
Tiga minggu setelah peristiwa 'sepatu maut'
Anna berjalan menuju tempat duduknya sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Terlihat sekali perempuan itu sedang sebal, namun tidak bisa melampiaskan ke orangnya langsung.
Anna duduk di kursi lalu menenggelamkan wajahnya di meja.
"Huhuhu...," tangis Anna membuat orang di sampingnya mengalihkan perhatiannya dari novel ke dirinya.
"Eh bhangke, lo kenapa pagi-pagi udah nangis?" tanya Deana menatap Anna seolah Anna adalah makhluk asing.
Anna bangkit lalu menatap Deana yang ikut terperanjat karena gerakan Anna yang tiba-tiba.
"Deanaa...," tangis Anna tanpa mengeluarkan air mata.
"Gue rindu hidup damai yang biasa-biasa aja," ucap Anna ingin memeluk Deana namun kepalanya ditahan duluan.
"Berhenti peluk-peluk!"
Anna mengerucutkan bibirnya lalu menggeser kursinya mendekati Deana.
"Help me...," cicit Anna memasang tampang melas.
"Muka lo gak usah dimelas-melasin. Udah melas tau gak," ketus Deana melirik sinis Anna.
Anna memajukan bibirnya.
"Gue cium juga lo."
Ucapan Anna membuat Deana merinding. Deana melanjutkan aktifitas membaca bukunya. Sementara Anna kembali menenggelamkan wajahnya di atas meja.
Kalau diingat-ingat, seminggu yang lalu hal yang membuat masa SMA Anna berubah seratus delapan puluh derajat, cukup membuat Anna shock. Kejadian yang terjadi setelah Nahyan berkata 'jangan hilang dari pandangannya'.
Anna menjadi babu dari Bule Sawah itu.
Ingat, B-A-B-U babu. Bukan pacar seperti di novel-novel atau apalah itu.
Emang ya, ekspektasi sama realita itu beda.
Anna menghela napas lalu memilih memejamkan matanya. Melupakan sejenak masalah hidupnya dengan Nahyan.
BRAK!
"Yang namanya Anna! Tolong!"
" Tolong jinakkan macan ngamuk!"
Teriak beberapa orang yang memasuki kelas Anna dengan kasar. Mereka terlihat terengah-engah.
Anna yang tidak mengerti dengan situasi hanya diam bengong dengan mulut yang menganga.
"What?!" teriak Anna saat mereka bertiga menyeret Anna menuju keluar kelas.
"Deanaaa... tolongin gueee!" teriak Anna meminta pertolongan. Sedangkan yang dimintai pertolongan hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Deana kembali membaca novel seperti sediakala. Gadis ini, kalau sudah asyik dengan novel-nya mendadak males gerak plus congek-an.
"Ayo, cepet!" ucap seorang cowok dengan rambut cepak yang mendorong Anna dari belakang.
"Ck, iya sabar!" jawab Anna sambil cemberut.
...***...
Anna perlahan menghentikan langkahnya saat mencapai kelas 12 A-7, sebab melihat kekacauan yang dibuat oleh bajing-an gila, yang sekarang sedang mengangkat kursi dan membantingnya ke depan hingga mengenai papan tulis.
Anna menelan saliva-nya.
Aku siapa? kamu siapa?
Seseorang menepuk pundak Anna dari arah belakang, cowok berambut cepak yang mendorongnya dari belakang ke tempat antah berantah ini.
__ADS_1
"Cepet jinakin!" bisiknya dengan nada suara yang menyebalkan.
Anna melirik sinis cowok itu.
"Kenapa gak panggil Guru sih?!" ujar Anna yang merasa kesal. Perset-an dengan rasa takut.
"Udah. Cuma Guru-Guru pada nyerah," sela cowok botak.
"Cepet jinakin! Gue tau cuma lo yang bisa buat si Boss tenang. Lo kan pawangnya."
Anna menyipitkan matanya.
"Ta...."
Set!
Tangan bocah cepak itu mendorong tumbuh Anna ke depan.
Anna menatap cowok itu dengan sengit, sedangkan bocah cepak itu hanya memberikan jempol lalu membuka mulutnya seolah berkata 'semangat' lalu menutup pintu kelas dan meninggalkan Anna berdua dengan si cowok bar-bar.
Anna melayangkan jari tengahnya sebelum pintu benar-benar tertutup.
Brak!
Nahyan berbalik dan mendapati sosok Anna yang berdiri canggung di dekat pintu. Lagi-lagi, manik amber itu membuat Anna terpaku.
Warna emasnya yang menyilaukan meski hanya terpantul oleh cahaya lampu, benar-benar mata yang mampu membuat siapa saja tunduk padanya.
"Bangzat!" umpat Nahyan setelah memalingkan wajahnya.
Anna menelan saliva-nya saat menangkap umpatan dari bibir kissable milik Nahyan. Entah sudah keberapa kali dia menelan saliva setelah tiba di tempat terkutuk ini.
"Ngapain lo ke sini, hah?!" tanya Nahyan dengan nada suara yang meninggi.
