Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#74 [Bab. jakarta land dan si putis]


__ADS_3

Tiga jam berlalu. Pukul delapan malam. Sudah saatnya untuk pergi. Setelah selesai membereskan semuanya, Nada dan ketiga peri centil melangkah menuju ruang tunggu. Sebentar lagi, pesawat akan lepas landas. Beberapa jam ke depan sudah bukan tentang Jakarta lagi. Akan ada banyak lembar baru yang siap untuk ditintakan. Diceritakan.


Tadi, di coffee shop, Cikal menelepon Nada. Menanyakan tentang keberangkatannya. Nada memberitahu kalau sebentar lagi ia akan segera lepas landas. Cikal sangat senang mendengar itu. Berarti, besok Nada bisa menghadiri acara pembukaan festival summer Jazz. Nada tepat waktu. Ia ikut senang. Tapi di sela-sela kesenangan itu ia juga bingung. "Sejak kapan Cikal bisa sebahagia itu?" Bahkan Cikal juga sempat menyadari tentang itu. Dia beberapa kali terdengar seperti menahan rasa senang yang dia rasakan. Nada tertawa kecil di dalam hati.


Lalu, Cikal akan menjelaskan rincian perjalanan setelah Naira bertanya tentang itu. Tapi bukannya menjelaskan, Cikal malah tertawa. Karena saat dia ingin menjelaskan, terjadi sedikit keributan. Jeje dan Una berebut telepon. Mereka ingin bertanya juga. "Makanannya enak-enak, gak? Pantainya pasti indah banget, ya... terus cowok-cowoknya?" Astaga. Dua cewek centil itu memang suka sekali begitu. Nada ikut tertawa juga. Tapi pada akhirnya mereka diam setelah Naira menatap tajam keduanya. Walau di banyak kesempatan saat mereka menentukan sesuatu Nada dan Naira mengikuti, tapi kalau Naira sudah mengeluarkan tatapan tajamnya, maka Jeje dan Una bisa langsung diam. "Udah kayak Ibu tiri lo, Nay." Celetuk Jeje. Tatapan mata Naira memang gak ada lawannya. Naira memang yang terbaik kalau soal ini.


Kembali ke telepon. Naira mengulang pertanyaannya tentang rincian perjalanan mereka. Cikal mulai menjelaskan. Dia bilang, mereka gak akan langsung sampai di Banda Neira malam ini. Nada dan ketiga peri centil akan sampai di Ambon terlebih dahulu. Setelah itu, dari Ambon mereka akan memakai satu pesawat kecil untuk pergi ke pulau Banda Neira. Umumnya, yang paling sering digunakan adalah kapal. Jarang sekali ada yang memakai jalur udara karena jadwal penerbangan yang tidak setiap hari ada. Tapi Cikal sudah mempersiapkan semuanya. Cikal bilang, kalau lewat jalur darat, perjalanannya lama. Sepuluh sampai dua belas jam. Maka dari itu Cikal memilih jalur udara. Yang hanya butuh empat puluh lima menit saja dari kota Ambon ke pulau Banda Neira. Tapi itu pun, Cikal memberitahu kalau Nada dan yang lain gak bisa langsung terbang ke Banda Neira malam ini. Cuaca lumayan buruk. Mereka harus menunggu besok pagi. Nada sempat bertanya tentang acara pembukaan festival itu. "Enggak, jangan takut. Acara pembukaannya siang kok." Jelas Cikal. Setelah semuanya selesai dijelaskan, Cikal menutup telepon. Katanya masih banyak yang harus diurus untuk acara pembukaan besok. Apalagi sempat tertunda beberapa hari. Jadi, ada beberapa hal yang harus diurus dari awal. Cikal memberi salam. Lebih tepatnya, "See, you." Telepon berakhir.


"Ayo, girls..." ujar Jeje.


Suara panggilan dari speaker Bandara terdengar berulang-ulang. Ini waktunya mereka berangkat.


Nada dan ketiga peri centil bangkit, lalu melangkah perlahan meninggalkan ruang tunggu. Jeje dan Una melangkah duluan. Nada dan Naira mengikuti di belakang.


