
[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Lucile Garett - How Soon]
...• • •...
Hilang dalam sekejab
Hai pengembara waktu, pantaskah kau kusebut begitu?
Hai pengelana jarak, siapkah tuan berhenti tanpa pernah berpindah-pindah lagi?
Sebenarnya aku dan kau ini apa? Manusia atau setumpuk daging yang diberi rasa?
Melon atau stroberry? Sepertinya hanya sebuah kecupan manis yang akan hilang dijemput malam.
Gelap dingin tak bersuara. Dicumbu pagi dan membuatmu tiada. Hilang dalam sekejab.
Pesisir pantai yang kehilangan nyawanya. Nada tjara salamah.
"Kurang dramatis, Je."
"Gue sih no, ya."
Ucap Naira dan Una. Mengomentari Jeje yang tadi membacakan sebuah puisi. Yang ditintakan di atas kertas putih usang.
"Padahal gue uda all out banget bacanya. Nih, Nad." sahut Jeje. Lalu memberikan kertas puisi itu pada Nada.
__ADS_1
Mereka semua tertawa tipis.
Puisi itu, yang dibaca oleh Jeje tadi adalah puisi yang dibuat Nada beberapa tahun lalu. Entahla. Tidak tau apa maksud dari puisi itu tapi yang jelas, puisi itu menggambarkan kondisi hati dan sebagai kumpulan perasaan pembuatnya.
Mereka masih melangkah, membawa beberapa koper dan barang yang lain. Nada melihat sekitar.
Lima belas jam telah berlalu. Nyawa yang berada di langit sudah menapak di alas bumi lagi. Perasaan pun begitu. Kembali pulang dan sejatinya membawa beberapa alasan untuk ditanggalkan.
Soekarno hatta, Jakarta di bulan kesepian. Nada dan ketiga sahabatnya sampai. Pukul sebelas siang mereka turun dari langit dan tiba di bumi tanah air.
Bandara ini sangat ramai. Berbeda jika dibandingkan dengan bandara Schiphol yang ada di Amsterdam. Itu mungkin jadi salah satu perbedaan di antara keduanya. Tapi, tetap saja persamaannya ya, sama-sama menjadi tempat untuk datang dan pergi. Jelas sekali terlihat.
Dan tempat inilah yang menjadi saksi bisu. Saksi dari kepergian itu. Kepergian yang tak pernah direncanakan. Yang tercipta dengan sendirinya. Membawa seorang perempuan pergi dari gelap yang mencekam ke satu titik cahaya redup. Tapi kini, perempuan itu sudah kembali.
Kenangan itu masih tertata rapi dalam memori Nada. Karena sampai kapanpun kenangan itu gak akan pernah hilang. Setidaknya, bandara ini memegang peran yang sangat penting.
"Girls, Lima belas menit lagi. Kata Pak Tono macet makanya gak bisa jemput kita tepat waktu." ujar Una.
"Ya, kalau gitu kita nunggu di situ aja tuh. Sekalian makan. Gue lapar banget, nih." sahut Jeje. Memegang perutnya.
Una mengangguk.
"Nad?" tanya Naira.
Yang ditanya menghentikan tatapannya pada sekitar.
__ADS_1
"Gue mau lihat-lihat dulu. Nanti gue nyusul, ya." jawabnya.
Naira tersenyum.
"Yaudah, ayo. Perut gue gak bisa di ajak negosiasi." desak Jeje.
Yang lain tertawa tipis mendengar itu. Lalu, Jeje, Naira, dan Una pun pergi meninggalkan Nada. Mereka bertiga melangkah ke arah cafe bandara. Sementara Nada kembali memperhatikan sekitar. Menatap semuanya bergantian. Ia melangkah perlahan.
Di raut wajahnya masih tergantung perasaan ragu yang semakin lama semakin membesar. Perasaan itu tentang Bu Ann. Nada memikirkan kondisi Ibunya sekarang. Sudah setahun tepatnya mereka berpisah. Tak saling bertukar kabar walau hanya sekadar saling sapa.
Bagaimana keadaannya? Apakah Bu Ann sudah berbeda? Atau masih sama seperti tahun lalu saat Nada pergi dan malah menjadi semakin buruk karena kepergian Pak Tio? Nada menghela napas. Ia tidak tau bagaimana ekspresi Bu Ann saat melihatnya nanti. Hati Nada bergetar. Semoga semuanya akan baik-baik saja. Semoga keraguan ini tidak benar. Ya, semoga saja.
Tapi, meninggalkan keraguan itu, di dalam hati dan pikiran Nada terdapat satu ruang kecil yang lain. Bukan tentang Bu Ann. Ini tentang seseorang yang lain. Dan tentang perasaan yang tertinggal di Amsterdam. Ini, tentang Bunyi.
Nada menghentikan langkah kakinya. Ia meraih handphone dari saku celana. Membukanya. Lalu melihat satu ruang pesan yang masih saja kosong. Nada sedikit kesal tapi juga khawatir.
Bunyi sama sekali tidak mengirim pesan apapun untuknya. Padahal waktu sudah berlalu belasan jam. Tapi pesan singkat itu tak kunjung ada. Bahkan panggilan terakhir Nada saat berada di bandara Schiphol pun tak dijawab oleh Bunyi.
Nada kembali membuka ruang pesan itu setelah sempat ia tutup, lalu meninggalkan pesan singkat di dalamnya.
Nan, kamu dimana?
Pesan singkat itu terkirim. Nada kembali menaruh handphone di saku celana.
"Aku di sini, Lea."
__ADS_1
Suara seseorang terdengar. Nada menoleh. Ia kaget melihat orang yang sekarang berada di hadapannya. Itu, Bunyi.
"Nan..."