
Apa yang sedang terjadi semesta. Satu pertanyaan yang berputar-putar di dalam hati Nada bersama dengan puluhan pertanyaan lain. Yang salah satunya tentang bagaimana bisa orang ia cari selama bertahun-tahun ada dihadapannya sekarang. Orang yang sangat dirindukan, yang telah lama hilang ada di depan matanya sekarang. Nada tersenyum bahagia. Setetes air mata jatuh tanpa pernah diminta. Ingin rasanya kaki melangkah ke sana. Menyentuh wajah itu, memeluk tubuh itu erat. Menumpahkan lautan rindu yang selama bertahun-tahun lamanya ia genggam.
Nada masih belum percaya kalau orang yang ada di atas panggung itu adalah Pak Karso. Papa-nya. Nada masih tidak habis pikir, bingung kenapa tiba-tiba Pak Karso ada di sini, selama ini ada di mana, atau kenapa semesta baru mempertemukan mereka sekarang. Nada menyeka ujung matanya. Semua pertanyaan itu tidak penting. Karena yang paling penting sekarang adalah naik ke atas panggung. Memeluk Papa-nya, melepas rindu pada bagian penting yang telah lama hilang itu. Nada menyeka ujung matanya sekali lagi. Tetes demi tetes air mata bahagia jatuh lagi. Menghela napas. Nada ingin segera naik ke atas panggung. Ia sudah tak tahan lagi menahan rindu itu.
Tapi, gak tau kenapa saat Nada ingin melangkah, langkah kakinya tersangkut. Nada menoleh. Ternyata Bunyi menarik tangannya. Hampir saja Nada lupa kalau ia sedang bersama dengan Bunyi. Hampir saja Nada lupa semua hal tentang mereka hari ini. Bunyi mendekat, Nada melupakan panggung sebentar.
"Semesta mempertemukan kita di waktu yang sama sekali gak pernah kita pikirkan atau tempat yang gak pernah kita janjikan, Lea. Karena memang semesta yang mengatur semuanya." Bunyi menggenggam tangan Nada. Dia juga masih memegang cincin itu, yang kemudian diperlihatkan dan menjadi titik fokus pandangan mereka berdua.
Nada melirik panggung sebentar lalu kembali menatap Bunyi lagi. Biarlah. Biarlah laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya dulu. Menyampaikan maksud dari hari spesial untuk mereka walau Nada sudah tau kalimat Bunyi akan mengarah ke mana. Lagipula tak ada salahnya menunggu beberapa menit. Di atas panggung sana Pak Karso juga gak akan pergi ke mana-mana lagi. Malah sekarang tampak sedang bersiap tampil dengan Cikal. Mereka duduk di dua organ yang berbeda. Semua personel band juga bersiap. Di layar televisi besar, Bu Mira berdiri tepat di samping Pak Karso.
"Sekarang, biarkan aku menyelesaikan bagianku." Bunyi menurunkan satu kaki---berlutut. Masih menggenggam tangan Nada.
Di atas panggung, Cikal memulai pertunjukan itu. Memainkan satu sampai tiga bar not dengan tempo lambat. Gesekan biola menyambut setelah itu. Berjalan berdampingan. Semua penonton hening. Terbius. Tak ada tepuk tangan sama sekali.
__ADS_1
"Senja ini mungkin tak secantik senja kemarin, tapi mungkin akan jadi yang terbaik. Karena di dalamnya ada bagian paling indah yang pernah ada." Bunyi menunduk sebentar. Memegang cincin itu, lantas kembali menatap Nada lagi.
"Lea, maukah kamu jadi bagian yang paling indah itu?" Cincin itu berada di depan jari manis Nada sekarang. Bunyi bersiap menaruhnya di sana.
Nada tersenyum pasti. Ternyata kejutan spesial itu memang tentang sebuah lamaran. Hatinya senang bukan main. Malah saking senangnya, Nada diam beberapa saat. Speechless. Meski belum ia jawab, tapi dari wajahnya jelas sekali terlihat kalau Nada ingin berkata iya.
"Nan," Nada berkata pelan.
"Sebelum aku jawab, boleh gak aku tanya sesuatu sama kamu?" Wajah Nada malu-malu. Bunyi tersenyum lalu berdiri seutuhnya.
Nada menunduk sebentar. Di atas panggung, instrumen-instrumen itu telah sampai pada pertengahan lagu. Suasana masih hening. Tapi sekarang isakan tangisan-tangisan kecil terdengar sayup. Entah kenapa banyak penonton berderai air mata.
"Kenapa harus sekarang, Nan?" Nada bertanya pelan. Penasaran.
__ADS_1
Bunyi melihat kanan-kiri, "Karena aku pikir sore ini Banda Neira pantas jadi saksi tentang kita, Lea." Bunyi tersenyum, "Dan---"
"Dan apa, Nan?"
"Aku pikir sekarang waktu yang pas karena Papa sama Mama aku ada di sini, Lea."
Nada mengernyitkan dahinya. Papa?
Satu lagu dari atas panggung yang mungkin jadi lagu penutup festival sudah selesai. Dan pada saat itu juga Nada langsung menatap panggung. Suara tepuk tangan penonton akhirnya terdengar lagi. Walau tak terdengar keras, tak gemuruh seperti sebelum-sebelumnya. Tapi hal itu tentu bukan karena lagu penutup festival itu tidak bagus. Melainkan karena terlalu bagus untuk berakhir. Banyak air mata berjatuhan dimana-mana. Cikal dan Pak Karso selesai. Festival akhirnya berakhir.
"Sebenarnya alasan aku dan Mama datang ke Banda Neira untuk melihat penampilan pertama Papa setelah bertahun-tahun berada di rumah. Tapi ternyata semesta memberi lebih." Bunyi menjelaskan sambil tersenyum. "Ternyata semesta juga memberi kamu dan semua hal tentang kita."
Seketika Nada terdiam. Tubuhnya langsung gemetar mendengar itu.
__ADS_1
"Aku udah gak sabar nunggu respon mereka, Lea. Respon mereka saat nanti tau kalau calon menantunya itu kamu." Bunyi tertawa kecil. Menggenggam tangan Nada. Tersenyum lepas.