
• • •
Beberapa jam berlalu setelahnya. Hari sudah mulai sore. Langit kelihatan sedikit mendung jika dilihat dari jendela ruangan. Nada mengelus dahi Alya, melepaskan pegangan tangan gadis kecil itu yang sedang memeluknya, dan beranjak dari tempat tidur. Begitupun dengan Bunyi yang ikut beranjak dari kursi yang ada di samping tempat tidur. Mereka mungkin akan pergi meninggalkan gadis kecil itu yang sedang terlelap sekarang. Nada meraih selimut yang ada di samping Alya. Meregangkan selimut itu lalu menaruhnya di atas badan Alya. Menutupinya. Setelah itu, mereka beranjak keluar dari ruangan dan keluar dari gedung.
Hari yang sedikit melelahkan. Tapi cukup membahagiakan hati gadis kecil itu. Mereka melakukan banyak hal tadi. Seperti bernyanyi bersama, bermain tebak-tebakan tentang planet yang layak huni selain bumi, menonton singkat film dokumenter Tibet, dan menari. Alya sangat bahagia. Hal itu kelihatan jelas dari raut wajahnya. Bunyi sempat berbisik pada Nada kalau ia belum pernah melihat Alya sebahagia itu sejak dua tahun lalu. Terlebih untuk tertawa. Bahagia saja gak pernah apalagi tertawa. Tapi tadi, Alya sempat tertawa terbahak-bahak setelah melihat Bunyi tersandung kakinya sendiri dan jatuh ke lantai. Bunyi tak bisa mengikuti gerakan Nada yang sedang menari salsa. Wajahnya sedikit kesal karena Bunyi pikir Nada sengaja memberi gerakan yang susah agar ia tidak bisa menirunya. Namun meskipun begitu Bunyi tak menyerah walau hasilnya tetap sama. Jatuh, jatuh, dan jatuh lagi. Memang tak akan ada yang bisa menandingi atau meniru gerakan Nada saat melakukan tarian itu. "Lain kali sebelum mempermalukan diri sendiri, ada baiknya kau lihat dulu tutorialnya di youtube, Kak." ujar Alya sambil tertawa lebar di atas tempat tidur. Begitupun dengan Nada.
Setelah itu Alya mulai mengantuk. Beberapa hal mulai menguras tenaganya. Alya bilang dia ingin tidur tapi harus dengan dongeng tidurnya. Bunyi yang mendengar itu pun langsung mengerti dan segera melangkah ke arah satu lemari kecil di samping tempat tidur Alya, membuka laci kedua, dan mengambil satu buku yang berisi cerita-cerita dongeng masa lalu. Tapi sebelum Bunyi membacanya, Alya bilang ia tak mau dibacakan cerita dongeng dari buku itu lagi. Bahkan ia sedikit protes karena harus mendengar cerita yang sama untuk kesekian kalinya. Alya bilang ia benar-benar tak menginginkan cerita itu. Alya mendesak agar dibacakan dongeng yang lain. Hal itu membuat Bunyi bingung. Ia tak tau harus berbuat apa.
Tapi, di sisi lain Nada melangkah mendekat dan duduk di samping Alya. Nada bilang biar dia saja yang akan menceritakan sesuatu sebagai dongeng tidur Alya. Lalu Nada berbisik dan bilang pada Alya kalau ia akan menceritakan tentang Harry Potter. Tapi bukan tentang cerita dongengnya. Melainkan cerita tentang perjuangan penulisnya yang bernama J.K Rowling. Perempuan hebat yang terus memperjuangkan tulisannya meski sudah ditolak banyak sekali penerbit buku sampai akhirnya ia berhasil dan sukses menjadi salah satu penulis terbaik di dunia. Mendengar itu, Alya mengangguk. Ia sangat tertarik dan setuju. Bunyi yang juga mendengar itu mengangguk-angguk pelan lalu duduk di kursi. "Mungkin cerita ini akan menjadi cerita terbaik yang pernah ku dengar, Madame." Alya berbisik sambil tersenyum. Nada mengangguk dan tersenyum juga. Tak lama berselang, Alya memeluk Nada dan memejamkan matanya saat Nada mulai bercerita. Dan akhirnya gadis kecil itu pun tertidur lelap.
