dari hati yang masih bersih. Lagipula, mungkin juga sebagai doa yang baik. Jadi, tidak ada salahnya. Nada tersenyum.
"Kak Bunyi," panggil Alya.
Bunyi menoleh.
Alya lalu berdiri dari tempat tidur, mendekat ke Bunyi, lalu tampak membisikkan sesuatu ke telinga Bunyi.
Nada heran. Menghentikan senyumnya. Memperhatikan Bunyi dan Alya.
Nada benar-benar bingung. Apa yang akan mereka lakukan? Dan apa yang tadi Alya bilang pada Bunyi? Entahla. Nada melihat ke arah Alya. Peri kecil itu memegang sebuah barang ditangannya. Dan seperti sedang mengotak-atik barang itu.
Bukankah itu Walkman? Nada beralih melihat Bunyi yang sejak dibisikkan sesuatu oleh Alya, sorot mata Bunyi mantap menatap Nada.
Lalu, lantunan lagu terdengar. Alya menekan tombol play yang ada di Walkman itu. Jazz. Ini lagu Jazz. Nada tau lagu ini. Ia menatap Bunyi.
Dia mau apa? ucap Nada dalam hati.
Bunyi merapikan kerah baju, merapikan rambut juga, lalu tersenyum genit pada Nada. Dan pada saat masuk bagian awal lirik lagu, Bunyi mulai menari.
__ADS_1
Nada sangat bingung. Ia terkejut melihat Bunyi tiba-tiba menari. Gerakan tubuhnya lihai sesuai dengan tempo lagu. Dua langkah kaki ke depan, dan dibalas dua langkah kaki ke belakang dengan kedua tangan yang berada di saku celana. Lalu menggerakkan bahu serta goyangan kepala dan langkah memutari Nada.
Sungguh. Nada bingung tapi juga gemas. Astaga. Perasaan yang membingungkan.
Nada melirik Alya sebentar. Yang dilirik tampak bersorak dan menepuk-nepuk tangannya. Girang sekali.
Jadi, bisikan itu ternyata berujung pada tarian aneh yang sekarang sedang Bunyi lakukan. Nada memalingkan wajahnya dari Alya, lalu kembali memperhatikan Bunyi. Tapi, saat ia kembali memperhatikan, tiba-tiba Bunyi menarik tangannya. Mengajak untuk ikut menari bersama.
Nada yang pada awalnya bingung dan tak mengerti, sekarang tak punya pilihan selain mengikuti gerak tubuh Bunyi dan menikmati lagu yang bersenandung. Ia ikut menari. Wajahnya bahagia.
Kamar rawat inap nomor sepuluh menjadi ramai. Indah sekali. Penuh dengan kebahagiaan di dalamnya. Tak ada kata sakit dan murung. Mungkin sangat jauh berbeda dengan kamar-kamar lain yang tadi Nada lihat atau kamar-kamar lain yang ada di dunia.
Sudah lama sekali Nada tidak merasakan kebahagiaan seperti ini. Apalagi sebelumnya selalu terikat dengan kenangan-kenangan masa lalu yang membuat Nada jarang bahkan mungkin tak pernah bahagia barang sejenak.
Dan setelah Bunyi hadir di dalam hidupnya, Nada mulai merasakan hal yang telah lama hilang. Yang telah lama ia cari-cari. Kebahagiaan yang tulus.
Baru sebentar memang. Tapi dari Bunyi, Nada sudah belajar banyak hal. Seperti kepeduliaan terhadap orang lain dan cara mengatasi rasa sakit. Bunyi memang tidak bisa ditebak. Dia punya caranya sendiri untuk memperkenalkan dunia.
Dan untuk perasaan yang Nada rasakan setelah mengenal Bunyi, Nada sangat jelas merasakan itu. Perasaan yang semakin lama semakin kuat. Tumbuh. Perasaan yang masih ia pendam.
Tapi apakah perasaan itu akan terus berada di hati tanpa pernah terucap dari mulut? Kalau benar iya, Tapi kenapa? Jawabannya tidak mudah. Mungkin akan dijawab dengan sebuah pertanyaan yang sama sulitnya.
Nan, apakah kamu merasakan perasaan yang sama juga?
__ADS_1