Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#59 [Bab. matahari itu tenggelam, nan]


__ADS_3

Nada meraih kertas itu. Memandanginya sebentar, lalu diam sejenak. Seharusnya sekarang ia sudah berada di Banda Neira. Membantu Cikal mengurus festival Summer Jazz di sana. Tapi hal itu terlupakan. Keberangkatannya ke Banda Neira pun tertunda. Atau boleh jadi batal. Padahal, Banda Neira akan dijadikan tempat kesembuhan perasannya. Dan menjadi tempat baginya untuk melupakan semua kenangan-kenangan buruk itu. Ya, walaupun sekarang hatinya sudah jauh lebih baik. Berdamai. Kenangan-kenangan buruk itu juga sedikit-banyak sudah sembuh. Tapi Banda Neira juga akan dijadikan tempat bagi Nada melihat seniman-seniman Jazz tampil. Entah itu dari Indonesia, atau dari mancanegara. Karena sebagai manusia yang menjadikan Jazz salah satu bagian terpenting di dalam hidupnya, festival Summer Jazz di Banda Neira menjadi kesempatan atau pengalaman yang ditunggu-tunggu oleh Nada. Apalagi, kesempatan seperti ini tak pernah datang dua kali.


Astaga. Nada membalik badannya. Ia lupa memberitahu Cikal tentang semua yang telah terjadi. Tentang kepulangannya ke Jakarta dan tentang kabar duka itu. Nada menaruh kertas yang ia pegang tadi di atas meja lagi. Lalu kembali melangkah ke kasur. Meraih handphone.


Ia mulai membuka ruang pesan, mencoba melihat seluruh pesan masuk di sana. Mengusap layar handphone satu-dua kali, Nada terkejut. Ada. Pesan Masuk itu ada. Itu dari Cikal. Tujuh belas jam yang lalu.


Nada, saya turut berduka atas kepergian salah satu orangtua kamu. Saya harap kamu bisa sabar untuk kejadian ini. Dan untuk festival summer jazz di sini, jangan kamu pikirkan karena keluarga adalah prioritas utama. Lagipula, festivalnya di undur tiga hari lagi. Cuaca di sini tak menentu. Kemarin hujan deras memaksa seluruh panitia untuk mengundur waktu festival. Untuk kamu, kalau di sana sudah membaik, saya masih berharap kamu bisa membantu saya di sini. Tapi ingat, di sana harus membaik dulu. Oh iya, terakhir saya dengar kabar, George Duke Trio menerima undangan tampil di festival dan Lisa Ono pun begitu. Ya, walaupun saya tau kamu pasti akan memilih Frank Sinatra atau Chet Baker, tapi kamu pasti tidak ingin melewatkan penampilan dari mereka berdua kan? Saya tunggu di sini ya Nada. Tetaplah tersenyum.

__ADS_1


Pesan itu usai. Nada selesai membaca semua isinya. Ia diam sejenak.


Nada merasakan perasaan campur aduk. Senang, sedih, dan juga bingung. Tapi yang paling menarik perhatiannya adalah, sejak kapan Cikal belajar mengemas pesan seperti itu? Lihatlah isi pesannya sekali lagi. Seperti bukan Cikal pada biasanya.


Yang selalu tampil elegan setiap saat, kaku, dan selalu bersikap dingin pada siapapun, di pesan itu, astaga, itu mungkin memang bukan Cikal. Nada seperti tidak percaya membaca isi pesan itu. Ia berpikir sejenak, lalu tertawa tipis. Mungkin cuaca ekstrim yang berubah-ubah di Banda Neira berhasil mengubah kepribadian Cikal. Atau mungkin, membuat Cikal menjadi laki-laki normal pada umumnya.


Semua keadaan juga sudah membaik. Dan untuk Banda Neira, tidak ada alasan apapun untuk menjadikannya tempat kesembuhan hati dan pelarian masalah sekarang. Nada perlahan sudah berdamai dengan kenangan-kenangan buruknya. Kepulangannya ke Jakarta dan pertemuannya dengan Bu Ann memang menjadi salah satu alasan untuk itu. Hatinya pulih. Walau belum utuh. Dengan begitu, ia bisa pergi ke Banda Neira dengan alasan menikmati dan melihat seniman-seniman Jazz tampil. Serta melihat keindahan dari setiap sudut di Banda Neira. Tak lebih dari itu.

__ADS_1


"Nad," Bu Ann membuka pintu kamar.


"Iya, Ma?"


"Tuh, Jeje di depan nungguin kamu."


Nada mengangguk, "Iya, Ma. Ini Nada mau turun."

__ADS_1


Bu Ann tersenyum, lalu menutup pintu kamar.


__ADS_2