Mereka benar-benar akan segera berangkat. Jakarta akan ditinggalkan untuk beberapa hari ke depan. Mungkin tiga hari atau boleh jadi seminggu. Tergantung. Tapi kalau melihat antusias Jeje yang selalu berkata, "Gue mau keliling sampai puas di sana." Atau Una yang juga bilang, "Jangan kayak Amsterdam kemaren, deh. Buru-buru banget." Kali ini, perjalanan akan menjadi sedikit panjang. Ya, semoga saja hari-hari yang dilewati bisa menyenangkan. Semoga saja semua bisa dilalui dengan baik. Lagipula, cuma tentang festival itu. Tak ada yang lain.


Nada menghentikan langkah kakinya. Ia melihat nomor kursi pesawat miliknya. Jeje dan Una berada di satu baris kursi yang sama di sebelah kiri. Sementara Naira berada di depan mereka. Bersama dua orang yang tidak dikenal. Nada melihat kanan-kiri. Nomor 25. Ternyata di depan. Nada melangkah perlahan. Melewati satu per satu baris bangku yang sudah ada pemiliknya.


Jalur keberangkatan ini padat. Ternyata penerbangan domestik sedang ramai. Biasanya tak terlalu ramai seperti ini. Nada memperhatikan satu per satu orang yang ada disekitarnya. Mungkin ketertarikan orang-orang Jakarta ke tempat wisata dalam negeri sudah meningkat. Penerbangan kali ini penuh. Untung saja Jeje memesan tiket jauh-jauh hari sebelum hari ini. Kalau tidak, mungkin mereka tidak akan mendapatkan kursi.

__ADS_1


Nada menghentikan langkah. Itu kursinya. Kursi nomor 25.


"Mila, Mama di sini, ya.."


"Oke, Ma."


Seorang perempuan melambaikan tangan dari kursi depan kepada seorang anak yang duduk di samping kursi nomor 25 milik Nada. Anak yang cantik. Nada memperhatikan anak itu sebentar, lalu kemudian duduk.


Bersandar sambil memangku seekor kucing putih cantik miliknya, anak itu tersenyum pada Nada.


Nada membalas senyum itu.


"Kakak mau ke pulau Banda, juga?" ucapnya tiba-tiba.


Nada mengangguk. "Kamu juga?"


"Iya..." ucapnya bersemangat. "Soalnya Mama mau datang ke festival itu, Kak. Mama suka banget sama Jazz. Kalau aku sih enggak. Soalnya aku lebih suka Country." jelasnya.


Nada hanya bertanya satu pertanyaan. Tapi anak itu menjelaskan banyak jawaban. Imut sekali. Dan juga bijak. Padahal kalau dilihat dari wajahnya yang super menggemaskan dengan rambut poni pendeknya, dan tubuh yang mungil, anak itu sepertinya masih berusia empat atau lima tahun. Tapi gaya bicaranya sudah seperti orang-orang dewasa saja.

__ADS_1


Nada tertawa tipis. Tersenyum pasti.


"Tadi kakak sempat dengar, nama kamu Mila, ya?" tanya Nada.


"Iya. Kalau kakak?"


"Nada."


"Wah... pasti kakak suka banget sama musik, ya? Atau jangan-jangan kakak musisi?" ucapnya polos. Bersemangat.


Nada tertawa mendengarnya. Mila benar-benar menggemaskan.


"Enggak. Kakak bukan musisi. Cuma suka musik aja." jelas Nada.


Mila mengangguk. "Ohh... kirain musisi."


"Kalau ini, namanya siapa?" Nada bertanya tentang kucing yang sejak tadi dipangku oleh Mila. Ia juga mengelus kepala kucing itu.


"Ini Putis, Kak." jawab Mila.

__ADS_1


Nama yang bagus untuk seekor kucing Persia Himalaya. Bulunya lebat. Putih. Cantik sekali. Tak kalah cantik dengan pemiliknya.


Sebenarnya Nada ingin bertanya hal lain, tentang bagaimana bisa Mila membawa Putis naik pesawat, atau tentang Mila itu sendiri. Dan Mila pun sepertinya begitu. Ingin mengobrol banyak dengan Nada. Tapi, suara pramugari sudah terdengar berulang-ulang. Lampu pesawat sudah mati. Dan satu menit setelah itu, pesawat lepas landas.


__ADS_2