"Kau harus selalu memperhatikannya. Dan langsung beritahu aku jika sesuatu terjadi padanya." Bunyi menatap Antonio.
"Yes, Sir." Antonio mengangguk mengerti.
Sebelum benar-benar keluar dari gedung, Antonio datang menemui Nada dan Bunyi. Laki-laki itu memberitahu keadaan Alya pada Bunyi. Bagaimana peningkatan dan sekian persen kemungkinan kesembuhan gadis kecil itu. Ya, awalnya memang tak ada kemungkinan apapun. Tapi setelah melihat perkembangan Alya yang mampu bertahan melebihi vonis yang diberikan banyak dokter, sekarang kemungkinan itu pun jadi nyata. Bunyi yang mendengar itu pun sangat senang. Setidaknya ada harapan untuk senyum indah peri kecil itu agar berumur panjang. Di sisi lain, Nada yang mendengar itu tersenyum senang juga. Setelah itu Antonio mengantar mereka ke depan. Satu taksi sudah menunggu mereka di sana. Nada dan Bunyi beranjak naik ke taksi setelah Bunyi mengatakan kalimat tadi ke Antonio. Satu menit kemudian, taksi pergi meninggalkan gedung itu.
Perjalanan pulang. Taksi menuju rumah sewa Nada. Saat di kamar inap Alya tadi Bunyi bilang ia akan langsung mengantar Nada pulang. Bunyi juga bilang kalau mereka tak harus pergi lagi menghadiri acara pembukaan panti jompo karena Bunyi sudah menyuruh orang lain untuk menggantikan mereka. Terlebih karena waktu juga sudah tak memungkinkan. Mungkin acara itu sudah selesai sekarang. Nada setuju. Lagipula ia memang ingin segera pulang ke rumah sewa. Mengingat hari ini Nada harus membereskan barang-barangnya untuk dibawa pulang ke Jakarta besok.
Lima menit taksi berjalan. Nada bersandar pada bangku. Memejamkan mata sambil memasukkan telepon genggam miliknya ke dalam tas setelah sempat membalas beberapa pesan di grup whatsapp. Saat meninggalkan gedung tadi, Nada memberitahu tiga peri centil di grup itu kalau ia sedang di jalan pulang menuju rumah sewa. Sontak hal itu langsung disambut respon jahil dan banyak pesan rayuan dari mereka. "Dia ngajakin lo nikah gak, Nad?" rayu Una di grup itu. "Gak nginap, Nad?" Jeje menambahkan dibawahnya. Mereka memang usil sekali. Selain itu mereka juga sedikit membagikan pengalaman menarik mereka saat berkeliling Paris hari ini. Mengirim beberapa foto dan pesan suara. "Pokoknya nanti gue ceritain ya, Nad. Seru banget. Eh, eh tau gak. Jeje tadi---" Una mencoba menjelaskan sedikit keseruan mereka namun suaranya yang sangat antusias itu tiba-tiba berhenti setelah Jeje menutup mulutnya. Naira juga menambahkan dan bilang pengalaman itu adalah pengalaman yang sangat indah di dalam hidupnya. Sayang semuanya harus berakhir cepat. Besok mereka harus segera pergi meninggalkan Paris.
__ADS_1
"Tin! tin! tin!"
"Tin!"
Nada bangkit dari sandarannya. Suara klakson terdengar saling saut di luar. Ia melirik kaca mobil. Di luar jalanan kelihatan sedikit macet. Terlebih sekarang hujan turun sangat deras. Dari balik kaca mobil, daun-daun jatuh gugur seiring air langit tumpah. Sepertinya angin juga berhembus kencang. Lampu-lampu taman yang tak jauh dari mobil taksi berkedip berulang-ulang. Entah kenapa beberapa hari ini Paris sering sekali badai setiap malamnya.
