
Bu Ni langsung menyuruh Nada membukanya seraya mengucapkan satu-dua kalimat ucapan selamat. Nada tersenyum senang. Tapi, tetap saja sedikit merasa keberatan. Ya, karena kado tetaplah kado. Sesuatu yang tidak penting sebenarnya bagi Nada. Namun, sekarang Nada tak bisa menghindar lagi. Tiga peri centil terus mendesaknya. "Buka dong, pengin lihat nih kita. Ya kan, Na?" Jeje berseru-seru antusias. Una mengangguk setuju. Lagipula ia segan jika harus menolak hadiah dari Bu Ni itu. Mungkin tahun ini, sudah seharusnya ia menganggap hadiah sebagai sesuatu yang terlihat penting mulai sekarang.
Nada meraih kado itu, lalu membuka pita serta bungkusnya perlahan. Dan betapa kagetnya ia saat tau kalau ternyata isi kado itu adalah cincin. Nada spontan tersenyum senang. Ia melihat Bu Ni yang sudah duluan tersenyum. Cincin yang indah. Mungkin berlian. Bu Ni bilang ia sudah menyiapkan cincin itu jauh-jauh hari untuk Nada. Bu Ni juga tau Nada sangat suka dengan cincin. Tapi selain karena hari ini adalah hari ulang tahun Nada, cincin itu juga sebagai hadiah perpisahan. Bu Ni tau kalau tahun ini Nada akan pergi dari Paris.
__ADS_1
Entahlah. Entah sejak kapan Bu Ni tau hari ulang tahun Nada, tau tentang Nada yang sangat suka sama cincin, atau tentang tahun ini, tahun terakhir Nada di Paris. Bahkan Nada tak ingat pernah memberitahu Bu Ni tentang ketiga hal itu. Tapi, terlepas dari semuanya, Bu Ni memang sangat baik. Nada memeluk Bu Ni. Terima kasih, Buk. Pelukan hangat. Sehangat ratusan bunga yang gugur melayang-layang di luar. Hujan musim semi.
Tahun ini Nada memang akan pergi meninggalkan Paris. Tak terasa sudah tiga tahun, tiga musim semi yang dilalui. Tapi, klise rasanya jika kata pergi cuma dikaitkan dengan Paris saja. Karena sebenarnya Nada bukan pergi dari Paris, melainkan dari semua yang ada didalamnya. Termasuk Blanche dan Bu Ni. Nada melirik Bu Ni yang tampak mengobrol dengan tiga peri centil sekarang. Tersenyum sembari memandang wajah itu. Wajah yang masih sama seperti tiga tahun lalu saat Nada bertemu dengannya. Tepatnya di malam musim semi pertama Nada. Saat ratusan bunga jatuh serempak di tengah kota Paris. Di pinggir toko bunga LA-caries.
__ADS_1
Nada gemar datang ke toko itu. Karena di sana, Nada bisa melihat berbagai jenis bunga. Macam ragamnya. Mulai dari Lily, Tulip, Anggrek, Orchid, Freesia, Anyelir, dan masih banyak lagi. Selain itu di sana juga menjual berbagai macam alat atau semua yang berkaitan dengan bunga. Toko bunga itu memang sangat terkenal di Paris. Tak ayal jika saat Nada datang ke sana, suasana toko sudah sangat ramai pengunjung. Setidaknya setiap hari akan ada puluhan orang keluar-masuk dari toko. Membawa pulang bunga di tangan mereka.
Tapi, Nada bingung saat masuk ke dalam LA-caries malam itu. Gak tau kenapa malam itu sedikit berbeda dari malam-malam sebelumnya. Malam musim semi pertama itu, Nada bingung sambil memperhatikan sekitarnya. Suasana toko sepi. Tak seperti biasa. Tak ada pengunjung yang biasanya ramai berdiri di sepanjang rak-rak bunga, memilih-milih, mengantri di kasir, atau yang berbincang singkat tentang sejarah bunga. Malam itu benar-benar sepi. Namun Nada tidak terlalu peduli tentang itu. Ia tetap melangkah pelan ke arah jajaran rak-rak bunga, melihat satu per satu bunga sampai akhirnya mengarah ke rak bunga Lily. Nada lalu mulai memilih bunga Lily yang akan ia beli. Memperhatikan setiap daunnya, Nada mengambil salah satu Lily dari dalam rak, kemudian memasukkannya ke dalam keranjang.
__ADS_1
Waktu berlalu cepat setelah itu. Diluar, puluhan bunga masih jatuh, gugur, bertebangan ke tempat-tempat jauh. Beberapa menit berlalu dengan Nada yang melangkah melihat jajaran rak-rak bunga lain lalu melangkah ke arah kasir. Namun, langkah kakinya terhenti saat berada di rak bunga terakhir. Seseorang menyapanya tiba-tiba. Atau mungkin lebih tepatnya bertanya dengan suara pelan. Orang itu adalah Bu Ni. "Kamu suka Lily, juga?" Nada menoleh. Wajahnya sedikit kaget. Ia mengangguk pelan dan melihat wajah Bu Ni untuk yang pertama kalinya. Perempuan setengah abad berambut panjang hitam pekat. Memakai syal berwarna cokelat dengan satu keranjang yang berisikan satu bunga Lily ditangannya. Bu Ni menyodorkan tangannya setelah itu. Tersenyum hangat. Mereka berkenalan satu sama lain. Itulah awal dimana mereka bertemu. Yang pada akhirnya membuat mereka menjadi dekat seperti sekarang. Walaupun saat mereka berbincang sebentar setelah itu, Nada masih sedikit kaget karena bertemu dengan orang Indonesia kedua di Paris selain Cikal. Juga karena ternyata Bu Ni pun sangat suka Lily.