
[Rekomendasi Backsound yang pas saat membaca ini : Daniel Caesar feat Kali Uchis - Get You]
Jalanan Amsterdam tampak lengang. Matahari masih bersembunyi dibalik awan. Cuacanya juga sangat sejuk. Vespa biru langit melaju pelan. Di jalan, hanya ada Nada dan Bunyi saja pagi ini.
Dari ekspresi wajah si pengendara vespa, sepertinya dia senang. Karena sejak mereka meninggalkan halaman rumah, Bunyi tampak senyum-senyum sendiri.
Namun, berbeda dengan si penumpang. Di bangku belakang, Nada malah tampak diam saja. Mungkin sedang menyimpan kekesalannya. Atau, barangkali sedang menunggu kalimat pembuka dialog? Kebanyakan perempuan kan memang begitu. Tidak ingin terlihat agresif, apalagi kalau harus membuka kalimat dialog dengan orang yang membuat hatinya kesal.
Tapi, ditengah-tengah senyum serta kesal itu beradu, tiba-tiba vespa menepi. Si biru langit berhenti di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti?" tanya Nada bingung.
"Majuan dikit,"
"Kenapa harus maju?"
"Lo itu emang selalu banyak tanya, ya, Lea."
Laki-laki ini kenapa sih? Nyebelin banget. Sekarang dia malah nyuruh-nyuruh gue.
"Majuan dikit, Lea..." desak Bunyi.
"Gak mau." Nada menolak permintaan itu. Ketus.
Tapi Bunyi malah tersenyum. Menghela napas pelan.
"Yaudah turun dulu." ujar Bunyi. Turun dari vespa. Diikuti Nada juga.
Bunyi mendirikan vespa dengan menurunkan Standar tengah vespa. Lalu dia mengambil sesuatu dari saku celananya. Ia mengeluarkan earphone dan handphone dari saku celana, lalu memberikan salah satu earphone itu pada Nada.
"Pakai..."
Nada menerimanya.
"Ini untuk apa?" tanya Nada bingung. Menatap earphone yang sekarang berada di tangannya, lalu bergantian menatap Bunyi.
Bunyi tidak menjawab. Dia malah senyum-senyum sendiri sembari merapikan kabel putih earphone yang tampak kusut.
Nada bingung. Bunyi tiba-tiba menepikan vespa, lalu turun. Apalagi sekarang malah memberinya salah satu earphone yang sebelumnya diambil Bunyi dari saku celana. Dan saat Nada bertanya, bukannya langsung menjawab, Bunyi malah senyum-senyum sendiri.
"Gue lagi nanya, Bunyi... Kok lo malah senyum-senyum sendiri sih?"
"Enggak, gapapa. Gue cuma bingung aja,"
__ADS_1
"Bingung kenapa?"
"Gue bingung kenapa cewek kayak lo itu, biarpun galak, aneh, nyebelin, tapi kalau marah malah makin cantik..." jelas Bunyi.
Nada menaikkan salah satu alisnya. Kalimat itu, entah sebagai pujian atau hanya sekadar rayuan, tapi bagi Nada keduanya sama saja. Tidak ada bedanya. Terkesan biasa.
Masih memegang salah satu earphone di tangan, Nada melepaskan helm dari kepalanya. Kemudian ditaruh di atas bangku vespa.
"Gue juga bingung sama lo. Sama semua laki-laki yang ada di dunia ini." ujar Nada.
"Bingung kenapa?"
"Bingung karena gombalannya sama semua. Standard..." jelas Nada. Ketus.
Bunyi memalingkan wajah. Tampak berpikir.
"Oke..." ucap Bunyi bersemangat.
Nada bingung. Menatap Bunyi.
"Kenapa siput jalannya lambat?" tanya Bunyi. Semakin memantapkan tatapannya pada Nada.
"Lo ngasih gue tebak-tebakan?" Nada gantian bertanya. Yang wajahnya semakin bingung denga tingkah laku Bunyi.
Bunyi mengangguk.
Sebenarnya mau laki-laki ini apa sih? Kenapa sekarang malah jadi main tebak-tebakan?
"Ayo dijawab... Bisa gak? Tadi katanya gue standard." ledek Bunyi. Tersenyum menatap raut wajah Nada yang masih tampak bingung.
"Karena takdir tuhan..." jawab Nada.