Nada memalingkan wajah. Kembali bersandar, sekarang ia tampak mencuri-curi pandang ke arah Bunyi. Laki-laki itu kelihatan sibuk. Sejak naik taksi tadi ia tak ada berbicara apapun. Bunyi hanya terus menatap layar handphone miliknya. Sepertinya ia sedang fokus dengan pekerjaan atau apalah. Nada tersenyum. Walaupun laki-laki itu menyebalkan untuknya, tapi Nada juga gak bisa bohong kalau ia sempat kagum pada Bunyi saat Bunyi peduli dengan keadaan Alya. Ternyata Bunyi punya hati yang baik. Ternyata dia memang tak sepenuhnya menyebalkan.
"Lea," Bunyi tiba-tiba memanggil.
"Iya, Nan." Nada spontan menjawab. Tak sadar masih tersenyum.
Seketika raut wajah Nada berubah. Senyum yang ada tadi langsung menghilang. Nada tampak kesal. Baru saja ia memuji Bunyi di dalam hati. Sekali menyebalkan memang akan tetap menyebalkan.
"Aww!" Bunyi berteriak kaget. Nada menginjak kakinya. Hal itu membuat supir taksi menoleh dari kaca depan.
Mungkin kekesalan Nada tak bisa ia tahan lagi. Nada menatap Bunyi sambil tersenyum sinis. Bunyi masih sedikit kesakitan dan kaget. Walaupun tetap tak merasa bersalah dan menunjukkan gestur tubuh, kenapa. Namun Nada tak ada berkata apapun. Sebelum akhirnya tas miliknya bergetar. Seperti ada panggilan masuk dari telepon genggamnya. Nada langsung meraih telepon genggam itu dari dalam tas sambil masih tersenyum sinis ke arah Bunyi, melihat layar, satu panggilan tak terjawab dan satu pesan yang muncul di layar.
Ada sesuatu yang mau Mas beri tau sama kamu. Ini tentang, Mama.
__ADS_1
Nada memalingkan pandangannya. Menatap kaca taksi.
Lima belas menit perjalanan, taksi sampai di rumah sewa. Bunyi membuka pintu taksi, membuka payung lalu turun. Ia bergegas ke sisi lain taksi. Setelah itu Nada ikut turun juga. Bunyi memayungi Nada. Mereka bergegas melangkah sampai ke depan pintu rumah. Hujan masih turun sangat deras. Bahkan angin terasa sangat dingin menusuk kulit. Setelah mengantarkan Nada, Bunyi kembali ke taksi. Tak berkata apa-apa dan langsung naik ke dalam taksi. Tugasnya selesai. Sekarang laki-laki itu bisa pergi. Nada yang masih berdiri di depan pintu rumah sewa memandang ke arah taksi itu hingga akhirnya taksi itu menghilang dari pandangannya.
Nada berbalik badan. Membuka pintu rumah. Ayolah. Kalian pasti bisa menebak apa yang terjadi itu. Ya, benar. Tiga peri centil berdiri tepat di depan Nada lalu mengagetkannya. Mereka berdiri sambil tersenyum jahil. Mereka memang sudah menunggu kepulangan Nada sejak tadi. Raut wajah mereka sangat antusias melihat kepulangan sahabatnya dari kencan pertama. Walaupun Nada sudah memberitahu berulang-ulang kali kalau kepergiannya dengan Bunyi bukan kencan, namun ketiga sahabatnya itu akan selalu menganggap itu adalah kencan.
Nada langsung dihujani banyak sekali pertanyaan. Terutama dari Jeje dan Una. Mereka bertanya satu---dua pertanyaan yang membuat Nada tertawa mendengarnya. Seperti bagaimana rasanya ada diposisi benci lalu cinta, atau apakah ciuman di Paris menyenangkan. Suara mereka benar-benar memenuhi seisi ruangan. Walaupun pada akhirnya mereka diam dan sama sekali tak menerima jawaban apapun. Naira mencubit kuping Jeje dan Una. Mendesak agar tak menanyakan hal konyol seperti itu lagi. Sampai akhirnya langkah kaki mereka semua sampai di ruang tamu. Duduk di sofa.
