Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#46 [Bab. matahari itu tenggelam, nan]


__ADS_3

[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Dunham Froebel - Hideaway, dan Grace Olimpia - Next Part Of The Dream]


Kepulangan itu semakin dekat. Nada akan segera bertemu dengan Bu Ann lagi. Dan kembali ke tempat dimana ia berasal. Rumah yang selayaknya rumah. Tempat yang pernah ditinggalkan namun sekarang menjadi tempat untuk kembali.


Semua tentu tidak mudah. Apalagi, kenangan-kenangan pilu itu dan banyak memori pahit yang masih digenggam Nada dengan sangat erat bisa saja terulang lagi. Tapi, bukankah perjalanan pulang ini memang sudah menjadi takdirnya?


Di dalam bandara, banyak orang lalu-lalang. Ada yang pergi dan ada juga yang datang. Seperti gambaran kecil dari sebuah tampilan kehidupan.


Langkah kaki Nada terhenti. Ia melihat sekitar. Memperhatikan banyak jenis manusia yang dilahirkan dengan perasaan berbeda-beda. Ia tersenyum. Dan memikirkan sesuatu.


Semua manusia itu memang berbeda. Lekukan senyumnya, bentuk wajahnya, atau juga suara tangisannya. Mereka punya semua itu masing-masing. Dan jangan lupakan tentang takdir. Tentu sangat berbeda juga.


Karena setiap dari mereka punya tarikan garis lurus pada kanvasnya masing-masing. Bahkan, tidak ada satupun dari mereka yang mampu menebaknya. Sama seperti Nada. Yang dulu pergi jauh dari Jakarta ke Amsterdam untuk meninggalkan semuanya, tapi sekarang lihatlah. Nada sama sekali tidak pernah menebak atau sekadar berpikir atas kepulangannya malam ini. Sungguh. Takdir adalah sesuatu yang paling tersembunyi.


"Nad, ayo..."


Jeje menghentikan tatapan Nada pada sekitar. Menarik tangan Nada.


Nada mengangguk pelan. Kembali melanjutkan langkah kakinya.


Berjalan beberapa langkah, mereka sampai di loket bandara. Melakukan prosedur Boarding untuk penerbangan internasional. Nada dan yang lain memang harus cepat karena pesawat mereka akan segera lepas landas.


Dan saat setelah selesai melakukan semua prosedur tersebut, termasuk berurusan dengan pihak imigrasi, mereka langsung melangkah ke pintu masuk penerbangan. Tidak menunggu lagi karena panggilan untuk penumpang yang akan menuju ke Jakarta sudah beberapa kali terdengar di speaker bandara.


"Aduh,"


"Eh, maaf."

__ADS_1


Nada terkejut. Seseorang tak sengaja menabrak bahunya. Mungkin karena Nada juga tidak fokus atau memang beberapa panggilan penerbangan itu yang pada akhirnya membuat semua penumpang jadi tergesa-gesa.


"Iya, gapapa." ucap Nada. Melihat orang itu.


"Aku kira tadi kamu turis. Ternyata kamu asli Indonesia." ucap orang ini. Menatap Nada. Tersenyum.


Yang ditatap tersenyum tipis.


Laki-laki yang bernampilan rapi dan terlihat menyandang tas berwarna hitam. Masih muda. Dan mungkin, dia seorang pelajar dari Indonesia karena penampilannya sedikit-banyak menjelaskan tentang itu.


"Kinan." Laki-laki ini menyodorkan tangannya.


"Nada."


"Maaf ya, aku buru-buru tadi. Jadi gak sengaja nabrak."


Kinan mengangguk. "Yaudah kalau gitu aku diluan, ya. Sekali lagi, maaf."


Kinan tersenyum lagi. Lalu pergi meninggalkan Nada.


Sebenarnya Nada kesal karena ada orang asing yang tidak ia kenal tiba-tiba menabraknya. Tapi, ia tau kalau ia juga salah. Ya, karena sejak tadi ia melamun. Memikirkan sesuatu.


Nada melihat ke belakang.


Matanya seperti mencari-cari sesuatu. Bayang-bayang seseorang tergantung di wajahnya. Nada seperti gelisah. Tapi siapa yang ia cari?


Benar. Tebakan kalian benar. Mata itu mencari Bunyi. Nada, memikirkan Bunyi. Sejak tadi. Saat ia sadar bahwa ia belum memberitahu tentang kepulangan ini pada Bunyi. Nada seperti bersalah. Ya, perasaan memang tidak bisa berbohong walau banyak kalimat menjadi alasannya.

__ADS_1


Nada mengambil handphone. Ia mengecek isinya. Nihil. Tidak ada pesan dari Bunyi. Padahal tadi Nada sudah mencoba menghubunginya. Tapi sampai sekarang, Bunyi belum membalas apapun.


Nan, kamu dimana sih? ucapnya dalam hati. Ia menutup handphone-nya.


Dari raut wajahnya, ia benar-benar berharap Bunyi berada di sini. Walau tak akan ikut pergi ke Jakarta, setidaknya Bunyi memberi ucapan doa atau kalimat menenangkan yang lain.


Entahla. Semakin ke sini, perasaan Nada semakin kuat. Padahal ia dan Bunyi baru beberapa saat dipertemukan. Tapi, ya, begitulah salah satu hakikatnya cinta. Tak kenal waktu. Bisa datang dengan sangat singkat. Tak terduga-duga.


"Mikirin Bunyi?"


Lamunan Nada terhenti. Sorotan matanya berbalik. Menoleh. Itu Naira.


"Enggak, Nay." jawab Nada kikuk.


Naira tersenyum. Ia sebenarnya tau kalau sahabatnya itu sedang berbohong. Tapi, cinta tanpa sedikit kebohongan yang manis sepertinya bukan cinta.


"Sahabat gue kayaknya lagi berbunga-bunga banget deh,"


"Nay...."


"Haha, yaudah makanya ayo. Entar ketinggalan pesawat. Jeje sama Una uda naik tuh."


"Iya-iya."


Mereka pun segera melangkah. Menuju pesawat yang akan membawa mereka ke Jakarta. Sebuah ibukota yang menyimpan banyak sekali kenangan bagi seorang perempuan cantik. Setidaknya, perjalanan lima belas jam menuju rumah akan terasa begitu sangat cepat mungkin.


Tapi bisa jadi akan terasa sangat lambat. Karena kekurangan satu hal. Yakni cinta. Yang dibawa melangit namun salah satu nyawanya akan tertinggal. Nada dan Bunyi akan berpisah. Walau mungkin sementara tapi perasaan tetap saja akan menjadi perasaan. Bahkan sedekat apapun dua manusia yang saling mencintai, rindu akan tetap mempunyai ruangnya sendiri.

__ADS_1


Dan kali ini, setelah merasakan perasaan yang telah lama hilang, Nada baru sadar kalau ternyata kerinduan memang berat. Kata berpisah memang menyebalkan walau kembali lagi dengan waktu yang cuma sementara. Tapi, berpisah ya tetap saja berpisah. Sementara atau selamanya, akan selalu berarti meninggalkan dan ditinggalkan.


__ADS_2