
Nada sempat terdiam beberapa saat. Rasa kesal yang tadi sempat menganggu perasaannya saat Bunyi menelepon dua kali, sekarang berubah menjadi rasa canggung.
..."Halo,"...
..."Iya, Mas maaf. Saya kira Mas orang aneh yang nelpon saya tadi,"...
..."Saya sekarang lagi di bandara. Setengah jam lagi pesawat saya Take Off. Saya cuma mau bilang, kamu gak jadi tampil di New Hall. Mereka menggantikan kamu dengan musisi Jazz yang lain. Tapi kamu jangan khawatir. Tiga hari lagi kamu ke Banda Neira, bantu saya mengurus festival Jazz itu. Saya sudah bilang ke asisten saya untuk menyiapkan seluruh transportnya kalau kamu mau. Kamu tinggal berangkat. Bagaimana? Kamu mau, atau gak?"...
Ada perasaan senang serta sedikit kecewa yang dirasakan Nada saat Cikal memberitahu kabar itu. Tapi, mengurus festival Jazz juga sama berartinya. Setidaknya, ia bisa banyak belajar dari Cikal dan melihat musisi-musisi Jazz terbaik tampil. Nada tak banyak berpikir. Ia menerima ajakan Cikal itu.
..."Iya, Mas."...
..."Oke. Kalau gitu besok asisten saya bakal ketemu sama kamu. Dan tiga hari lagi, saya tunggu di Banda Neira."...
Tuuut
Telepon itu mati. Nada meletakkan gagang teleponnya. Lalu melangkah kembali ke sofa. Raut wajah canggung itu setidaknya sudah hilang setelah telepon dari Cikal usai. Tapi, sekarang ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Bingung.
"Bunyi bilang apa, Nad?" tanya Naira. Antusias.
Nada menggeleng.
"Itu bukan Bunyi. Itu Mas Cikal."
"Guru musik lo yang kemaren di gedung itu? Yang cakep itu?" tanya Jeje.
Nada mengangguk.
"Dia bilang, gue harus ke Banda Neira tiga hari lagi. Bantuin dia ngurus festival Summer Jazz di sana."
__ADS_1
"Terus, lo mau?" tanya Naira.
Nada mengangguk pelan.
"Yey! Liburan lagi...." teriak Jeje. Bersemangat.
"Gue belum pernah sih ke Banda Neira. Tapi kata orang-orang, tempatnya bagus..." tambahnya.
"Ya, paling ntr di sana lo nyari cowok lagi..." ledek Naira.
Jeje mengangguk pasti. "Iya! Kok lo bisa tau sih, Nay? Gila... sekarang lo jadi anak Indihome gitu, Nay?"
"Indigo!"
"Iya itu maksud gue."
Naira memalingkan wajahnya dari Jeje yang masih terlihat bersemangat atas kabar yang baru saja disampaikan oleh Nada. Sementara yang menyampaikan kabar, tersenyum melihat kedua sahabatnya senang mendengar kabar itu.
Nada berpikir.
Mungkin di sana nanti, ia bisa sepenuhnya melupakan kenangan pahit yang selama ini mengikutinya. Semoga saja Banda Neira menjadi tempat yang tepat untuk itu. Selain belajar tentang Jazz dan bertemu beberapa musisi Jazz terbaik, Nada juga bisa menikmati semua keindahan yang terdapat di tempat itu. Banda Neira. Banyak hati yang telah dibahagiakan, dan banyak hati yang akan tersembuhkan. Semoga saja.
Nada kembali bersandar pada sofa.
"Terus, tadi si Bunyi ngapain nelpon lo, Nay?" tanya Naira.
Nada membagusi posisi duduknya, menghentikan sandarannya pada sofa.
"What?! Bunyi nelpon lo, Nay?" Una yang sejak tadi menggunakan earphone, kini melepas earphonenya. Bergabung ke dalam percakapan.
__ADS_1
"Dia tadi bilang uda mau nyampe sini. Dia nyuruh gue mandi, terus pakai dress putih segala." ucap Nada sedikit kesal.
"Lah, kok bisa?" tanya Naira. Penasaran.
Bahkan Jeje yang tadi bersemangat tentang kabar ke Banda Neira, sekarang juga fokus memerhatikan penjelasan Nada.
"Semalam Bu Mira minta tolong ke gue ngambil bunga pesanannya di Bloem pagi ini. Terus Bu Mira bilang, gue ke sananya sama Bunyi." jelas Nada.
"Gue sebenarnya gak mau. Gue kesal sama dia. Tapi gue gak mungkin nolak permintaan Bu Mira." tambahnya.
Jeje, Naira, dan Una saling tatap.
"OMG, Nada..." teriak Jeje. "Lo gak antusias pergi bareng cowok kayak Bunyi?"
"Iya, tau nih." tambah Naira.
"Kenapa yang diajak bukan gue, ya?" ujar Una polos.
Semua pandangan tertuju padanya sebentar.
Kemudian Jeje berdiri dari sofa. "Girls..." Jeje mengedipkan mata ke arah Naira dan Una. Mengisyaratkan sesuatu.
Nada bingung. Tidak mengerti arti dari kedipan mata sahabatnya itu.
Namun, Naira dan Una yang mengerti arti dari kedipan mata Jeje, langsung beranjak dari sofa. Melangkah ke arah Nada. Mereka mendesak Nada untuk segera beranjak dari sofa.
"Ayo," desak Naira.
"Mau kemana, Nay?" tanya Nada bingung.
__ADS_1
Naira sama sekali tidak menjawab. Malah tersenyum. Naira dan Una menarik tangan Nada agar beranjak dari sofa. Jeje juga ikut membantu. Nada sama sekali tidak tau apa yang akan dilakukan oleh ketiga sahabatnya itu. Tapi karena desakan dari ketiganya, Nada terpaksa mengikuti mereka melangkah ke arah kamar.