
"Lea." Bunyi memalingkan wajah dari panggung. Menatap Nada sambil tersenyum, "Kamu tau alasan kenapa aku bilang hari ini akan jadi hari spesial untuk kita?"
Nada mengedikkan bahu. Menggeleng tak tau. Apa alasannya?
Bunyi tersenyum lagi. Pada saat yang sama, di atas panggung Cikal mulai menyapa penonton. Ternyata festival belum benar-benar selesai. Ternyata Cikal belum menyelesaikan penampilannya.
"Terima kasih untuk tiga hari yang hebat. Terima kasih karena sudah bersedia menyaksikan festival sampai bagian akhirnya. Dan untuk saya, saya teramat bangga diberi kesempatan menjadi bagian selama tiga hari yang sangat indah di Banda Neira ini. Sekali lagi, terima kasih." Cikal menunduk. Memberi hormat.
Seluruh penonton bertepuk tangan. Respect.
__ADS_1
"Tapi," Cikal berdiri tegak. Kalimatnya belum usai. "Jika kalian pikir festival ini akan ditutup oleh beberapa lagu yang saya mainkan tadi, maka kalian salah." Cikal tersenyum. Jelas sekali terlihat di layar televisi besar panggung.
"Sepuluh tahun lalu, seseorang tanpa sengaja memperkenalkan musik jazz pada saya. Singkat cerita, karena beliaulah saya jadi tertarik dan ada sampai posisi sekarang. Jika bisa dibilang siapa orang yang paling berjasa di hidup saya, maka orang itu adalah dia. Yang sudah saya anggap seperti orangtua sendiri, guru, bahkan legenda tanah air." Cikal memejamkan matanya. Tersenyum lagi.
Di tengah-tengah kerumunan penonton, nada mencoba menelisik. Melihat Cikal dari kejauhan. Nada tidak mendengar jelas apa yang disampaikan Cikal barusan. Fokusnya terbagi dua. Sekarang Bunyi berdiri dihadapannya. Berulang-ulang kali tersenyum menatapnya. Bunyi juga memperlihatkan sesuatu setelah itu. Sebuah kotak kecil. Lalu dibuka perlahan. Nada kaget. Sebuah cincin.
Sementara itu, Nada tentu ikut bingung. Bahkan sangat penasaran. Tapi di sisi lain, Bunyi yang kembali menggenggam tangannya, sebuah cincin yang sekarang ada diantara mereka, membuat Nada tidak bisa fokus menatap panggung. Sekarang matanya sepenuhnya milik Bunyi.
"Aku mau sesuatu yang lebih dari sunset kemarin, Lea." Bunyi mengeluarkan cincin itu dari dalam kotak. Tersenyum lebar.
__ADS_1
Nada ikut tersenyum juga. Jantungnya berdetak cepat. Di sela-sela kebahagiaan yang ia rasakan, Nada juga memikirkan sesuatu. Mungkin yang dimaksud Bunyi tentang kejutan hari spesial untuk mereka adalah ini. Mungkin petang ini Bunyi akan melamar Nada. Tapi entah kenapa tiba-tiba Nada kembali menatap panggung. Entah kenapa Nada tidak lagi memikirkan cincin itu, hari yang dijanjikan Bunyi sebagai hari spesial untuk mereka, dan tidak merespon sepenggal kalimat Bunyi tadi dengan sepatah kata pun.
"Berikan tepuk tangan yang paling meriah. Sambutlah... Pak Karso!" Cikal berteriak lantang. Mengarahkan tangannya ke kiri lantas menghadap ke kiri pula.
Semua penonton bertepuk tangan. Sebagai yang paling meriah petang ini.
Sempurna sudah sang surya tenggelam di balik awan. Nada terdiam kaku di posisinya. Tubuhnya gemetar. Sekarang sorot matanya hanya milik panggung. Kenapa Cikal menyebutkan nama itu. Nada melangkah perlahan. Dua langkah ke depan. Tak sadar. Meninggalkan Bunyi yang mungkin sedang menunggu sebuah jawaban. Suara tepuk tangan penonton belum berhenti. Malah semakin keras saat melihat dua orang bergabung di atas panggung. Melangkah hati-hati.
Wajah keduanya ditampilkan di layar televisi besar panggung. Dan betapa kagetnya Nada saat melihat salah satu dari wajah itu. Wajah yang sangat ia kenal. Nada mengedipkan matanya berulang-ulang kali. Mencoba memastikan lagi. Papa. Nada mendesis di dalam hati. Di atas sana, Pak Karso dan Bu Mira persis berdiri di area depan panggung. Menatap lautan penonton. Tersenyum.
__ADS_1