Nada & Bunyi

Nada & Bunyi
#20 [Bab. biru langit dan lima sekawan]


__ADS_3

[Rekomendasi backsound yang pas saat membaca ini : Arvo Pärt, Angèle Dubeau, La Pietà - Spiegel im spiegel]


...• • •...


Alarm berbunyi. Tepat pukul delapan pagi. Bara duduk di ruang tamu, memegang secangkir kopi sembari membaca majalah akhir pekan Amsterdam. Di samping Bara, terdapat satu koper. Bara akan balik ke Indonesia hari ini. Pulang, karena mendapat kabar Pak Tio masuk rumah sakit.


Semalam, setelah pulang dari Blanche, Bara memutuskan untuk bermalam di kediaman adiknya. Tapi sebelum memutuskan bermalam di kediaman Nada yang berada di daerah Beethovenstraat ini, Bara menyempatkan mengambil barang yang ia bawa selama berada di Amsterdam dahulu, di sebuah apartemen daerah tenggara Centrum.


Ketiga sahabatnya Nada juga. Jeje, Naira, dan Una mengambil semua barang-barang mereka, karena Nada menyuruh mereka untuk tinggal bersamanya di sini selama mereka masih berada di Amsterdam.


Bara meletakkan majalahnya di atas meja kaca, menyeruput kopi, lalu beranjak dari sofa. Melangkah ke arah dinding cat putih yang menjadi tempat menempelnya beberapa lukisan, bingkai foto, dan beberapa hiasan bunga, perhatian Bara terhenti pada satu bingkai foto. Bara melihat bingkai itu. Dia mengenal orang-orang yang ada di dalamnya. Itu, bingkai foto keluarga mereka. Dua puluh tahun lalu saat Nada masuk ke Taman kanak-kanak.


Bara menatap foto itu lirih. Adiknya, Nada kecil tampak tersenyum bahagia. Ada Bu Ann, Pak Karso, dan Bara yang tersenyum juga. Saat itu, mereka merayakan hari pertama Nada masuk ke taman kanak-kanak. Bara mengingat semua kenangan itu. Sangat jelas. Wajahnya tersenyum, namun tetap tidak dapat menutupi sakitnya sayatan luka hati yang dirasakannya pada saat itu juga.


Jauh sebelum Pak Karso pergi, Bara dan Nada kecil selalu bahagia setiap hari. Memiliki keluarga utuh. Saling bertukar kasih satu sama lain tanpa harus memikirkan hari-hari sulit.


Dan saat Pak Karso pergi, Bara ingat, hidup mereka hancur sehancur-hancurnya. Terperosok masuk ke dalam jurang kehidupan pahit. Setiap hari adalah hari sulit.


Sebagai anak sulung, Bara sering sekali memberi semangat pada adiknya agar kuat dan terus berusaha untuk menapaki jalan setapak dunia. Walau dalam keadaan yang sama terpuruknya, tapi Bara akan selalu berusaha membuat Nada kecil tersenyum.


Bara memejamkan mata, menghela napas.


Sekarang, Nada kecil sudah menjadi dewasa. Sudah tau mana bahagia, mana yang tidak. Sudah berani mengambil tindakan sendiri dan bertanggungjawab atas resikonya. Tapi yang terpenting, masih saja keras kepala.

__ADS_1


Bara membuka matanya, tertawa kecil.


Sebagai seorang laki-laki, peran Bara tidak hanya sebagai seorang saudara laki-laki saja di dalam hidupnya Nada. Karena setelah Pak Karso pergi, Bara juga diharuskan menjadi seorang Ayah. Yang memberi Nada kecil permen saat sedang menangis. Memberikan selimut saat Nada kecil dihantam angin. Serta memberi sebatang cokelat untuk Nada kecil supaya tersenyum riang.


Menghentikan tatapannya pada foto itu, Bara berbalik badan. Kembali melangkah ke sofa. Duduk, menyeruput kopi sekali lagi, bersandar.


"Mas..." Suara Nada menyapa. Diikuti langkah kakinya mengarah pada Bara.


Bara meletakkan gelas kopi di atas meja.


"Adeknya Mas uda bangun. Mas pikir masih jadi kebo aja." ucap Bara. Tertawa kecil.


Nada duduk di sofa. Tepat di samping Bara. Lantas memeluk Bara pula.


Yang dipeluk malah semakin memantapkan senyumnya.


"Iya... Mas tau persis apa yang udah kamu rasain. Kamu udah gede, kamu berhak nentuin hidup kamu sendiri. Mas juga bahagia kalau melihat kamu bahagia." jawab Bara. Mengelus-elus bahu adiknya.


"Nanti, kalau kamu ke Jakarta, kalaupun kamu gak mampir kerumah, seenggaknya kamu ngabarin Mas, ya. Jangan sampai lupa." tambahnya.


Nada mengangguk. Melepas pelukan itu.


"Pagi-pagi uda bikin mewek aja deh..." Naira ikut bergabung. Melangkah mendekati Nada dan Bara.

__ADS_1


Tapi, setelah Naira sampai di sofa, suara mobil serta klaksonnya terdengar hadir di depan kediaman ini.


"Taksi Mas..." Bara beranjak dari sofa, menyeruput kopi, lalu meraih kopernya.


"Oh iya, Mas lupa."


Bara mengambil sesuatu dari kantong jaket. Itu adalah kunci mobil Bunyi.


"Tadi Mas uda nelfon Bunyi, katanya titipin aja ke kamu. Nih..." Bara memberikan kunci mobil itu pada Nada.


"Yaudah Mas pergi, ya."


Nada mengangguk.


Kemudian mereka melangkah ke arah pintu rumah. Bara membawa koper keluar, Nada dan Naira mengikuti di belakang.


Di depan rumah, taksi yang akan membawa Bara ke Bandara Schiphol tampak terparkir rapi. Di samping taksi itu juga berdiri tegak seorang laki-laki muda kulit putih yang saat melihat kehadiran Bara, dia langsung bergegas melangkah ke arah teras rumah. Supir taksi itu kemudian membantu Bara membawa koper masuk ke dalam bagasi mobil. Bara melangkah perlahan ke dalam taksi.


Nada melambaikan tangannya. Disusul Bara yang ikut melambaikan tangan juga dari dalam taksi.


Setelah supir taksi ikut masuk ke dalam mobil, taksi itu pun menyala. Kemudian perlahan pergi dari depan rumah. Mengantarkan Bara ke bandara untuk kembali pulang ke Indonesia.


Nada menghentikan tatapannya pada taksi yang perlahan semakin menghilang dari pandangan. Ia dan Naira pun kembali masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2