Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#51 [Bab. matahari itu tenggelam, nan]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Florian Palmer - Song For Emma]


Lima belas menit berlalu. Hujan tak kunjung turun, dan langitpun kembali cerah. Tapi meskipun begitu, awan hitam tetap akan ada. Walau matahari bersinar terang. Walau kelopak bunga mekar di seluruh penjuru bumi, hujan akan tetap ada di dalam hati seseorang.


Mobil sampai. Lajunya terhenti di depan rumah yang menjadi tujuan. Nada turun. Ketiga sahabatnya mengikuti. Pak Tono menurunkan barang-barang sebelum akhirnya membawa mobil pergi meninggalkan Nada dan yang lain.


Rumah itu. Mata Nada redup memandang ke arahnya. Setahun lalu tangisan pecah di dalamnya. Bertahun-tahun silam seseorang pergi darinya. Meninggalkan banyak sekali kenangan dan segala hal yang masih tersimpan rapi di dalam hati Nada. Sampai akhirnya ia kembali. Melihat saksi bisu itu. Menghampiri sesuatu yang tahun kemarin dicoba untuk ditinggalkan. Semesta memang suka sekali bercanda. Seperti melempar botol yang berisikan secarik kertas di tengah laut, tapi akhirnya botol itu kembali ke tepi pantai. Tidak ada yang tau.


Menelusuri. Memperhatikan setiap bagiannya. Warnanya kelabu. Beberapa orang mondar-mandir di halaman rumah. Banyak di antara mereka berpakaian gelap. Yang artinya, melepaskan kepergian seseorang. Benar sekali. Kepergian memang selalu dilambangkan seperti itu. Ya, walau ada satu-dua yang mencoba menyelipkan warna terang di sela-sela kepamitan, tapi tetap saja, kepergian selamanya hanya menjadi miliknya. Kelabu.


Mungkin, kepulangan ini memang sebagai penghormatan atas pulangnya Pak Tio ke langit yang tinggi. Tapi bagi Nada, kepulangannya ini menjadi sesuatu yang disebut dengan kembali pada kenangan. Lebih tepatnya masa lalu. Menoleh ke belakang untuk kembali mengingat. Sungguh. Rumah itu, Nada sekarang berada tepat di depannya.

__ADS_1


Kita beri nama jingga saja. Supaya kalau sedih pun, kita bisa selalu kelihatan berwarna. Lagipula, kemana pun kita pergi, kita pasti akan kembali ke sini kan, Ayah? Nada kecil tersenyum. Wajahnya menggemaskan bak ujung pelangi yang tak pernah ditemukan. Di sampingnya, Pak Karso juga ikut tersenyum. Memainkan not-not indah dari organ yang dijamah.


Momen itu adalah hari dimana mereka menempati rumah. Hari dimana jingga menjadi bagian penting bagi sejarah hidup Nada. Banyak kebahagiaan tumpah meruah di setiap bagian dari jingga. Tersebar dimana-mana. Dan untuk kesedihan pun juga sama. Atau mungkin, lebih besar ketimbang kebahagiaan yang tercipta.


Nada menghela napas. Ia tersadar dari lamunan sepuluh detiknya. Lamunan tentang jingga yang sekarang ada di hadapannya. Lamunan tentang jingga yang sudah menjadi kelabu. Sungguh. Kepulangan ini memang bukan tentang Pak Tio. Melainkan tentang kenangan yang kembali dicoba untuk dihidupkan.


"Non! Non!"


Teriakan kencang terdengar. Dan langkah kaki menghantam alas bumi. Nada mengalihkan pandangannya. Seseorang sedang berlari ke arahnya. Jeje, Naira, dan Una pun ikut memperhatikan orang itu.


Nada tersenyum menyambut kedatangan Bi Tina yang langsung memeluknya.

__ADS_1


"Bibi kangen sekali sama, Non." Bi Tina menangis di dalam pelukan.


"Nada juga kangen banget sama Bi Tina." Nada tersenyum haru dalam pelukan.


Jeje, Naira, dan Una juga tersenyum melihat itu. Pelukan pelepas rindu yang mujarab. Karena kata orang, terkadang rindu cuma membutuhkan pelukan hangat. Tak lebih.


Pelukan itu usai. Bi Tina menyeka air matanya. Tersenyum bahagia.


"Tapi Bibi senang akhirnya Non pulang. Ibuk juga pasti senang sekali." Bi Tina menghela napas. "Semenjak Non pergi, rumah jadi sepi. Gak ada yang main organ lagi. Atau yang selalu jahilin bibi pagi-pagi. Bahkan setiap sore, Bibi lihat Ibuk selalu megang foto Non Nada sambil melihat matahari tenggelam. Nangis." Bi Tina terisak.


Nada terkejut. Apa maksud perkataan Bi Tina barusan? Bu Ann? Apakah itu benar? Apakah Bu Ann benar-benar merindukan Nada? Ya tuhan. Rindu. Benar-benar menjadi salah satu yang paling jujur. Apalagi, rindu Ibu pada anaknya yang pergi. Mungkin itu memang benar. Lagipula, orangtua mana yang tidak rindu pada anak kandungnya setelah sekian lama tidak bertemu? Apakah ada? Dan untuk Nada, saat mendengar kerinduan Bu Ann itu, di dalam hatinya seperti ada sesuatu yang kembali mekar. Sesuatu yang kembali hidup dan bercahaya.

__ADS_1


"Bibi jangan nangis. Nanti aku jadi ikutan nangis. Yang penting kan sekarang aku udah di sini." Nada tersenyum. Mengusap-usap lengan kanan Bi Tina. Menenangkan.


Bi Tina menarik napasnya. Mengangguk pelan dan tersenyum lagi.


__ADS_2