
"Akang Bunyi..."
Seseorang yang tadi terdengar menyapa dari jauh, sekarang berada di depan Nada dan Bunyi. Dia seperti sedang bahagia sekali saat menatap Bunyi.
"Mang Asep." sahut Bunyi.
Setelah saling menyapa, Bunyi dan orang yang bernama Mang Asep itu kemudian berpelukan. Seperti sedang melepas rindu.
Nada hanya memperhatikan saja. Ia sama sekali tidak mengenal Mang Asep.
"Akang kemana aja baru kelihatan sekarang? Mamang pikir Akang mah gak tinggal lagi di Belanda," ucap Mang Asep setelah pelukan mereka usai.
"Aku pergi ke Jakarta, Mang... ngurusin panti asuhannya Mama. Baru hari kamis kemarin sampai di sini." jelas Bunyi.
"Pantes aja atuh, gak pernah kelihatan." ujar Mang Asep. Nyengir. Menepuk-nepuk bahu Bunyi.
Kemudian Mang Asep beralih melihat Nada.
"Ohiya, Mang. Ini Nada, pacar aku." kata Bunyi. Tersenyum.
Nada terkejut. Bahkan langsung melihat Bunyi. Yang dilihat malah melirik dengan segudang arti atau maksud yang lain.
Tapi saat ini, Nada malah tidak seperti biasanya yang langsung protes atau kesal kalau Bunyi sedang berkata yang tidak-tidak. Karena kali ini, raut wajah Nada tidak menunjukkan tanda-tanda kekesalan. Malah, Nada langsung bersalaman dengan Mang Asep.
Mang Asep mengangguk, juga tersenyum. "Kalau gitu, Akang sama pacarnya silahkan duduk. Biar mamang buatkan dua porsi bakso spesial."
"Jangan lupa teh angetnya ya, Mang..." ucap Bunyi.
"Siap." jawab Mang Asep. Bersemangat.
Lalu Mang Asep melangkah pergi. Meninggalkan Nada dan Bunyi yang sekarang melangkah perlahan ke arah satu bangku kayu panjang di sebelah kiri toko. Tepat di pintu masuk menuju perpustakaan kecil.
__ADS_1
Selain banyak orang yang terlihat sedang menyantap bakso mereka masing-masing, ada juga yang terlihat sedang berdiri, mondar-mandir di sela-sela rak buku. Bahkan ada yang berdiri sambil membaca buku juga.
Dan jika ditelaah, bagaimana bisa konsep warung, toko, atau restoran seperti ini bisa begitu menyatu dengan buku-buku itu? Nada memperhatikan jelas setiap bagiannya. Mungkin, ini yang dinamakan saling melengkapi. Bahkan kedua hal yang sebelumnya tidak terpikirkan bisa untuk disatukan, pada akhirnya akan bersatu juga tanpa ada sebuah pemaksaan.
"Tunggu di sini dulu, ya, Lea..." ujar Bunyi. Melangkah masuk ke dalam sela-sela rak buku.
Nada duduk di bangku kayu panjang. Menaruh helm di sebelahnya. Dan menatap ke arah Bunyi yang sedang memilih-milih buku.
Laki-laki itu mau apa? Pikir Nada. Tapi saat pikiran itu usai, saat itu juga Bunyi datang kembali ke arah Nada. Membawa satu buku ditangannya.
"Nungguin gue? Takut kalau gue pergi?" rayu Bunyi. Duduk disamping Nada.
"Enggak," jawab Nada yakin.
"Jadi kenapa ngelihatin terus?"
"Gue bingung aja, kenapa gue baru tau sekarang kalau di Amsterdam itu ternyata ada bakso." jelas Nada.
Bunyi menatap Nada. Lalu beralih melihat ke arah depan. Dan masih tampak memegang buku yang dia ambil tadi.
"Dulu Mang Asep itu pekerjanya Mama. Tapi tiga tahun yang lalu, Mang Asep mutusin buka restoran sendiri. Dan uniknya, dia cuma milih bakso yang ada di daftar menu. Gak ada yang lain. Kalau perpustakaan itu, aku sengaja ngasih ide supaya restorannya beda dari yang lain. Lagian, gak ada salahnya kan menggabungkan dua hal yang sangat berbeda jadi satu?" Bunyi mendekatkan tatapannya pada Nada. Tersenyum. "Kayak kita..."
"Kita?"
Bunyi mengangguk pasti.
Kalau saja satu pertanyaan aneh layak untuk diucapkan di momen ini, maka pertanyaan itu pantas didapatkan oleh Nada. Lihatlah. Ada apa dengannya? Ia sama sekali tidak kesal seperti sebelum-sebelumnya. Perempuan cantik dress putih minor 9 itu hanya diam.
Apa yang dikatakan Bunyi benar. Tidak ada salahnya menggabungkan dua hal yang berbeda jadi satu. Ya, karena, sedih dan bahagia saja dua perasaan yang sangat berbeda. Tapi manusia sering merasakan perasaan itu secara bersamaan. Entahla. Manusia memang terlalu naif untuk membicarakan tentang perbedaan. Padahal, dari perbedaan itulah manusia bisa belajar bagaimana caranya bersikap dewasa untuk menilai dan menghargai sesuatu.
"Nih, ambil." Bunyi memberikan buku itu pada Nada. Buku yang tadi dia ambil dari perpustakaan mini.
__ADS_1
Nada menerimanya.
"Bukunya bagus," Bunyi tersenyum.
"Dari buku itu aku belajar caranya ikhlas, Lea. Caranya gapapa untuk sebuah kehilangan." tambahnya.
Nada melihat buku itu. Yang sekarang berada ditangannya.
"Dari buku ini?"
"Iya."
"Tapi kan ini buku horor, Bunyi."
Bunyi tertawa. "Darimana horornya, Lea? Lo udah pernah baca?"
Nada menggeleng pelan. "Belum, tapi dulu Mas Bara pernah bilang kalau buku ini buku horor."
"Bara bohong. Itu bukan buku horor, Lea. Itu buku petualangan." jelas Bunyi.
"Tapi, kalau seandainya itu pun buku horor, ya, kan, horor itu sama kayak kehilangan sesuatu, Lea..."
Nada mengernyitkan dahinya. "Sama darimananya? Ngaco."
Bunyi tertawa kecil. Mendekatkan wajahnya, "Sama-sama menyeramkan..." Bisiknya.
Bunyi tertawa lagi. Sekarang memalingkan wajahnya. Memperhatikan sekitar. Sementara itu, Nada terdiam. Menggantungkan kebingungan di ujung wajahnya. Memperhatikan buku yang ada ditangannya.
Mungkin, setiap orang punya caranya masing-masing untuk menjelaskan atau memahami sesuatu. Dan laki-laki yang dianggap aneh oleh Nada itu, yang sejak pertama kali bertemu sering membuat Nada kesal, bahkan mungkin hampir sepanjang waktu, punya banyak sekali cara untuk menjelaskan sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Nada menghentikan perhatiannya pada buku Lima Sekawan karya Enid Blyton yang terkenal itu. Yang tadi diberi oleh Bunyi. Nada lalu ikut memperhatikan sekitar.
__ADS_1