Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#31 [Bab. sepasang kerang jingga]


__ADS_3

...• • •...


"Mau di sini aja, Kang, makan baksonya?" Mang Asep datang membawa dua mangkuk bakso di atas nampan.


"Iya, Mang. Taruh di sini aja." Sahut Bunyi.


Mang Asep menaruh dua mangkuk bakso di bangku kayu panjang, masing-masing di sebelah Nada dan Bunyi.


"Selamat menikmati." ucap Mang Asep.


"Makasih, Mang." jawab Bunyi.


Mang Asep pergi. Punggungnya perlahan menghilang.


Bunyi mengambil satu mangkuk bakso, mengaduk kuahnya dengan sendok, lalu mulai memakan salah satu bakso yang ada.


Sementara itu, Nada yang notabene menjadikan bakso sebagai salah satu makanan kesukaannya malah sama sekali tidak mengambil satu mangkuk bakso yang ada di sampingnya. Nada cuma memperhatikan Bunyi saja.


"Tuan putri yang cantik ini gak laper?" ucap Bunyi tiba-tiba.


"Enggak."


Nada agak kaget. Tentu langsung menghentikan tatapannya pada Bunyi yang sekarang seperti kepedasan.


Kalau dilihat dari sajian baksonya, sepertinya semua bumbu, saus, cabai, kecap, sudah menjadi satu dalam mangkuk. Mungkin mangkuk punya Bunyi, saus atau cabainya kebanyakan.

__ADS_1


Bunyi meletakkan mangkuk bakso itu kembali di atas bangku. Sedangkan Nada, refleks mengambil tumbler yang berisi air mineral dari dalam tootbag-nya, kemudian ia berikan pada Bunyi.


"Bunyi,"


"Iya, Lea?" Bunyi menutup tutup tumbler, kemudian menaruh tumbler disamping mangkuk bakso-nya.


"Gue mau minta maaf."


"Minta maaf?"


"Iya... karena uda nampar lo kemarin."


"Kenapa lo tiba-tiba minta maaf?"


"Dan apa, Lea?" desak Bunyi.


"Ya, itu tadi... Lagian tinggal bilang iya aja ribet banget sih."


Bunyi memberhentikan tatapannya, "Gue uda maafin lo kok. Santai aja." Bunyi melepas kacamata, "Tapi...."


"Tapi apa?"


"Biasanya kalau gue maafin orang, harus ada syaratnya gitu, Lea."


"Syarat?" Nada bingung.

__ADS_1


"Iya. Biasanya gue nyuruh orang itu nyium gue, atau kayang, ya, minimal cosplay jadi ubi rambat."


Nada memantapkan tatapannya. Tajam.


"Kenapa lo nyebelin banget sih, Bunyi?!" Nada memalingkan wajahnya. Kesal.


"Gue becanda, Lea... hahaha."


"Gak lucu!"


Siapa yang tidak kesal. Bahkan sesuatu yang paling serius sekalipun, jika dibicarakan dengan Bunyi, ya, akan tetap sama saja. Dia akan selalu bercanda. Tapi, Nada juga sepertinya menahan tawa. Lagian, manusia mana yang mau jadi cosplay ubi rambat hanya untuk sekadar kata maaf?


Dan untuk kejadian kemarin, entah kenapa Nada tiba-tiba meminta maaf perihal itu. Bukannya, Bunyi memang pantas mendapatkan tamparan karena telah memberi Nada lelucon april mop kemarin?


Bunyi menghentikan tawanya. "Gue uda maafin lo, Lea. Tapi, besok temenin gue ke rumah sakit, ya."


Nada kembali melihat Bunyi, "Mau ngapain ke rumah sakit?"


"Entar di sana lo juga bakal tau." Bunyi tersenyum. Mengambil mangkuk bakso lagi. Lalu memakannya.


Jika dipikir-pikir, sikap Nada perlahan mulai cair. Ia tidak gampang kesal lagi, ya, walau akan ada saja alasan kenapa Nada harus kesal sama Bunyi. Lagipula, batu yang keras sekalipun, lama kelamaan juga bakal habis terkikis hujan. Bunyi memang aneh. Menyebalkan. Bahkan laki-laki paling konyol yang pernah Nada kenal. Tapi, Bunyi juga punya hati, dan Nada juga punya perasaan.


Langit tersenyum. Gerimis menghilang. Satu per satu pelanggan restoran Mang Asep beranjak pergi. Begitupula dengan Nada dan Bunyi yang bergegas pulang juga.


Tadi, Nada menerima syarat itu. Syarat yang diberikan Bunyi. Besok mereka akan pergi ke rumah sakit. Entahla. Bunyi tidak memberitahu jam berapa, rumah sakit yang mana, atau kenapa mereka pergi ke rumah sakit. Tapi yang jelas, sekarang, si biru langit meninggalkan restoran bakso Mang Asep, dan kembali menyusuri jalan. Mengantarkan tuan puteri kembali ke wilayah Beethovenstraat.

__ADS_1


__ADS_2