Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#21 [Bab. biru langit dan lima sekawan]


__ADS_3

Setelah kembali berada di dalam rumah, Nada dan Naira kemudian duduk di sofa. Bersandar.


Nada memejamkan mata. Ia ingat. Hari ini, bukan cuma Bara saja yang pergi dari Amsterdam. Tapi, Cikal juga. Menurut dari apa yang dikatakan Cikal kemarin, hari ini dia akan pergi ke Banda Neira untuk mengurus Summer Jazz di sana. Namun, bukan cuma itu. Nada juga ingat tentang kabar yang disampaikan Cikal padanya. Kabar kalau Nada akan tampil di New Hall. Sebagai penampil utama.


Sebenarnya sejak setahun lalu melihat New Hall menjadi tempat pertunjukan musisi Jazz dunia, Nada mulai membangun mimpi untuk tampil di atas panggungnya. Sebuah mimpi indah yang menjadi kenyataan setelah Cikal memberitahukan kabar baik itu kemarin. Kabar kalau Nada akan menjadi penampil utama di New Hall bulan depan.


Tapi, mimpi indah itu sepertinya tidak menjadi mimpi indah lagi. Bahkan yang bermimpi saja tidak tau mengapa mimpinya bisa berubah. Sama sekali tidak tau apa alasannya. Apalagi, Cikal tidak bisa melatih Nada untuk itu. Cikal harus fokus pada Summer Jazz di Banda Neira, karena yang bertanggungjawab atas Summer Jazz itu serta mengurus semuanya adalah Cikal.


Nada menghela napas.


Laki-laki itu. Walaupun Nada tidak mengerti mengapa Cikal menjadi laki-laki yang mempunyai sikap dingin, kaku, menyebalkan, tapi rasa kagum itu, masih disimpan Nada padanya. Bahkan mungkin, sebuah perasaan yang lebih dari itu.


Aduh, kenapa gue mikirin dia.


"Mas Bara mana, girls?" tanya Jeje.


Jeje dan Una hadir. Ikut bergabung. Tampak Jeje membawa satu gelas teh, lalu duduk di samping Naira. Sedangkan Una, terlihat memakai earphone dan memegang iPod ditangannya.


Nada membuka mata, melihat kehadiran kedua sahabatnya itu.


"Baru aja pergi. Telat lo." jawab Naira.

__ADS_1


Sesaat setelah Jeje dan Una bergabung duduk di sofa, suara telepon rumah terdengar berdering. Dan pada saat itu juga, Nada langsung bangkit dari sofa, lantas melangkah ke arah telepon rumah yang berada di atas lemari bufet minimalis, tepat di belakang sofa Jeje, dan Naira.


..."Halo,"...


..."Halo, Lea..."...


Masih dua kata yang diucap, tapi Nada sudah mengenal suara itu. Suara seseorang yang sangat menyebalkan bagi Nada. Itu suara Bunyi. Karena cuma Bunyi, orang selain Pak Karso yang memanggil Nada dengan nama Lea.


Dengan wajah jengkel, Nada menutup telepon itu.


"Siapa, Nad?" tanya Jeje. Melihat ke arah Nada.


"Salah sambung."


..."Apasih?!"...


..."Gue baru mau ngomong, tapi lo uda nutup telponnya."...


..."Iya, kenapa?"...


..."Bentar lagi gue sampai di rumah lo. Mandi gih. Yang wangi ya. Terus pakai dress putih. Gue gak mau bawa---"...

__ADS_1


Ceklek


Belum siap kalimat Bunyi selesai, Nada kembali menutup telepon itu. Kesal.


"Siapa sih, Nad? Kok lo kayak kesel gitu?" tanya Naira. Penasaran.


"Bunyi." jawab Nada ketus.


Naira dan Jeje saling lirik, lalu melihat Nada. "Cieee...." ucap mereka berdua serentak.


"Kayaknya ada yang mulai pdkt nih, ehem." Rayu Naira.


Yang dirayu malah tak acuh. Tapi, tampak sedikit warna merah di wajahnya. Tidak terlalu merona, hanya saja, itu benar-benar merah.


"Gue uda nebak sih... Soalnya kemaren itu, tatapan Bunyi beda banget ke lo. Ya, kalau gue jadi lo, pasti gue embat sih." tambah Jeje.


Naira dan Jeje tertawa.


Nada sama sekali tidak mengindahkan rayuan kedua sahabatnya. Ia kemudian melangkah perlahan ke arah sofa. Namun, baru saja masuk langkah yang kelima, telepon rumah itu berdering untuk yang ketiga kalinya. Dengan wajah yang sekarang tampak semakin kesal, semaki jengkel juga, Nada kembali lagi dan mengangkat telepon itu.


..."Apa lagi sih Bunyi?!"...

__ADS_1


..."Bunyi? Bunyi siapa? Saya Cikal."...


Nada terkejut. Itu bukan Bunyi. Ternyata telepon yang ketiga ini dari Cikal. Nada menutup mata, memegang dahinya. Astaga, bego banget sih.


__ADS_2