Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#80 [Bab. sunset pertama untuk kita]


__ADS_3

Nada hanya terpaku. Menatap wajah itu. Menatap senyum itu. Ini bukan mimpi. Dia memang Bunyi. Tapi kenapa? Kenapa baru muncul sekarang? Kenapa, Nan. Kenapa kamu hilang kemarin? Semua pertanyaan itu berputar-putar di pikiran Nada. Namun tak sempat ia tanyakan. Bunyi menarik tangannya. Mereka ada di tengah-tengah kerumunan sekarang.


Tarikan napas, tersenyum. Bunyi memejamkan mata sebentar, lalu menatap Nada. Sangat dekat. Namun yang ditatap masih termenung. Antara sadar atau enggak. Kesal atau mungkin sangat bahagia. Tapi dengan kehadiran Bunyi sekarang dihadapannya, ibarat sedang bermimpi, kali ini mimpinya mimpi indah. Karena semua rindu itu, rasa-rasanya sekarang ia ingin memeluk Bunyi erat. Mendekap. Jangan pergi lagi.


Bunyi tertawa pelan. Dia tau apa yang sedang dipikirkan Nada. Bunyi tau apa yang sedang dirasakan Nada. Sorot mata itu, menjelaskan semuanya. Pertanyaan-pertanyaan dan semua hal tentang mereka berdua ada di dalamnya.


Bunyi mengangguk. Seketika tangannya menarik tubuh Nada. Mereka berpelukan. Tangan Bunyi merangkul pinggang Nada. Sentuhan sempurna. Nada memejamkan mata. Tangannya melingkar di leher Bunyi. Masing-masing satu gerakan kiri-kanan, mengalir seiring alunan musik Jazz semakin sensitif. Berjalan memutar langit. Lagu ke dua. Jazz Ballad.


Siang ini Banda Neira menjadi saksinya. Semua terlihat semakin jelas. Perasaan itu, entah bagaimana bisa datang, tinggal, lalu tumbuh semakin besar dengan waktu yang terbilang sangat singkat. Tapi bukankah memang akan selalu seperti itu? Banyak hal yang datang tanpa pernah tau apa alasannya. Dan cinta, Nada dan Bunyi sekarang saling merasakannya. Memlikinya. Walau belum terucap. Walau belum diperjelas. Karena cinta terkadang memang gak harus diucapkan oleh kata-kata manis.


Penonton bertepuk tangan. Kali ini lebih meriah dari sebelumnya. Lagu ke dua selesai. Penampilan satu band Jazz itu memang luar biasa. Sangat memukau. Nada dan Bunyi melepas pelukan mereka di penghujung lagu. Sekarang mereka saling tatap. Bunyi tersenyum untuk yang ke-sekian kalinya. Sepertinya dia sudah siap kalau harus menjawab pertanyaan dari Nada. Tentang pergi kemana atau kenapa menghilang tanpa memberi kabar.


"Lea... kamu gak---"


Plak


Satu tamparan mendarat di pipi kanan Bunyi. Nada menampar Bunyi.


"Kok aku---"


"Itu karena kamu ilang dan gak ngabarin aku."


Bunyi kaget. "Tapi, Lea. Aku---"


Plak


Sekali lagi tamparan mendarat di pipi kanan Bunyi. Tamparan kedua.


"Yang ini karena kamu datang tanpa merasa bersalah sedikitpun. Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?" ucap Nada dingin.


Ia benar-benar kesal. Dua tamparan tadi menjelaskan itu. Lagian, ngilang tiba-tiba tanpa ada ngasih kabar terus muncul dan gak merasa bersalah, siapapun perempuannya pasti akan sangat kesal kalau digituin.


Bunyi diam sempurna. Tanpa ada sepatah kata pun. Padahal kalau dilihat dari wajahnya, kayaknya Bunyi ingin bilang sesuatu. Menjelaskan. Tapi sepertinya semua itu percuma. Nada menatap Bunyi. Masih dengan tatapan yang sama. Tangannya melayang. Mungkin tamparan ketiga akan segera mendarat juga.


"Kak Nada!"

__ADS_1


Ayunan tangan Nada terhenti. Tamparan ketika gagal mendarat. Seseorang memanggil Nada dari kejauhan.


Nada menoleh, "Mila..."


Mila dan seorang anak laki-laki berlari, mendekat ke arah Nada dan Bunyi.


"Kak Nada ternyata ada di sini. Mila dari tadi nyariin Kakak. Ya, kan Dul?" jelas Mila. Napasnya terengah-engah.


Nada tersenyum. Menunduk lalu memegang lengan Mila.