Bunyi tertawa mendengar jawaban dari Nada untuk tebak-tebakan yang dia berikan.
Nada heran.
"Kenapa ketawa?"
Bunyi menghentikan tawanya. Kembali menatap Nada.
"Tadi lo bilang gue standard. Eh gak taunya malah lo yang standard." ucap Bunyi.
"Lagian anak lima tahun juga tau jawaban kayak gitu..." tambahnya.
__ADS_1
Mendengar itu, sampai sudah kebingungan Nada pada puncaknya.
"Ya, kalau bukan itu, terus apa jawabannya?" tanya Nada yang sepertinya malah kesal namun juga penarasan.
Bunyi menyandarkan lengan di setang vespa, melepaskan helm, meletakkannya di atas bangku vespa, lalu kembali menatap Nada.
"Kenapa siput jalannya lambat, karena siput bukan atlet lari."
Nada terdiam. Bunyi pun begitu. Mereka masih saling tatap.
Mungkin Nada berpikir kalau Bunyi adalah laki-laki paling konyol di dunia. Atau sebagai laki-laki paling tidak masuk akal yang pernah ada? Tidak. Malah sebaliknya. Selang beberapa detik setelah Bunyi memberitahu jawabannya, tatapan itu goyang, mereka serentak tertawa.
Tuhan, kenapa gue malah ketawa sih. Lagian kenapa dia bisa receh banget kayak gini.
"Sekarang gue gak standard lagi kan kayak cowok-cowok di seluruh dunia?" tanya Bunyi yang masih terlihat tertawa.
Nada juga masih tertawa, tapi selang beberapa detik setelah Bunyi mengatakan itu, Nada menghentikan laju tawanya.
"Masih," sahut Nada.
Sontak Bunyi menghentikan tawanya juga.
Bunyi bingung kenapa perempuan cantik itu bisa dengan cepat merubah ekspresi wajahnya. Atau mungkin cuma menutupi ekspresi yang sebenarnya saja. Enggan menampilkan yang sejujurnya karena tidak ingin membuat Bunyi jadi besar kepala.
"Receh. Standard..." ujar Nada.
"Anak lima tahun juga bisa ngasih tebak-tebakan kayak gitu." tambahnya.
Kemudian Nada melihat earphone yang sejak tadi ia pegang. Nada memakainya di telinga kiri. Ia lalu mengambil helm di atas bangku vespa, memaikanya juga.
"Gue uda pakai. Ayo..." ujar Nada pelan.
Kalau tadi kebingungan jatuh di wajah Nada berulang-ulang kali, mungkin semua kebingungan itu berpindah jatuh ke wajah Bunyi. Ekspresi wajah Nada yang tadinya galak, dan seperti sangat kesal dengan Bunyi, sekarang malah seperti perempuan cantik, anggun, yang wajahnya dihidupi ribuan bunga tulip siap mekar.
Kecantikan Nada, memang luar biasa. Bunyi hanya menatap saja. Diam. Melihat kecantikan perempuan yang ada di hadapannya sekarang.
"Lo mau diem gitu aja sampai malem?" tanya Nada.
Pertanyaan Nada barusan, menghentikan lamunan takjub Bunyi, yang sekarang memasang earphone di telinga kiri juga, sama seperti Nada. Lalu Bunyi mengambil helm, memakainya.
Menghentikan tatapannya pada Nada, Bunyi menyalakan mesin vespa, menurunkan standar tengah, lalu naik, duduk di bangku depan. Nada pun mengikuti. Duduk kembali di bangku belakang.
Sebelum akhirnya benar-benar melanjutkan perjalanan, Bunyi membuka handphone. Seperti sedang menyetel sesuatu. Benar. Itu adalah musik. Bunyi memutar sebuah lagu. Alunan musiknya terdengar di kedua earphone masing-masing dari mereka. Lagu yang kini membuat Nada tersenyum tipis.
__ADS_1
Selain menyebalkan, ternyata benar kalau Bunyi memang punya selera musik yang luar biasa. Dan selera humor receh yang sama dengan selera humorku juga. Tuhan, enggak. Masih terlalu awal untuk suka padanya. Sembunyikan perasaan ini. Kembalikan detak jantung ini menjadi normal lagi.
Dengan liukan senyum pada kedua tokoh utama pagi itu, vespa biru langit kembali menyusuri jalan. Kembali melanjutkan perjalanan ke tempat yang dituju.