Mendengar bentakan dari Nahyan, Anna terperanjat hingga mundur beberapa langkah.
Dimata Anna, yang di depannya saat ini bukanlah seorang manusia, tapi seekor singa yang sedang menunjukkan taringnya. Sekarang, keselamatan dirinyalah yang paling penting.
Saat Anna ingin menggapai Nahyan, ditariknya kembali tangannya saat mendapat pelototan dari manik mata amber tersebut. Anna melirik wajah Nahyan.
"Apa?!" kata Nahyan yang sensi-nya melebihi cewek yang sedang PMS.
Dengan keringat dingin, Anna memberanikan diri menarik ujung baju bagian bawah Nahyan.
"I-ikut gue yuk!" ajak Anna dengan suara gemetar.
"Ngapain? Sana pergi!" usir Nahyan.
Anna cemberut.
"Sebentaaar...," suara Anna mengecil saat menatap mata Nahyan yang menatapnya tajam, "aja." sambungnya sambil menundukkan kepalanya.
Nahyan menaikkan sebelah alisnya.
"Sana pergi!" usir Nahyan sambil mendorong bahu Anna agar pergi sekarang juga.
"Tapi...."
Nahyan mendorong bahu Anna sekali lagi.
"Udah sana!"
Anna melangkah pelan, lalu menoleh ke arah Nahyan yang wajahnya masih terlihat marah.
Anna memasang tampang memelas dengan mata yang berkaca-kaca. Dan itu tidak luput dari perhatian Nahyan.
Setelah sebulan lebih hampir 24 jam berada di dekat Nahyan, membuat gadis itu mengerti bahwa Nahyan tidak seburuk yang digosipkan, dan juga tidak seburuk saat Anna melihat Nahyan menghajar 14 orang sendirian.
Kenyataannya, Nahyan itu sangat peduli pada orang-orang disekitarnya meski cara dia menunjukkannya terbilang menyebalkan dan seringkali membuat orang-orang salah paham.
__ADS_1
Nahyan mengusap wajahnya gusar saat melihat wajah Anna yang menurut cowok itu mirip kucing.
For your information, Nahyan yang merupakan cowok macho sebenarnya adalah pecinta kucing.
Setelah berdecak sebal Nahyan berkata, "Ck! Ayo!"
Nahyan berjalan mendahului Anna. Senyum Anna tercetak lebar di wajahnya.
Anna reflek menutup sebelah matanya saat Nahyan membuka pintu dengan kasar.
"Ini orang gak bisa slow apa ya?" batin Anna.
Anna memandangi punggung lebar milik Nahyan.
Anna tegas kan kembali Nahyan itu sangat menyebalkan, apalagi kalau sikap bossynya sedang kambuh. Rasanya dia ingin memotong-motong tubuh Nahyan menjadi potongan-potongan yang kecil. Namun, dia akui Nahyan sangatlah tampan.
Sisi lain dari Nahyan yang bandel, cowok itu memiliki segudang prestasi. Baik akademik dan non akademik. Mungkin itulah yang membuat Nahyan bisa menarik banyak perhatian perempuan di sekolah ini, tentunya mengesampingkan rumor kalau Nahyan adalah cowok sadis.
"Liat punggungnya aja udah terpesona, apalagi liat senyum dan tawanya," gumam Anna.
Bruk!
Anna menabrak sesuatu yang keras di depannya, tentu saja bukan tembok. Yang benar adalah punggung Nahyan.
Nahyan memutar tubuhnya menghadap Anna.
"Sebenernya, gue yang ikut lo atau lo yang ikut gue?" tanya Nahyan untuk menyindir Anna.
Anna memajukan bibirnya.
"Siapa suruh galak-galak," gerutu Anna yang masih bisa di tangkap oleh telinga Nahyan.
Nahyan tersenyum samar. Gadis di depannya ini benar-benar mood booster-nya.
Nahyan berdeham pelan.
"Lo mau ngajak gue kemana?" tanya Nahyan dengan kalem.
Tumben gak teriak-teriak.
"Fabian dan Suga tadi chat gue. Lo ditungguin di Warung Emak," jawab Anna.
Sedetik setelah Anna mengatakan itu, wajah Nahyan berubah menjadi sangat-sangat datar dan tatapan matanya mendingin.
"Ya," singkat Nahyan lalu berjalan lurus sengaja menabrak bahu Anna.
"Nahyan!" panggil Anna sambil mengikuti cowok itu dari belakang.
"Hm."
"Warung Emak lewat sana," ucap Anna sambil menunjuk ke arah belakang dengan jari telunjuknya.
Sontak Nahyan berhenti berjalan. Nahyan menatap Anna sebentar, lalu memutar balik arahnya.
"Gu-gue tau," gugup Nahyan.
Anna hanya tertawa pelan dengan sembunyi-sembunyi. Maklum, Singa itu kan harga dirinya setinggi langit.
°°°
Bersambung...
NEXT? ❤🌟👍💬
Like, Comment, rate 5 nya ya 😢
Biar aku semangat update-nya ❤
Salam hangat,
__ADS_1
Juecy.bell
19 Agustus 2020