
Apa lagi yang paling membahagiakan untuk Nada sekarang selain menikmati sunset itu bersama dengan Bunyi-nya. Hembusan lembut angin, hangat dari udara lautan. Terima kasih untuk beberapa jam indah ini semesta, terima kasih.
Air laut mulai bergelombang, gemericiknya bersenandung seiring beberapa perahu nelayan pulang ke daratan. Malam menjemput bulan. Satu rasi bintang cantik membuka lembaran pertamanya. Sekali lagi. Kerlap-kerlip di tengah langit. Cerah, tak seperti malam kemarin yang diterpa badai, sepertinya malam ini Banda Neira akan baik-baik saja.
"Selamat istirahat, Tuan putri." Bunyi berkata pelan. Melambaikan tangan. Nada tersenyum malu. Raut wajahnya masih dalam kondisi hati yang berbunga-bunga. Pipinya merona. Merah jambu.
"Selamat istirahat juga, Nan." Nada melambaikan tangan juga. Yang kemudian melangkah masuk ke dalam hotel. Bunyi juga meninggalkan hotel setelah itu.
__ADS_1
Menyusuri lobi hotel lalu masuk ke dalam kamar, Nada melihat tiga peri centil sudah tertidur pulas. Padahal belum larut malam. Padahal Nada sangat bersemangat ingin cerita tentang hari ini. Tentang perasaan yang akhirnya diucapkan, Bunyi yang penuh dengan kejutan-kejutan, dan sunset itu. Tapi mungkin, tiga peri centil sangat kelelahan hari ini.
Nada melangkah ke satu meja kecil di sudut kamar. Ia sedang mencari buku diary miliknya. Nada ingin menuliskan sesuatu di sana. Menintakan banyak hal. Tapi, ia baru ingat kalau semalam saat kehujanan, buku itu basah dan gak bisa dipakai lagi. Tidak dibuang, Nada menyimpan buku itu di laci meja.
Nada naik ke atas kasur. Merebahkan diri. Memejamkan mata sambil senyum-senyum sebentar mengingat semua hal yang terjadi tadi. Menampilkan wajah Bunyi-nya berulang-ulang kali di dalam pikirannya. Senja itu adalah senja yang terbaik. Dan sekarang, gak akan ada lagi pertanyaan "Nan, kamu ada di mana." Gak akan ada lagi yang kesal karena ditinggal tanpa kabar. Sekarang hanya tentang potongan-potongan hal indah yang akan terjadi.
Bunyi bilang dia mau serius. Dia gak mau main-main lagi dan mau hubungan yang lebih dari pacaran. Untuk perempuan seperti Nada yang udah lama sekali tidak mendengar kata itu atau bahkan memang gak pernah sama sekali, itu sangat mengejutkannya. Setidaknya Bunyi berhasil membuat Nada salah tingkah. Nada juga tau kalimat Bunyi akan mengarah kemana. Nada tau maksudnya apa. Tentu ia bahagia mendengar itu.
__ADS_1
Tapi, bahagia saja tidak cukup. Di umur yang sekarang, mendengar seorang laki-laki yang ingin serius, sebagai seorang perempuan, tetap akan ada banyak hal yang harus dipikirkan. Dipertimbangkan. Apalagi ini tentang hubungan yang serius, tentang sebuah komitmen sama-sama sampai ending cerita. Sebelum semua itu terjadi, Nada pikir mereka harus saling kenal dulu. Karena masih ada banyak hal yang belum mereka ketahui satu sama lain. Enggak. Ini bukan tentang makanan kesukaan, atau alasan seseorang bisa jatuh cinta. Yang ini lebih ke bagaimana masa lalu mereka masing-masing.
Mungkin terdengar tidak masuk akal bagi mereka yang berkomitmen tanpa mempertimbangkan dan memikirkan itu, tapi untuk Nada, dengan begitu mereka bisa saling menerima, mengerti, dan nantinya semua akan berjalan sesuai rencana tanpa ada tuntutan-tuntutan seperti kenapa tidak pernah cerita, atau kenapa enggak pernah saling terbuka.
Nada tertawa kecil. Laki-laki menyebalkan, aneh, penuh kejutan, dan sekarang ceroboh. Membahas hal se-serius itu di jalan pulang menuju hotel, setelah sunset dan semua hal yang baru terjadi tadi, kayaknya terburu-buru, ya. Kayaknya masih terlalu cepat membahas hal itu sekarang.
Malam berlalu. Sinar bulan berangsur-angsur tenggelam. Sekali lagi satu hari berhasil dilewati. Bahkan lebih baik dari hari kemarin. Banda Neira juga jadi yang terbaik. Selalu mengejutkan, dan semoga tidak pernah mengecewakan. Nada tertidur pulas. Suara gemuruh terdengar dari luar. Prediksi cuaca cerah malam ini ternyata salah. Hujan turun sangat deras laiknya air bah yang tumpah tanpa mengenal jeda. Ternyata hujan terlambat turun malam ini.
__ADS_1