
Saat berada di Amsterdam, saat mengetahui kalau ia harus kembali, Nada pikir Jakarta itu buruk. Perjalanan pulang yang menyakitkan. Menyebalkan. Tapi ternyata semua itu salah. Jakarta bukan seperti itu. Bahkan sebaliknya. Karena Jakarta memang rumah yang selayaknya rumah walau beberapa diantaranya pergi meninggalkan.
Di kota ini, Nada telah melewati banyak hal. Hari-hari sulit, kenangan masa kecil. Jalan lurus tak berujung, tikungan tajam, persimpangan jalan, bahkan jalan buntu. Jakarta menjadi rute perjalanan hidup terpanjang untuk Nada.
Namun, dari semua itulah Nada diperkenalkan dengan bahagia dan air mata. Mungkin semua orang pernah mengalami dan merasakan itu. Tapi jika ada orang yang dipaksa dewasa menyikapi beberapa hal walau mungkin belum saatnya, ya, maka orang itu adalah Nada. Nada kecil. Anak yang belum genap sepuluh tahun, tapi sudah harus menjadi saksi perpisahan dua manusia.
Ayolah. Enggak. Semua itu harus dilupakan. Meski sulit dan terbilang klise, tapi harus dilupakan. Saat ini bukan bertahun-tahun yang lalu. Jakarta tak lagi menjadi tempat air mata. Jangan sampai. Sudah cukup. Semuanya habis. Biarlah yang menyakitkan itu dibuang jauh. Nada kecil sudah dewasa sekarang. Ia tak berhak merasakan itu terus-menerus. Biarlah bahagia menjadi temannya lagi. Biarlah Jakarta menjadi pengantar dan saksi untuk itu. Karena apapun alasannya, Jakarta akan tetap menjadi kota kasih sayang.
__ADS_1
Dan Amsterdam, walau sudah tertinggal jauh di belakang, tapi setiap bagiannya akan selalu terkenang untuk Nada. Ia juga belajar banyak hal di kota itu. Tempat yang tak kalah indah dari Jakarta. Kota yang nantinya akan menjadi tempat untuk pulang juga. Nada sudah menganggap Amsterdam sebagai rumah. Ya, walau saat ini harus ditinggalkan, jika sudah waktunya, maka akan pulang lagi.
Selain belajar musik Jazz lebih dalam dan mengenal beberapa hal yang lain, di Amsterdam, Nada juga merasakan perasaan yang telah lama hilang. Atau mungkin perasaan yang belum pernah ia rasakan. Karena saat merasakan perasaan itu, jantungnya seperti ribuan formasi mawar siap mekar.
Cinta. Ya, perasaan yang dirasakan Nada memang tentang itu. Amsterdam mengirim Bunyi datang. Laki-laki menyebalkan yang diperkenalkan semesta lalu menjadi bagian terbaik. Entah bagaimana cinta bisa hinggap di ruang hati Nada. Bagaimana mungkin bisa secepat itu? Ya, itulah semesta. Tak pernah memberitahu dan selalu saja mengagetkan.
Walau yang paling menyebalkan, Bunyi juga yang paling membahagiakan. Mungkin untuk saat ini. Ya, seenggaknya hati kecil yang teramat lama dihantam badai, untuk beberapa saat bisa tenang. Meski sampai kapanpun, hati itu tetap mencari dia yang masih entah dimana.
__ADS_1
Pukul 07.07 alarm berbunyi. Nada masih tertidur pulas memeluk boneka beruangnya. Gerimis membalut bumi. Dari balik jendela, airnya menari-nari bak hati yang sedang kasmaran.
Di samping tempat tidur, Bu Ann sedang melihat anaknya itu. Tersenyum lalu mematikan alarm. Bu Ann duduk di pinggir tempat tidur. Mengusap rambut Nada dan masih tersenyum. Lalu, Bu Ann mengambil satu bingkai foto di samping jam weker digital, melihat lamat-lamat potret itu. Dan dimatanya sekarang, Nada kecil berkaca dengan pose centil serta ikat kepala merah yang menghiasa kepala. Wajahnya riang. Senyumnya lebar.
Bu Ann tertawa kecil. Lalu mengalihkan pandangannya ke tuan putri yang masih pulas.
Meletakkan bingkai foto, Bu Ann melangkah ke arah lemari. Mengambil satu kotak berwarna biru tua, berdebu, lalu ia buka perlahan. Mengambil satu per satu isi di dalamnya. Potret kenangan, dan arti dari kerinduan terdapat di dalam kotak itu.
__ADS_1