
Jika melihat pada jam yang berdetak, sekarang setengah sembilan lewat. Namun matahari masih bersembunyi di sela-sela langit. Beberapa hari terakhir, cuaca di Amsterdam memang sejuk. Suhunya jauh dari kata panas. Tapi walaupun begitu, keringat tetap saja mengalir pada Nada.
Ia khawatir sesuatu akan terjadi padanya. Jeje, Naira, dan Una membawa Nada ke dalam kamar. Menyuruh Nada duduk di depan kaca. Benar sekali. Sesuatu sedang terjadi padanya.
"Kalian mau ngapain sih?" tanya Nada bingung. Menatap ketiga sahabatnya bergantian.
"Udah lo diem aja. Kita bakal buat lo jadi makin cantik,"
"Iya, Nad. Masa mau nge-date gak dandan."
"Biar Bunyi pangling lihat lo nanti. Terus doi klepek-klepek deh."
Ucap ketiga sahabatnya Nada itu bergantian.
Tangan mereka tampak sigap mengambil beberapa peralatan M**ake up di depan kaca. Jeje menata rambut, Naira pada wajah, dan Una tampak sedang memilih baju yang dia ambil dari lemari.
__ADS_1
"Kan kalian tau gue gak terlalu suka dandan. Paling kalau cuma mau latihan doang. Lagian gue sama Bunyi gak ada apa-apa." ujar Nada. Seperti sedang mencari-cari alasan agar ketiga sahabatnya itu berhenti merias dirinya.
"Cuma ngambil pesanan bunga Bu Mira doang. Siapa yang mau nge-date sih..." tambahnya.
"Tenang, Nay. Pokoknya lo bakal jadi The New Princess. Elsa kalah deh." ujar Jeje. Tampak masih fokus merias rambut Nada.
"Na, dress-nya ada?" tanya Naira.
"Ready..." sahut Una. Mengangkat dress putih yang sudah ia pilih untuk dipakai sama Nada.
Ketiga sahabat Nada itu masih fokus mempersiapkan Nada yang akan pergi dengan Bunyi. Mereka pikir, ini adalah momen kencan pertama sahabatnya. Tapi, yang hendak pergi saja tidak berpikir seperti itu. Jauh sekali. Ya, lagipula, manusia mana yang akan pergi kencan tapi perasaannya bukan bahagia. Melainkan kesal. Jikalau pun ada, mungkin manusia itu cuma Nada saja.
Una memberikan dress putih polos pada Nada.
Perempuan cantik berambut cokelat sebahu, yang sekarang tampak semakin cantik karena riasan dari sahabat-sahabatnya, mengambil dress putih polos itu, lalu melangkah ke arah pintu kamar mandi yang berada di sebelah kirinya.
__ADS_1
"Gue gak pede..." ujar Nada khawatir.
Jeje, Naira, dan Una menatap Nada bersamaan.
"Percaya deh. Pasti makin cantik." ujar Naira.
"Iya, Nad. The New Princess." tambah Jeje. Melengkungkan tangan, memutar badan.
"Ayo buru... Gak sabar nih. Pengen lihat." desak Una. Penasaran.
Nada yang canggung saat hendak mengganti bajunya dengan dress putih polos, langkah kakinya seperti terpaku.
Benar kalau ia adalah pemain Organ Jazz yang di setiap saat selalu tampil cantik dan elegan pada kelasnya. Tapi untuk momen ini, Nada sama sekali tidak percaya diri. Dan juga kesal tentunya.
Jika ia memakai dress putih itu, maka sama saja ia sudah memenuhi apa yang dikatakan Bunyi saat menelepon tadi. Sebenarnya riasan dari ketiga sahabatnya Nada bukanlah masalah. Atau dress putih polos yang sedang ia pegang sekarang. Tapi, Nada hanya tidak ingin Bunyi melihatnya seperti ini.
__ADS_1
Semesta, Laki-laki aneh itu pasti bakal ketawa.
Menghentikan ragu, berbalik badan, membuka pintu, Nada melangkah ke dalam kamar mandi. Membawa dress putih polos di tangannya. Membawa kekesalan di dalam hatinya.