
Perjalanan yang menyenangkan. Cikal benar. Cuaca malam ini cerah sekali. Terang bulan menyinari beberapa pulau kecil. Tak ada badai sama sekali. Bahkan sekadar hujan atau gerimis rintik-rintik pun tak kunjung turun. Padahal beberapa hari yang lalu, Cikal bilang Banda Neira dan sekitarnya diguyur hujan deras setiap malam. Nada tersenyum. Dari dalam pesawat ia bisa melihat lampu--obor di sepanjang pesisir pantai. Laut yang biru walau sekarang malam hari, dan rimbun hutan di sisi kiri-kanan.
Lima belas menit perjalanan, pesawat masih terbang di atas air laut, melewati beberapa pulau kecil, dan kenangan.
Nada masih memperhatikan pemandangan dari balik kaca pesawat. Matanya mengerjap-ngerjap. Sesekali juga ia mengambil buku diary miliknya lalu menuliskan sesuatu didalamnya. Mungkin tentang perjalanan ini. Atau mungkin sesuatu yang lain. Sementara itu, sejak pesawat lepas landas, Una dan Naira sibuk memotret apapun yang mereka lihat. Una bilang, foto-foto itu akan diabadikan menjadi sorotan cerita di instagram. Walau saat memotret laut dan pulau, yang kelihatan cuma titik-titik lampu dan perahu-perahu kecil di atas air. Tapi katanya, setiap momen harus diabadikan tak terkecuali hal sekecil apapun. Termasuk foto Jeje yang sedang tidur dengan mulut terbuka. Una memang jahil. Jeje yang tadinya sangat ngantuk pun akhirnya sadar sempurna. Peri centil itu sempat mengomel, sebal karena terus diganggu oleh Una. Wajahnya kesal. "Gue ngantuk, Na. Lagian kan gue gak ngorok kayak lo." Ucapnya. Semua tertawa.
Tadi, Naira juga mengajak ngobrol pilot. Bertanya banyak hal tentang Banda Neira. Pantai, makanan, dan budaya-budaya lokalnya. Sudah seperti wartawan saja. Tapi yang ditanya pun sepertinya tidak keberatan. Ramah menjawab pertanyaan Naira bahkan memberitahu potongan-potongan kecil sejarah yang kalau dicari di google mungkin takkan ada. Walau sesekali penjelasannya terpotong karena tertawa. Una tiba-tiba menanyakan tentang laki-laki asli Banda Neira. Ada-ada saja.
Sisanya, sepuluh menit terakhir mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hal-hal menyenangkan yang akan mereka lakukan nanti. Seperti Jeje yang udah gak sabar ingin menyelam--melihat terumbu karang, Una yang ingin duduk di bibir pantai sambil minum es kelapa muda, dan Naira yang selalu ingin menyaksikan jingga tenggelam di laut. Semua itu memang hal yang menyenangkan. Tapi untuk Nada, kalau kalian tanya apa yang sedang dipikirkannya, ya sudah pasti tentang acara pembukaan festival besok. Segala rangkaian acara, musisi-musisi jazz hebat yang akan tampil, besok pasti akan sangat meriah. Itu adalah hal menyenangkan untuk Nada. Pengalaman yang berharga. Ya, kan alasan Nada datang cuma untuk festival summer jazz aja.
Tepat empat puluh lima menit berada di udara, akhirnya landasan Bandara Banda Naira sudah kelihatan. Dan beberapa menit setelah itu, akhirnya mereka sampai. Pesawat mendarat mulus. Summer Jazz Festival -- Selamat datang di Banda Naira! Spanduk besar berdiri kokoh menyambut di depan landasan. Ya, selamat datang di Banda Neira.
Pilot memberikan senyum sebelum mengantar Nada dan yang lain keluar dari pesawat. Lalu, saat sudah turun dari pesawat, Nada dan tiga peri centil dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba menyambut mereka. Tersenyum, memberi hormar. Ternyata dari tadi sudah ada yang menunggu. Seorang pemuda. Tampan, stelan pakaiannya juga rapi walau terlihat sangat aneh karena sekarang sudah hampir jam satu pagi. "Mau kuliah pagi, bro?" Tanya Jeje saat pemuda itu memberi salam. Semua tertawa.
__ADS_1
Dia langsung memperkenalkan dirinya. Namanya Abimanyu. Dia salah satu orang yang ikut mempersiapkan festival summer jazz. Cikal yang menyuruhnya datang menjemput Nada dan yang lain. Abimanyu bilang, Nada dan tiga peri centil akan menginap di hotel yang tak terlalu jauh dari lokasi festival. Dia juga bilang, Cikal lah yang mempersiapkan semuanya. Tapi hotel itu bukan untuk Nada dan tiga peri centil saja. Melainkan semua staff dan musisi-musisi yang akan tampil. Mungkin semua itu dilakukan Cikal agar segala keperluan yang menyangkut tentang festival bisa mudah dilakukan, termasuk transportasinya yang tak memakan waktu.
