Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#26 [Bab. biru langit dan lima sekawan]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Pérotin, Apollo5 - Beata Viscera II, dan Jane Winther - Carried By Angels]


...• • •...


Matahari mulai muncul. Genit sekali. Cahayanya menerobos masuk ke segala arah. Awan kehilangan sahabatnya. Matahari sejajar dan mesra dengan langit. Dijatuhkan mereka ribuan mawar di seluruh dunia. Terhempas jatuh seperti melati yang terombang-ambing di udara.


Seorang gadis kecil di samping Organ berbisik kepada Ayahnya.


"Jika sudah besar nanti, apakah aku akan mengenal cinta dengan sangat baik? Apakah cinta akan memihakku seperti aku yang akan memihaknya kelak? Atau akan meninggalkanku dengan sangat tega?"

__ADS_1


Semua pertanyaan lolos. Dijawab hanya dengan senyuman.


Pak Sapardi pernah bilang, tentang mencintai dengan sederhana. Tere Liye juga. Pernah mengatakan arti dari sebuah rasa percaya. Bukankah, jika hanya bermodalkan dengan rasa percaya yang sederhana saja, malam akan tetap berganti dengan pagi juga? Karena, ya, mentari mana yang pernah berbohong? Jikalau ada, itu sudah campur tangan hujan. Dan kalau ingin menyalahkan, jangan salahkan mentari atau juga hujannnya. Tapi salahkan dirimu yang belum mengerti semburat cahaya dan juga dingin rintiknya.


Disambut beberapa cempaka putih yang bertaburan di setiap sudut yang tak beraturan, serta keramaian orang yang tampak sedang meratapi sebuah kepergian, vespa biru langit sampai di Amsteldijk. Tepatnya di Cemetery Zorgvelied. Bunyi mematikan mesin vespanya.


Mereka berhenti di bawah pohon sejuk yang berada persis di sebelah kanan tempat ini. Sebuah tempat pemakaman yang setiap harinya akan selalu menjadi tempat penampungan untuk air mata juga. Banyak tangisan pecah di sini. Air mata seperti tidak ada harganya. Jatuh menyentuh bumi dengan sangat mudah.


Ada yang berdiri seutuhnya, berlutut, dan merintih di atas makam. Nada memperhatikan sekitar. Ternyata, sekalipun Indonesia atau Amsterdam, sepertinya tentang melepaskan kepergian juga akan tetap sama. Akan tetap kelabu warnanya. Karena air mata tidak memilih tempat tertentu untuk jatuh. Akan berserakan dimana saja saat daun itu layu, gugur, kemudian jatuh terhembus angin.

__ADS_1


Perayaan kerpergian seseorang juga tetap akan sama walaupun waktu, tempat, dan orang yang akan pergi itu berbeda. Karena bagi mereka yang meninggalkan atau mereka yang ditinggalkan, langit akan tetap abu-abu warnanya. Tidak ada cerah, atau gerimis sejuk yang mengguyur jatuh barang sejenak.


Karena kepergian, memang seharusnya seperti itu. Air mata, kehilangan, penyesalan, perasaan yang hancur, menjadi sahabat terbaik. Nada menghentikan tatapannya pada makam dan keramaian yang tak jauh dari mereka.


Tapi kenapa Bunyi membawa kami ke tempat ini? Apa alasannya? Laki-laki ini, ternyata dia sama sekali tidak bisa ditebak.


Bahkan Bunyi hanya diam saja di atas vespa. Dia masih belum bicara sepatah kata pun. Tidak seperti sebelumnya, dan masih melihat ke tengah-tengah pemakaman itu. Memperhatikan salah seorang di dekat makam yang sekarang terlihat menaburi beberapa bunga tulip ke atas makam.


Nada melihat wajah Bunyi. Ia bingung.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya ingin diperlihatkan Bunyi pada Nada? Apakah itu pemakaman orang terdekatnya? Atau Bunyi ingin menunjukkan hal lain? Nada tidak mengerti. Ia tidak bisa menebak-nebak seperti itu. Karena tidak ada gunanya bersembunyi di dalam banyaknya pertanyaan. Nada harus bertanya pada Bunyi. Ia harus menanyakan alasan Bunyi mengajaknya ke tempat ini.


Namun, di saat kalimat itu akan terucap dari mulut Nada, tiba-tiba Bunyi memalingkan wajahnya dari pemakaman itu, kemudian melepaskan helm, lantas turun dari vespa.


__ADS_2