Di sana, keadaan kembali gemuruh setelah suara Jeje dan Una kembali memenuhi seisi ruangan. Belum saja Nada menarik napas lalu duduk dengan tenang, kedua peri centil itu memang terlalu antusias. Jeje dan Una secara bergantian bercerita tentang hari ini. Satu hari yang sangat menakjubkan jika bisa diterjemahkan dari raut wajah keduanya. Seperti menikmati pemandangan kapal layar di sungai Siene dan tentu dengan tiga gelas citron presse, berkeliling di museum Louvre, dan masih banyak lagi. Nada tersenyum mendengar itu. Ikut bahagia dan antusias mendengar semuanya. Pengalaman yang luar biasa. Walau di sela-sela itu semua, Jeje dan Una sedikit berantem. Naira bilang tadi mereka sedikit dapat masalah saat Jeje menaruh permen karet di salah satu patung bersejarah di museum. Untungnya masalah itu bisa diatasi. Belum lagi saat Una sempat memberitahu ingin pergi ke Paris Disneyland. Tapi Jeje menolaknya. Lagipula hari sudah sore dan hujan turun sangat deras. Mereka memutuskan untuk pulang lebih awal.
Setengah jam berlalu. Ruang tamu tampak lengang. Nada melangkah masuk ke dalam kamar. Tiga peri centil juga ada di kamar mereka. Sekarang waktunya bersiap untuk kepulangan besok. Nada harus segera membereskan barang-barangnya. Besok Paris akan benar-benar ditinggalkan. Semua keperluan sudah disiapkan. Mengingat pihak sekolah juga sudah mengirimkan surel kelulusannya. Cikal yang mengatur semua itu sebelumnya.
Nada duduk di kasur. Memandang jendela yang berembun. Seharian ini, Nada melupakan Cikal. Terutama tentang tempat itu. Banda Neira. Apakah Cikal sudah sampai di sana atau apakah Nada benar-benar melupakan tentang itu. Tentang festival yang Cikal bilang beberapa hari yang lalu padanya. Entahlah. Nada belum memutuskan apa-apa. Bahkan ia sama sekali tak membalas pesan terakhir dari Cikal. Karena sekarang yang ada dipikirannya cuma pulang ke Jakarta. Kembali untuk melihat Mamanya setelah tiga tahun. Astaga. Nada menghentikan lamunannya. Memalingkan wajah dari jendela dan beranjak dari kasur.
Nada membuka tas miliknya. Mengambil telepon genggam di sana. Pesan itu.
Ia ingat pesan itu. Pesan yang ia baca saat di taksi tadi. Nada menghela napas lalu membuka ruang pesan itu di telepon genggamnya. Membaca sekali lagi satu kalimat yang ada di sana. Ada sesuatu yang mau ku beritahu denganmu. Ini tentang, Mama. Tapi seketika Nada bingung. Tidak. Bukan tentang pesan itu. Tapi tentang pengirimnya. Tak ada nama yang tercantum di sana. Nomor tidak dikenal. Entah dari siapa. Nada memalingkan wajahnya dari layar handphone. Ia berpikir mungkin pesan itu dari Bara. Tapi kalau dari Bara, kenapa dia tidak langsung menelepon kalau hal itu benar-benar penting dan menyangkut tentang Bu Ann. Nada menatap layar handphone lagi. Menekan satu panggilan tak terjawab dari nomor tidak dikenal itu. Mencoba meneleponnya. Namun hal itu percuma. Panggilan itu gagal. Nomor telepon itu tak terdaftar atau dalam arti lain sudah tidak aktif.
Nada menaruh telepon genggam itu di atas kasur. Satu hal yang pasti, ia yakin jelas itu bukan Bara. Karena Bara tak akan pernah menggunakan hal semacam itu sampai kapanpun. Nada kembali menatap jendela kamar. Dari siapa sebenarnya pesan itu.
__ADS_1