"Kakak juga dari tadi nyariin kamu, loh. Eh taunya ketemu di sini." Melihat kanan-kiri, "Mama kamu mana, Mil?"


"Mama balik ke hotel bentar, Kak. Ganti baju. Si Putis pup di bajunya Mama."


Nada tertawa.


"Oh iya, Kak. Ini Bedul. Sepupunya Mila." Mila melihat Bedul. "Dul, ini Kak Nada. Yang aku ceritain semalam."


"Yang kamu bilang musisi itu, Mil?" kata Bedul spontan.


Mila melotot. Menaruh jari telunjuk di depan mulut.


Bedul mengangguk. Menutup mulutnya dengan telapak tangan. Mengerti isyarat dari Mila barusan. Merasa bersalah juga karena udah keceplosan.


Nada kembali tertawa. Mila dan Bedul lucu.


"Ini siapa Kak? Pacar Kakak, ya?" Tanya Mila polos. Memperhatikan Bunyi.


Yang ditanya dan yang diperhatikan sama-sama kaget. Saling tatap juga. Bagaimana bisa anak seusia Mila sangat cepat menyimpulkan sesuatu? Nada berhenti menatap Bunyi. Memalingkan wajahnya dengan cepat. Ia salah tingkah. Gak tau harus bilang apa. Tapi di sisi lain, Bunyi malah senyum-senyum sendiri. Mungkin dia senang karena kepolosan Mila. Atau sama status itu. Padahal kan, hubungan itu belum ada kejelasan apapun.


"Kayaknya kita ganggu kencan orang dewasa, Mil." bisik Bedul pada Mila.


"Emangnya, kencan orang dewasa kayak gini ya, Dul?" Tanya Mila bingung. Berbisik juga.


"Ehem-ehem..." Bunyi melangkah mendekati Mila dan Bedul. Lalu menatap keduanya bergantian.

__ADS_1


"Nama Kakak, Bunyi. Tapi kalian boleh manggil Kakak dengan nama apa aja. Salam kenal." Bunyi tersenyum.


Nada memperhatikan.


Mila dan Bedul saling tatap.


"Kak Nada dan Kak Bunyi. Wah, namanya cocok. Ya kan, Dul?" ucap Mila polos. Bersemangat.


Bedul setuju. Mengangguk pasti. Mengacungkan jempol.


Bunyi tertawa. Mila dan Bedul memang benar-benar polos dan lucu.


Nada masih memperhatikan. Ia ikut tersenyum juga melihat kepolosan ataupun kelucuan Mila dan Bedul. Sebenarnya Nada juga masih salah tingkah, sih. Tapi dari tadi ia menutupinya. Jangan sampai yang lain tau. Apalagi Bunyi. Nanti dia jadi geer.


"Kalian salah. Sebenarnya gak salah sih. Cuma kurang tepat aja." jelas Bunyi.


Mila dan Bedul saling tatap lagi.


Melirik Nada lalu kembali menatap Mila dan Bedul bergantian. "Kakak bukan pacarnya Kak Nada."


Mila dan Bedul bingung.


"Kalau bukan pacar, terus siapanya dong? Keluarga?" tanya Mila.


Bunyi menggeleng.


"Sahabat?" saut Bedul.


Bunyi menggeleng lagi.


"Terus?" tanya Mila dan Bedul serentak. Penasaran.


"Teman hidup." Kata Bunyi. Melirik Nada. Sorot mata misterius.


Yang ditatap kaget bukan main. Raut wajahnya berubah. Gak bisa dijelaskan. Pasti Bunyi lagi bercanda. Pasti itu cuma lelucon recehnya aja. Apa katanya tadi? Teman hidup? Menghilang tanpa kabar lalu muncul seenaknya dan sekarang bilang teman hidup? Apa maksudnya coba. Gak lucu, Nan.

__ADS_1


Mungkin Mila san Bedul bisa dengan cepat menyimpulkan sesuatu dengan kepolosan-kepolosan mereka. Mungkin juga bisa membaca keadaan dan mempelajari banyak hal. Tapi kali ini, Mila dan Bedul benar-benar bingung. Gak ngerti apa artinya. Ya, karena teman hidup gak sama kayak teman main waktu di sekolah. Atau gak kayak sepasang anak yang tukaran es krim lalu jadi teman hidup. Enggak. Gak kayak gitu. Teman hidup itu artinya komitmen. Susah-senang, menerima lebih dan kurangnya pasangan, dan sama-sama sampai ending cerita.


Nada menatap Bunyi. Kamu benar-benar nyebelin, Nan. Aneh. Ia tersenyum.


__ADS_2