Nada tersenyum. Lalu memperkenalkan dirinya.
"Saya sudah tau. Yang ini Mbak Nada, kan. Ini Mbak Jeje, Mbak Naira, dan Mbak Una." jelas Abimanyu.
Nada menaikkan salah satu alisnya. Bingung kenapa Abimanyu sudah mengenali mereka satu-satu.
"Aduh... Jangan panggil Mbak dong. Panggil Jeje aja." saut Jeje.
Nada dan Naira saling tatap.
Abimanyu tertawa.
__ADS_1
Abimanyu bilang dia tak bisa lama-lama. Setelah mengantar Nada dan yang lain ke hotel, Abimanyu harus melanjutkan pekerjaannya. Tugas Abimanyu masih banyak sampai semuanya benar-benar siap. Nada menanyakan Cikal pada Abimanyu. Kata laki-laki itu, Cikal yang sangat sibuk. Bahkan istirahat sebentar pun gak bisa. Acara pembukaan festival besok memang memakan waktu dan tenaga. Belum lagi mengurus beberapa keperluan yang tak di duga-duga. Nada mengangguk pelan. Ia mengerti dan berterima kasih pada Abimanyu karena sudah meluangkan waktu menjemput dan mengantar mereka ke hotel.
Laki-laki itu dengan ramah bilang gapapa. Lalu membantu memasukkan semua barang-barang ke dalam mobil, sampai akhirnya mobil meninggalkan bandara perlahan.
Sekitar sepuluh menitan waktu yang diperlukan dari bandara untuk sampai di hotel. Di dalam mobil, Nada bertanya pada Abimanyu tentang keadaan beberapa hari terakhir di Banda Neira. Badai yang kata Cikal ekstrem sampai-sampai harus membatalkan acara pembukaan festival berulang-ulang kali, dan persentase persiapan besok. Bahkan Naira juga ikut bertanya. Naira bingung kenapa Banda Neira bisa terpilih menjadi tempat untuk festival summer jazz dan bukannya Bali atau Lombok yang terbilang sudah menjadi pilihan turis-turis mancanegara.
Abimanyu mengangguk pelan sembari mengatur laju mobil karena jalanan terlihat sedikit tidak rata. Jalanan kota kecil yang tampak sepi. Hanya ada satu--dua kendaraan melintas. Tapi meskipun begitu, tetap saja pemandangan sekitar sangat indah. Rumah-rumah penduduk lokal yang unik. Lampu terang benderang, warna-warni dan spanduk festival yang dipasang di sepanjang jalan.
Masalah badai, ternyata semua itu memang tidak bisa di prediksi. Bahkan beberapa malam terakhir, perhitungan cuaca saja salah. Hujan datang sesuka hati dan pergi pun begitu. Tapi semua bukanlah masalah. Bisa diatasi. Dan untuk persentase acara pembukaan besok, sudah 98%. Tinggal sedikit lagi. Abimanyu bilang, ada beberapa musisi Jazz yang baru akan sampai esok hari karena terkendala jadwal penerbangan dari negaranya. Ya, tapi itu juga bukan masalah yang besar.
Abimanyu melirik kaca mobil. Dia melihat Naira yang duduk di tengah-tengah dua peri centil--Jeje dan Una yang sudah tertidur. Kalau untuk mengapa Banda Neira jadi pilihan tempat festival summer jazz, Abimanyu mengedikkan bahunya. "I dont know. Tapi yang jelas, siapapun harus tau surga Indonesia yang satu ini."Jelasnya. Tersenyum tipis.
Naira mengangguk. Mengerti maksud Abimanyu.
__ADS_1
Sementara itu di bangku depan, Nada bersandar. Kembali melihat pemandangan di luar. Wajahnya tiba-tiba berubah. Iya sih, benar kalau malam ini Banda Neira sangat cerah. Gak ada hujan. Gak ada gerimis yang tiba-tiba turun. Tapi ternyata, ada hal lain yang lebih buruk dari hujan dan gerimis. Hal yang sekarang dirasakan oleh Nada. Datang tiba-tiba. Menusuk.
Ya, kalian benar. Rindu. Jelas sekali terlihat. Nada berbohong. Sejak beberapa jam yang lalu ia keliru. Sebenarnya yang ada di pikirannya bukan acara pembukaan festival besok. Nada memejamkan matanya. Sekarang ia gak bisa bohong lagi. Sejak beberapa jam yang lalu, pikirannya hanya tentang Bunyi.